Obituari

Gus Umar Fayumi Kajen Pati, Sosok Kiai Muda Aktivis-Penulis

Ahad, 3 September 2023 | 06:00 WIB

Gus Umar Fayumi Kajen Pati, Sosok Kiai Muda Aktivis-Penulis

Gus Umar Fayumi (memegang mikrofone) saat mengisi forum kajian. (Foto: Tangkapan layar YouTube Bale Rombeng)

Jakarta, NU Online
Warganet masih diliputi kesedihan atas berpulangnya KH Abdullah Umar Fayumi (Gus Umar), Pengasuh Pesantren Raudlatul Ulum Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Gus Umar wafat di RSUD Kariadi Semarang, Kamis (31/8/2023) malam akibat kecelakaan pada Juli kemarin.


Gus Umar Fayumi merupakan sosok kiai muda yang cerdas, aktivis, sekaligus penulis. Siapa sebenarnya sosok nyentrik ini dan bagaimana kiprahnya di masyarakat?


Muhammad Za'im Jaelani, santri sekaligus sahabat karib yang menemani Gus Umar saat kecelakaan sempat bercerita dan memberi testimoni. Sebelumnya, mereka berdua mengalami kecelakaan di tol Kendal arah Semarang selepas mengisi pengajian halaqah dan latihan di sejumlah pesantren.


“Yaitu Pesantren El-Karim Lebak, Rangkas Bitung. Setelah itu, Pesantren Al-Hasaniyah Teluk Naga, Tangerang, dan beberapa tempat di Depok dan Bekasi,” ungkap Za'im.


"(Kejadiannya) Tanggal 19 Juli sebelum Subuh," sambungnya saat dihubungi NU Online, Jumat (1/9/2023).


Za'im menceritakan bahwa Gus Umar memiliki sejumlah halaqah yang tersebar di banyak tempat. Selain Banten, Jakarta, Bekasi dan Depok, juga di Yogyakarta, Surabaya, Madura, bahkan Papua.


"Di tempat lain juga banyak. Terutama yang paling banyak di daerah Pati sendiri," ungkapnya.


Saat ditanya tentang materi kajian Gus Umar di sejumlah forum halaqah itu, Za'im menyebut banyak ragamnya.


"Antara lain mengkaji Tafsir Saintific, Tafsir Pertanian, Tasawuf Hadlari, Tasawuf Imam Ghazali, Syekh Abdul Qadir Jaelani, Ibnu Araby, dan lain-lain," tutur Wakil Ketua PCNU Pati ini.


Testimoni di medsos
Di sejumlah kanal media sosial, warganet membuat catatan atau unggahan tentang kiai muda yang akrab disapa Gus Umar ini. Dalam berita sebelumnya telah disebutkan bahwa ia merupakan putra pendiri Pesantren Raudlatul Ulum Kajen, Margoyoso, Pati, yakni KH Ahmad Fayumi Munji dan Nyai Hj Yuhanidz Fayumi.


Dalam catatan Jamal Makmur Asmani, alumnus Perguruan Islam Mathali'ul Falah (PIM) Kajen, Gus Umar setelah menyelesaikan studi di PIM Kajen melanjutkan rihlah ilmiah-nya ke Pondok Ma'hadul Ulum As-Syar'iyyah (MUS) Sarang, Rembang, di bawah asuhan KH Abdurrohim.


Ketika lanjut studi di pesantren itu, Gus Umar diajak silaturahim sang ayah ke ndalem KH Maimoen Zubair yang merupakan sesepuh Pondok Sarang dan putra guru ayahnya. KH Ahmad Fayumi Munji adalah murid KH Zubair Dahlan, ayah KH Maimoen Zubair.


Selama kurang lebih setahun Gus Umar bergumul dengan kitab kuning yang menjadi spesifikasi Pondok Sarang. Setelah itu, Gus Umar melanjutkan pengembaraan intelektual ke Makkah al-Mukarramah untuk mendalami ilmu Hadits kepada Syekh Ahmad, seorang ulama hadits yang masyhur.


"Selama 8 tahun Gus Umar bergumul dengan ilmu-ilmu keislaman, khususnya Tafsir dan Hadits, sehingga kepakarannya dalam dua bidang ini diakui banyak pihak," tulis doktor jebolan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.


Sosok penulis
Sahal Mahfudh, alumnus PIM Kajen lainnya memberi testimoni bahwa Gus Umar merupakan sosok penulis kitab kuning. Sudah tentu karya itu berbahasa Arab. Dalam catatan Sahal, di antara karya Gus Umar Fayumi berjudul: Funun al-Sa’adah fi tahqiq al-hayah al-tayyibah ‘ala dhaui ushuli al-hikmah al-khalidah atau Seni Kebahagiaan untuk mewujudkan hidup yang baik sesuai dengan dasar-dasar kebijaksanaan abadi.


"Kedua, Futuhat al-Nur (Ter-Futuhnya Cahaya). Sebuah syiir berbahar Thawil yang berkisah tentang pengalaman spiritual Gus Umar Fayumi. Kagem (kepada) beliau KH Abdullah Umar Fayumi, Sang Maha Guru Kecerdasan Cosmic, Al-Fatihah,” tulis Sahal dalam postingan di akun Facebook-nya Sahal Japara pada Kamis malam Jumat kemarin.


Terhadap unggahan itu, salah satu dari 330 penyuka status Sahal menambahkan bahwa ada satu judul lagi. Yaitu, Qawafil al-Tha’ah fi Hukmi Shalati al-Jama’ah. "Niki ugi, Gus," kata Ahmad Muchlisin.


Akun Bunda Ak-za juga mengomentari bahwa syiir karya Gus Umar sangat dahsyat. "Masya Allah syiir-syiirnya membuatku merinding. Teringat kisah ibnu Araby saat mengalami jadzbah," tulisnya seraya menambahkan emoticon menangis.


Gus Umar juga aktif sebagai pengajar di Lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) Kajen, dekat pesantren yang didirikan ayahnya.


Diberitakan kemarin, Gus Umar menghembuskan nafas terakhir di RS Kariadi Semarang, pada Kamis (31/8/2023) malam sekira pukul 20.05 WIB. Keesokan harinya, Jumat (1/9/2023) jenazahnya dimakamkan di Kajen, Margoyoso, Pati pada pukul 9 pagi.


Hingga hari kedua wafatnya, ungkapan bela sungkawa dan testimoni di sejumlah kanal medsos ramai. Terutama membicarakan kiprah dan kenangan bersama sang kiai muda. Selamat jalan, Gus.. Al-Fatihah.