Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Yenny Wahid: Jalan Sufisme Sangat Dibutuhkan di Masa Pandemi

Yenny Wahid: Jalan Sufisme Sangat Dibutuhkan di Masa Pandemi
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid. (Foto: dok. istimewa)
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid. (Foto: dok. istimewa)

Jakarta, NU Online

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menyebut, jalan sufisme sangat dibutuhkan di masa-masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Sebab prinsip utama tasawuf adalah sebuah perjalanan menuju Allah. 


“Kita kemudian mencari cara dengan mengikuti thariqah, mencari jalan dengan mengikuti riyadhah atau tirakat tertentu sebagai upaya menuju Allah. Nah dalam masa pandemi ini, sufisme menjadi jalan yang justru sangat kita butuhkan,” ungkapnya.


Pernyataan itu diungkapkan pada webinar bertajuk ‘Spiritualitas dan Gender dalam Tasawuf’ yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan dalam rangka Harlah ke-95 NU, disiarkan langsung di 164 Channel, Rabu (3/2) malam. 


Jalan sufisme menghendaki agar seorang salik (pejalan) memiliki kehidupan yang lebih asketik atau zuhud, sehingga memiliki ketenangan batin. Menurut Yenny, ketenangan batin itu memiliki pengaruh terhadap meningkatnya daya tahan tubuh seseorang. 


“Banyak orang yang tidak pernah pergi ke mana-mana, tidak menerima tamu, dan tidak bergaul selama pandemi, tapi tetap bisa juga kena Covid-19. Itu karena stres (tekanan batin),” ungkap putri ketiga KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini. 


Tekanan batin, lanjutnya, telah diakui bisa menurunkan daya tahan tubuh. Sebaliknya, seseorang yang gemar berzikir dan bertafakur dengan mengingat Allah, akan mengalami peningkatan kekebalan tubuh. 


“Ini salah satu hal lain yang menjadi hikmah dari pandemi. Kita menjadi lebih teliti dengan hal-hal yang lebih penting, yang semula tidak pernah dibicarakan, yaitu soal ketenangan batin,” jelas perempuan bernama lengkap Zannuba Ariffah Chafsoh ini. 


Di masa pandemi, orang-orang pada hakikatnya sedang diingatkan bahwa kehidupan di dunia sangat fana. Allah berikan virus yang sangat kecil, manusia sudah tunggang-langgang, repot, dan menjadi takut melakukan banyak hal. Padahal, kata Yenny, virus itu tak kasat mata.


“Jadi momen pandemi ini adalah momentum mendekat kepada Allah, untuk mengasihi sesama manusia, dan mengakrabi kembali keluarga kita. Tasawuf  bisa diwujudkan dalam sehari-hari,” katanya.


Menurut Yenny, dalam menempuh jalan sufisme, tidak semua orang bisa ikut thariqah atau memiliki kesabaran untuk melakukan zikir di malam hari, dan riyadhah atau tirakat selama berhari-hari.


“Tapi mungkin lewat jalan seperti pandemi ini, kita bisa lebih mendekat kepada Allah dan lebih menguatkan diri kita, baik secara fisik maupun batin, agar kita semua bisa keluar dari pandemi ini dengan lebih kuat,” harapnya.


Sementara itu, Pakar Tasawuf KH M Luqman Hakim menjelaskan bahwa puncak dari menjadi makrifat (mengenal Allah) adalah ketika seseorang kembali menjadi salik. Namun jalan yang ditempuhnya tentu saja beda. Orang-orang makrifat akan menempuh jalan dengan cahaya, ampunan, dan ridha Allah. 


Oleh karena itu menurut Kiai Luqman, sesuatu paling mendasar dalam dunia tasawuf adalah sebuah kerelaan. Di benak dan hati seorang salik, harus ada kerelaan hati karena telah diciptakan Allah dengan berbagai fungsi yang membersamai.


Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa di dalam dunia tasawuf, Allah tidak pernah melihat atau menilai kehebatan seseorang. Tingkat kemakrifatan seseorang tidak diukur dari maqamat (kedudukan) atau keramat (kemuliaan). 


“Tapi yang dinilai adalah kerelaan. Ridha atau tidak seseorang itu diposisikan Allah di posisi yang rendah. Kalau dia ridha, itu sebenarnya dia sedang melejit. Sebaliknya, jika berada di posisi tinggi tapi tidak ridha, dia hina,” jelas Pengasuh Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat ini.


“Ketika ada keinginan, saya ingin jadi wali misalnya, itu malah turun dia (dalam penilaian Allah). Karena ada nafsu kesenangan tersembunyi. Belum menjadi abid (hamba) yang sesungguhnya,” ujarnya.


Sebab menurut Kiai Luqman, di dalam dunia tasawuf tidak ada pembeda antara laki-laki dan perempuan. Karena yang ditekankan adalah soal bagaimana menjalankan kehambaan dan menegakkan hak-hak Allah secara benar. 


“Jadi ada dua hal yang diburu para sufi, yakni menjadi hamba Allah yang benar dan menegakkan hak-hak ketuhanan. Jadi Allah itu punya sejumlah predikat yang tak terbatas. Nah kehambaan kita yang menegakkan ketuhanannya,” papar Kiai Luqman.


Cendekiawan Muslim Haidar Bagir menyebutkan, di dalam Islam tidak ada sama sekali perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kecuali kodrat biologis. Karena itu, keduanya punya kesempatan yang sama untuk mencapai ketinggian derajat di mata Allah.


“Jadi kalau ada perbedaan (antara laki-laki dan perempuan), itu hanya semata perbedaan yang bersifat biologis dan memiliki konsekuensi yang juga bersifat biologis. Tapi dalam hal-hal lain, tidak ada halangan sama sekali bagi siapa pun untuk mencapai derajat tinggi,” kata Haidar. 


“Kita semua punya kesempatan sama untuk mencapai ketinggian derajat dalam hal apa pun. Baik itu profesional, keilmuan, bahkan bisnis. Termasuk di dalam persoalan mencapai maqam kesufian,” pungkasnya. 


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Fathoni Ahmad


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya