Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Video Tokoh Hikmah Arsip Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Daerah Cerpen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Internasional Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan

Satgas Covid-19: Waspada! Efek Omicron Lebih Dahsyat daripada Delta

Satgas Covid-19: Waspada! Efek Omicron Lebih Dahsyat daripada Delta
Ketua Satgas Covid-19 Malang Raya, dr Syifa Mustika. (Foto: Istimewa)
Ketua Satgas Covid-19 Malang Raya, dr Syifa Mustika. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Ketua Satgas Covid-19 Malang Raya, dr Syifa Mustika, menyebutkan bahwa efek varian terbaru bernama Omicron dipercaya lebih dahsyat dibandingkan varian Delta. Pasalnya, penyebaran Omicron bisa berkali lipat. Oleh karena itu, publik harus waspada.


“Penyebarannya yang cepat membuat Omicron, varian terbaru dari virus Corona, langsung diklasifikasikan sebagai variant of concern (VoC)/varian yang diwaspadai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” terang dr Syifa kepada NU Online, Kamis (2/12/2021) malam.


Ia menjabarkan, virus varian ke-15 dari keluarga besar Coronavirus ini pertama kali ditemukan di Afrika Selatan. Oleh WHO, digadang-gadang sebagai varian yang memiliki banyak strain atau mutasi, melebihi strain dari varian Alfa, Beta, hingga Delta yang masih mendominasi saat ini.


“Oleh peneliti, varian Omicron disebut memiliki lebih dari 30 mutasi protein lonjakan yang dapat digunakan untuk mengikat sel inangnya. Jumlah tersebut terbilang cukup besar karena setara dengan dua kali lipat dari varian Delta,” papar Dokter yang juga praktek di RS Lavalette dan RS Hermina Malang itu.


Penulis Buku Kupas Tuntas Vaksin Covid-19 itu juga menyampaikan bahwa ada beberapa poin yang perlu ditelaah terkait varian Omicron ini.


“Pertama, kemampuan mutasi. Varian Omicron memiliki lebih dari 30 mutasi yang jumlahnya dua kali lipat dari varian delta. Hal ini juga menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari virus corona asli yang dijadikan acuan untuk mengembangkan vaksin,” terang dr Syifa.


Kedua, lanjut dia, Omicron pertama kali terdeteksi melalui genomic sequencing atau upaya untuk mengetahui penyebaran mutasi virus SARS-Cov2 atau Covid-19.


Ketiga, kemampuan penyebaran yang sangat cepat. Bahkan menurut dr Syifa, kemunculan Omicron ini berpotensi menjadi barrier (penghalang) dalam penanggulangan pandemi. Sekaligus menjadi penanda gelombang baru kasus Covid-19.


“Kemampuan mutasi yang mengkhawatirkan itu membuat WHO menobatkan varian ini sebagai VOC/patut diwaspadai,” ujar Anggota Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU) ini.


“Hal itu juga yang menjadikan Omicron sebagai varian paling kompleks sejauh ini,” imbuh dr Syifa.


Kontributor: Syifa Arrahmah
Editor: Musthofa Asrori



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×