Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Qur'an

Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Qur'an
Salah satu ciri khas pesantren di Jawa pada umumnya adalah mengaji kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharakat (kitab gundul). Ada juga yang menyebutkan kitab kuning, karena sebagian besar kitab-kitab klasik itu dicetak dengan kertas berwarna kuning. Kiai menerjemahkan per kata (lafadz) dengan memperhatikan kedudukan masing-masing lafadz dalam susunan kalimat. Santri mengikutinya dengan mencatat terjemahannya di bawah lafadz asal. Dengan model pengajian ini, santri tidak sekadar mengetahui terjemah lafadz, namun juga mengetahui kedudukan masing-masing lafadz baik menurut kaidah nahwu maupun sharaf, sehingga pemahaman mereka atas makna teks menjadi lebih dalam.

Lafadz yang berkedudukan sebagai subyek (mubtada’) pasti disebut terjemahnya adalah utawi, sedangkan yang berkududukan sebagai predikat (khabar) selalu disebut terjemahnya adalah iku. Hal ini berlaku dalam kalimat nominal (jumlah ismiyyah). Jika susunannya adalah kalimat verbal yang terdiri dari (fi’il dan fa’il), maka terjemah lafadz kerja (fiil) pasti akan diikuti keterangan waktu lampau, sekarang atau akan datang (wus, lagi, arep). Jika kedudukan lafadz itu menjadi subyek (fa’il), maka pasti dengan tegas terjemahnya diucapkan dengan ungkapan sapa (jika subyek berakal) atau apa (jika subyek tidak berakal). Ada banyak lagi contoh terjemah yang menujukkan kedudukan lafadz dalam suatu kalimat, misal, ing menujukan obyek, halih menunjukkan hal, apane menunjukkan tamyiz, rupane menunjukkan badal dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Model pengajian seperti ini secara sistematis telah melatih santri atau murid menjadi peka terhadap struktur kalimat (tarkib) dan perubahan i’rabnya. Struktur minimal kalimat adalah terdiri dari subyek dan predikat, sedangkan yang lengkap adalah subyek, predikat, obyek dan keterangan. Hal ini juga berlaku pada bahasa Arab. Adapun i’rab adalah perubahan akhir kalimat dalam bahasa Arab karena perbedaan unsur (‘amil) yang memasukinya baik secara tampak lafadznya maupun secara perkiraan. Misalnya lafadz al-kitaab; dalam keadaan tertentu lafadz itu harus dibaca al-kitaabu, al-kitaaba, atau al-kitaabi karena menempati kedudukan yang berbeda.        

Mungkin karena diidentikkan dengan Al-Qur'an yang berbahasa Arab, kajian teori gramatika bahasa Arab di pesantren selama ini dipersepsi sebagai sesuatu hampir-hampir sakral. Buktinya tingkat senioritas kompetensi santri seringkali dilekatnya dengan berapa banyak bait-bait nadham kitab Imrithy atau Alfiyah ibn Malik. Tidak semua pesantren menganjurkan atau bahkan mewajibkan santri menghafal Al-Qur'an, tapi sebaliknya santri terkondisikan untuk menghafal bait-bait nadham dalam kedua kitab itu, padahal ia bukan kitab suci yang membacanya bernilai ibadah (almuta’abbad bi tilaawatihi).

Didorong semangat untuk melestarikan tradisi keilmuan dan pembelajaran di pesantren seperti ini, Muhammad Afifuddin Dimyathi (Gus Awis), pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang menyusun sebuah buku berbahasa Arab dengan judul, Shafaaul Lisaan Fii I’raabil Quraan. Buku ini memang ditujukan untuk para pemula dalam studi bahasa Al-Qur'an, khususnya para santri dan mahasiswanya, sehingga hanya berisi analisis i'rab tiap lafadz dan kalimat ayat-ayat Al-Qur'an yang terpilih dengan menggunakan metode i'rab yang telah dikenal di pondok pesantren. 

