Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Puasa adalah 'Menep'

Ngaji NgAllah Suluk Maleman: Puasa adalah 'Menep'
Pengasuh Ngaji Suluk Maleman, Habib Anis Sholeh Ba'asyin. (Foto: dok. Suluk Maleman)
Pengasuh Ngaji Suluk Maleman, Habib Anis Sholeh Ba'asyin. (Foto: dok. Suluk Maleman)

Pati, NU Online

Suluk Maleman seri ke-112 kali ini bertepatan dengan bulan Ramadhan 1442 H. Sebuah pesan penting pun tersirat dalam Ngaji NgAllah seri dari rumah saja tersebut. Dalam pandangan Habib Anis Sholeh Ba’asyin, budayawan yang menjadi narasumbernya, ibadah puasa yang tengah dijalani umat Islam saat ini salah satunya mengajarkan untuk menep.


Suluk Maleman kali ini memang mengambil tema “Menepi”. Tema itu dipilih lantaran tepat saat menyambut Ramadhan seperti sekarang ini. Dengan menepi maka seseorang bisa diartikan menarik diri untuk menarik diri dari keramaian.


“Dengan menarik diri dari keramaian maka kita bisa menep, artinya diam atau tenang. Mengendapkan semua kekeruhan untuk menjadi jernih. Kebetulan kata menep yang diserap bahasa Indonesia dari bahasa Jawa ini punya arti yang sangat dekat dengan kata shaum atau shiyam dalam bahasa Arab,” ujar Habib Anis membuka diskusi.


Bila telah mampu menep, maka seseorang itu akan mampu lebih bijaksana atau dewasa. Karena orang dapat melihat dan menangkap nilai-nilai yang terkandung dalam sebuah peristiwa sebelum bereaksi. Oleh karenanya manusia butuh menepi agar dapat menep untuk menemukan arti puasa.

 


“Kita sering menemukan peristiwa tertentu. Dibohongi orang misalnya. Kita tahu dan marah. Itu mungkin reaksi normal. Tapi setelah sekian waktu dan bisa menep, kita bisa mengambil hikmah dan memberi makna yang berbeda dan lebih dalam. Kenapa hal itu bisa terjadi, misalnya. Setelah menep, reaksi kita dalam menyikapi peristiwa serupa tentu akan berbeda; menjadi lebih bijak,” jelas Habib Anis.


Bagi Habib Anis, reaksi seseorang terhadap peristiwa itulah yang menunjukkan seberapa menepnya dia. Puasa itu sendiri menjadi jalan untuk memudahkan dalam memfermentasi nilai-nilai kehidupan.


“Pengalaman hidup, jika semakin lama diendapkan tentu akan semakin kuat dalam melahirkan pemaknaan dan memahami nilai-nilai,” ujarnya.


Dengan menep juga diharapkan membuat orang tidak kagetan dengan apa yang dilihatnya sehingga keliru dalam bereaksi. Hal itu lantaran seringkali apa yang dilihat tidak sesuai dengan kenyataan. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini.

 


“Di media sosial, meski tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi, orang begitu mudah ngomong apa saja. Mudah menghakimi. Kalau orang bisa menghakimi orang lain, tentu tidak perlu ada pengadilan akhirat. Padahal tidak seperti itu,” tegasnya.


Dia pun mengingatkan, hanya dari melihat jejak digital, banyak yang menganggap orang itu sesuai apa yang telah dilakukan pada masa lampau. Padahal hal itu tak sesuai dengan konsep Islam. Meski sepuluh tahun lalu pernah berbuat kesalahan, asalkan mau bertobat, maka seseorang akan kembali menjadi nol. Hal itulah yang tidak berlaku di konsep jejak digital.


“Imam Syafii mengingatkan untuk jangan menghukumi orangnya tapi perbuatannya. Perbuatan itu sendiri kontekstual; ada ruang, waktu, dan kejadiannya. Perbuatannya bisa saja salah, tapi bukan berarti orangnya akan salah terus. Bukankah itu kebijaksanaan dari orang yang sudah menep?” ucap Habib Anis.

 

​​​​​​​Baca juga: Suluk Maleman: Dunia Jadi Kanak-Kanak Kembali


Untuk itulah, puasa juga mengajari untuk kembali menjadi manusia. Puasa mengajak untuk menahan diri. Terutama untuk hal-hal yang berdampak buruk. Puasa melatih membuat orang menep dengan output kedewasaan dan kebijaksanaan.


“Kenapa harus menahan diri? Terkadang manusia itu merasa tahu semuanya dan ingin ikut berkomentar, ikut campur. Akhirnya ini membuat permasalahan menjadi mubal. Menjadi keruh atau tidak jernih. Dalam kaitan ini, menep akan membuat orang memahami bahwa pada dasarnya dia punya keterbatasan pemahaman. Karena tidak mungkin kita paham pada semua hal,” tegas dia.


Meski berlangsung lebih dari tiga jam, namun peserta yang mengikutinya lewat berbagai kanal media sosial tetap tampak antusias. Koleksi musik Sampak GusUran juga turut menghangatkan gelaran Suluk Maleman tersebut.


Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya