Oleh Alhilyatuz Zakiyah Fillaily
Puisi ini terangkai atas bimbingan alam yang mengajarkan apa artinya kehidupan, menyadari kenapa mereka suka ke Pantai, ke Gunung? Hingga penulis melihat awat di sana, dan awan itu begitu setia. Kesetiaannya merasuki penulis untuk mengabadikannya.
I
Aku terbangun menilik fajar
Menantikan peran orang-orang
Begitu orang-orang selalu begitu
Memang orang-orang memang
Aku menyaksikan burung-burung
Aku menyaksikan tanaman-tanaman
Aku menyaksikan awan-awan
Aku mendengar kicauan paling jujur
Aku mendengar tanaman paling diam
Aku mendengar awan paling setia
Tetapi aku tak dapati itu pada jasad-jasad
Yang menjelma di sekolah, di bank, di pasar,
Begitu…
Aku rasa burung, tanaman, awan
Membutuhkan cahaya bukan
Begitu selalu mencari kebenaran
Mendekati cahaya-cahaya
Berpikirkah orang-orang tentang jogetan puspita alam?
Keislaman yang selalu dihirup, dipandang, didengar
Benar orang-orang tak jiwai malaikat-malaikat
Tetapi bisakah sedetik saja menikmati kehadiran panca indera
Supaya tak berkumpul noktah-noktah yang setan bersyukur jika menyatu
Lalu menghitam memburamkan, menutup hijab
Mereka saja selalu mendekati cahaya
Orang-orang mari menjamah mereka
Biar Allah-Allah selalu menjelma
II
Aku tak punya apa-apa
Aku tak dilahirkan seperti yang senantiasa memuja
Sering aku sombong, membangkang, melukai
Aku hanya punya kata
Yang mengabadikan semuanya
Hingga termenungku untuk pada jawaban
Mancari dan mencari, menghayati
Detik ini memikirkanMu Yang Maha Pengasih
Yang Maha Cinta, aku berterimakasih
Kataku melahirkan ucapan syukur
Tetapi aku hanya punya kata
Yang sejenak mengobati kerinduan panjangku
Sering muncul dan kembali muncul
Seperti itu selama aku di sini
Ya Allah… Yang Maha segalanya
III
Kadang sajakku hambar, tak berasa
Kadang ku buang, ku hapus
Berkali-kali… satu dua tiga
Ah… kembali lagi menjamah
Lagi menulis… kenapa begini?
Kembali sampai malam tak mendapati
Hingga ternyata Sang Kata di sini
Beralam bertasbih… ALLAH MAHA
Begitu kadang menjelma
IV
Pantai, kenapa harus ada buih?
Kamu tahu???
Pernah mendengar pujian pengakuan?
“Ilaahilastu lil firdusi ahlaaa…”
Yang awal syairnya seperti itu…
Ingat? Yah begitu ngilmu laut…
Begitu kenapa Dia menciptakan buih!
V
Gunung-gunung…
Wahai para pendaki apa sih yang kau cari?
Setelah mendaki apa sih yang kau kenang?
Tenaga kau habiskan, demi gunung
Pernahkah sambil membayangkan
Perbedaan para pendaki dan yang bukan
Seharusnya para pendaki lebih paham
Bagaimana nikmatnya Allah berada,
Dan jauh lebih kencang mencintai apa yang diciptakan
Dan aku sengaja tak mengakhiri dengan titik (.) sebagai tanda baca
Sebagai pesan bahwa aku inging selalu menghadirkan melalui kata
Little Netherlands, 6 Januari 2017
Terimakasih atas pembacaan yang dilakukan oleh siapa saja. Semoga senantiasa menjadi makhluk perasa karena Dia Yang Maha Segalanya melahirkan kita dengan rasa.
Penulis adalah mahasiswi Jurusan Hukum Pidana dan Politik Islam, UIN Walisongo Semarang. Pegiat Sastra LIKSA (Lingkar Kajian Sastra) LPM Justisia.