Penyusun buku ini sepertinya ingin memadukan antara penguasaan gramatika bahasa Arab dan pembelajaran kitab suci Al-Qur'an, sehingga sikap santri dalam menyakralkan ilmu diarahkan secara tepat pada kitab suci Al-Qur'an. Kitab Imrithy atau Alfiyah ibn Malik memang penting untuk belajar gramatika bahasa Arab, namun tidak sepatutnya disakralkan melebihi penyakralan terhadap kitab suci Al-Qur'an.

Penyusun buku ini yang juga alumnus MAPK/MAKN Jember menganalisis kandungan i’rab tiga surat Al-Quran pilihan, yaitu: QS. Al-Fatihah, QS. As-Sajadah, dan Al-Insan. Ketiga surat ini sangat populer di pesantren, khususnya di pesantren Gus Awis, karena sering dibaca khususnya dalam shalat Shubuh hari Jumat. Dengan obyek kajian tiga surat al-Quran itu, pembaca buku ini diharapkan memperoleh dua manfaat sekaligus. Manfaat pertama adalah pembaca akan mampu belajar mendalami penarapan ilmu nahwu dan sharaf. Manfaat kedua adalah membaca, belajar dan memahami ayat-ayat dan  kandungan kitab suci Al-Qur'an yang secara langsung memiliki nilai ibadah.     

Menurut penyusun buku ini ketiga surat Al-Qur'an tersebut memiliki variasi i’rab yang sangat beraneka macam, sehingga merepresentasikan i’rab yang terkandung dalam seluruh ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan mengkajinya, maka pembaca akan mempu memformulasikan i’rab yang terdapat dalam ayat dan surat yang lain secara mandiri.      

Kompetensi menganalisis i’rab suatu kalimat sangat diperlukan dalam kajian tafsir Al-Qur'an. Ketidaktepatan analisis i’rab bisa mengubah makna secara fatal. Sebagai misal, dalam QS. Fatir ayat 28, seharusnya makna yang tepat adalah hanya saja yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya adalah ulama. Makna ini diperoleh jika lafadz Allah dalam ayat itu dibaca Allaaha. Sebaliknya maknanya bisa berubah sangat fatal, jika lafadz Allah dibaca Allaahu, sehingga terjemahnya menjadi hanya saja Allah takut kepada hamba-hambaNya yang ulama. Lafadznya sama, namun jika dibaca Allaaha atau Allaahu, ternyata maknanya sudah bertentangan 180 derajat. Oleh karena itu ilmu I’rab menjadi salah satu ilmu penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an khususnya. 

Selama ini analisis i’rab seringkali hanya digunakan untuk membedah kalimat bahasa Arab biasa. Melalui bukunya ini dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengajak pembaca untuk langsung menerapkannya dalam analisis ayat-ayat Al-Qur'an. Ini adalah karya yang patut diapresiasasi karena menjadi sarana mempopulerkannya dalam kajian-kajian bahasa Arab. Santri atau murid tidak sekadar membaca dan menganalisis kalimat bahasa Arab biasa, namun langsung diarahkan kepada analisis bahasa kitab suci Al-Qur'an yang mengandung berbagai keutamaan yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab biasa.

Alhasil, siapa saja yang membaca dan mempelajari kandungan buku ini pasti akan melakukan dua aktifitas mulia sekaligus, yaitu mengaji dan mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an. Pembaca juga akan mendapatkan sisi sakral dan gramatikal di dalam buku ini. Jika penasaran, silakan miliki dan membacanya sendiri untuk membuktikannya.  

Data Buku
Judul Buku : Shafaaul Lisaan Fii I’raabil Quraan
Penulis         : Muhammad Afifuddin Dimyathi
Penerbit         : Lisan Arabi
Alamat           : Sidoarjo, Jawa Timur
Cetakan         : Pertama : 2016 M / 1437 H                              
Halaman : 117 halaman

Peresensi
Nine Adien Maulana, Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA Negeri 2 Jombang

Pustaka Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya