Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Penganugerahan Doktor Kehormatan Ibu Sinta Bentuk Penghargaan pada Kemanusiaan

Penganugerahan Doktor Kehormatan Ibu Sinta Bentuk Penghargaan pada Kemanusiaan
UIN Kalijaga Yogyakarta dijadwalkan akan memberikan anugerah doktor kehormatan kepada Dra Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Gedung Serbaguna kawasan UIN Sunan Kalijaga pada Rabu (18/12).
UIN Kalijaga Yogyakarta dijadwalkan akan memberikan anugerah doktor kehormatan kepada Dra Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Gedung Serbaguna kawasan UIN Sunan Kalijaga pada Rabu (18/12).
Jakarta, NU Online
Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dijadwalkan akan memberikan anugerah doktor kehormatan kepada Dra Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid atas jasa-jasanya dalam membangun kerukunan masyarakat. Pemberian anugerah ini akan dilakukan pada Rabu, 18 Desember 2019 di Gedung Serbaguna kawasan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. 

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi menjelaskan, pemberian anugerah kehormatan ini merupakan penghargaan atas sepak terjang Ibu Sinta Nuriyah dalam menjembatani perbedaan dalam masyarakat.

“Alasan pertama pemberian Doktor Honoris Causa yang paling utama adalah atas jasa beliau dalam mengembangkan kerukunan, gerakan perempuan, dan gerakan dalam moderasi Islam,” kata Prof Yudian Wahyudi pada NU Online, Selasa (17/12). 

Selain itu, Yudian melanjutkan, penganugerahan ini diharapkan terus menyalakan semangat para pejuang kemanusiaan yang lain untuk memperjuangkan kerukunan dalam masyarakat Indonesia, sehingga berdampak pada berkurangnya ketegangan antarkelompok masyarakat. 
“Akan memacu orang lain sebagai teladan, untuk memberikan semangat pada tokoh dalam berjuang. Harapannya ke depan, moderasi keagamaan terutama dalam Islam meningkat dan dapat mengurangi kekerasan antarkelompok.

Pada dasarnya, kata Yudian, Indonesia telah memiliki konsensus moderat antara suku bangsa di Indonesia. Konsensus ini yang menjadi ‘pengikat’ antara perbedaan, baik suku, agama, budaya, dan perbedaan lainnya.

Perbedaan-perbedaan itu, terutama perbedaan agama, lanjut Yudian, dijadikan sebagai bahan bakar atau kendaraan politik yang menyebabkan benturan antar masyarakat. “Kondisi ini sangat memprihatinkan. Kita melihat kerasnya politisasi agama. Demi hanya meraih kekuasaan jangka pendek, sekelompok orang mengorbankan kepentingan yang lebih besar dan jangka panjang,” jelasnya.

Apa yang dilakukan oleh universitas yang dipimpinnya adalah bagian dari upaya membangun narasi atas praktik baik atau best practices dalam kehidupan berbangsa. Membangun cerita baik seperti itu, menurutnya, sudah dicontohkan dalam Al-Qur’an melalui kisah-kisah baik termasuk kisah para nabi. 

“Upaya membangun cerita baik tentang keberagamaan ini, pada dasarnya, sebagaimana Al-Qur’an membangun cerita ‘Qososul Ambiya’ (cerita-cerita para nabi) yang diangkat dari kisah masa lalu untuk dicontoh dan diaplikasikan oleh umat selanjutnya,”jelasnya.

Cerita-cerita itu diharapkan menjadi cerita sukses dan menginspirasi masyarakat lebih jauh dan pada akhirnya mengurangi konflik dalam masyarakat terutama akibat politik identitas. 

Pewarta: Ahmad Rozali
Editor: Muchlishon


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya