Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Tips Berkomunikasi Efektif dengan Anak Menurut Najeela Shihab

Tips Berkomunikasi Efektif dengan Anak Menurut Najeela Shihab
Praktisi pendidikan keluarga, Najeela Shihab. (Foto: instagram Najeela Shihab)
Praktisi pendidikan keluarga, Najeela Shihab. (Foto: instagram Najeela Shihab)

Jakarta, NU Online 

Bagikan tips parenting, praktisi pendidikan keluarga, Najeela Shihab menyebut bahwa komunikasi efektif sebagai indikator utama membangun hubungan baik anak dan orang tua. Terkadang saat berkomunikasi banyak orang tua hanya sekedar hadir tanpa melibatkan emosi positif untuk mengerti kebutuhan sang anak, kerap kali justru ditemukan nasehat-nasehat yang dapat memblokir obrolan sehingga anak enggan melanjutkan percakapan. 


Padahal menurut Najeela, sangat penting bagi anak perasaannya didengarkan oleh orang tua dengan menunjukkan rasa empati.


"Cara yang lebih efektif dalam berkomunikasi adalah refleksi pengalaman. Jadi, ganti nasihat yang menghambat komunikasi dengan cerita yang merefleksikan pengalaman untuk memperlancar komunikasi," kata Najeela di acara Talk Parenting, Senin (24/5).


Pada saat berkomunikasi dengan keluarga, terkadang orang tua ragu dan secara tidak sengaja melontarkan kata-kata kurang tepat bernada tuduhan yang dapat melukai perasaan anak.


"Padahal kita bisa menyatakan perasaan kita, misalnya, ibu khawatir kalau kamu pulang terlambat. Jadi kita menggunakan perspektif orang tua untuk menyampaikan pesan kita kepada anak," terang perempuan yang akrab disapa Ela ini. 


Lebih lanjut, Ela menerangkan bahwa komunikasi yang kurang tepat dan cenderung menghakimi bisa menjadi pemicu anak untuk berkata bohong. Hal itu disebabkan karena pendapatnya tidak didengar sehingga anak merasa tidak percaya diri dan memutuskan untuk mencari alasan lain dengan berbohong. 


"Anak berusia di bawah 2 tahun belum tahu bahwa ia melakukan kesalahan bila berbohong, anak usia 3-5 tahun seringkali sulit membedakan antara realitas dan imajinasi, dan anak-anak di usia sekolah biasanya berbohong untuk memecahkan masalah karena mereka takut dimarahi oleh guru dan orang tuanya," terang Ela.


Ketika mengetahui anak berbohong hal yang penting adalah mengendalikan emosi untuk tidak memarahinya dengan mencari tahu alasan yang melatarbelakangi perilakunya itu. 


Tips Mengatasi Anak Yang Suka Berbohong


Sebagai psikolog, Ela menyarankan pada saat mengetahui anak berbohong pada saat itu pula peran orang tua dibutuhkan untuk mengajarkan kejujuran dengan memperhatikan empat faktor. 


Pertama, ada konsekuensi pada setiap kebohongan. Kedua, ketahui alasan mengapa anak berbohong. Ketiga, beri teladan anak tentang kejujuran.


Keempat, jelaskan manfaat kejujuran bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk lingkungan sekitar. 


"Berbicara tentang kejujuran kita ingin menumbuhkan hubungan keluarga yang kuat yang tidak diisi dengan kebohongan. Anak yang jujur tidak terlahir dari nasihat, tapi ia lahir dari teladan kedua orang tuanya. Anak yang jujur butuh pemahaman dan butuh pembiasaan yang terus-menerus," ujar Founder Sekolah Cikal ini. 


Kemudian, ia menyampaikan bahwa jika metode komunikasi ini berhasil diterapkan, maka komunikasi antar-keluarga akan lancar dan hangat. Ia pun berharap kiranya orang tua bisa hadir dengan sepenuh hati dan sepenuh tubuh dalam mendampingi perjalanan anak-anaknya. 


Kontributor: Syifa Arrahmah 

Editor: Fathoni Ahmad



Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya