Home Nasional Warta Esai Khutbah Daerah Cerpen Fragmen Ubudiyah Seni Budaya Sirah Nabawiyah Keislaman Internasional English Tafsir Risalah Redaksi Opini Hikmah Video Nikah/Keluarga Obituari Tokoh Hikmah Arsip Ramadhan Kesehatan Lainnya

Meski Ada Vaksin, Jangan Kurangi 3M dan 3T

Meski Ada Vaksin, Jangan Kurangi 3M dan 3T
Ketua PBNU Bidang Kesehatan dan ahli epidemiologi, dr Syahrizal Syarif mengatakan kondisi pandemi di Indonesia masih fluktuatif. Beberapa daerah masih tinggi angka terpapar Covid-19.
Ketua PBNU Bidang Kesehatan dan ahli epidemiologi, dr Syahrizal Syarif mengatakan kondisi pandemi di Indonesia masih fluktuatif. Beberapa daerah masih tinggi angka terpapar Covid-19.

Jakarta, NU Online
Dalam waktu dekat ini, Pemerintah akan melakukan program vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat Indonesia. Program ini merupakan upaya penanganan pandemi Covid-19 yang sampai dengan saat ini belum reda bahkan cenderung terus mengalami peningkatan. 


Menurut Ketua PBNU Bidang Kesehatan yang juga ahli epidemiologi dr Syahrizal Syarif kondisi pandemi di Indonesia masih fluktuatif. Beberapa daerah masih tinggi angka terpapar Covid-19. DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua, Papua Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat masih sangat tinggi. Jika diperbandingkan, risiko tertular Covid-19 di DKI Jakarta mencapai delapan kali Jatim, delapan kali Jateng dan sepuluh kali Jabar.  

 
"Persoalan vaksin dan vaksinasi ini dapat disimpulkan selain kondisi fluktuatif,  pemeriksaan spesimen masih rendah dan kapasitas pemeriksaan tidak merata. Vaksin memang merupakan harapan namun masih memiliki berbagai tantangan. Namun, yang lebih penting adalah meski ada vaksin, jangan sampai perilaku 3M dan 3T (testing, tracking dan treatment) disepelekan dan dikurangi," tegasnya. 


Terkait dengan vaksin sendiri, dr Syahrizal menegaskan masih banyak isu yang perlu dijelaskan. Pertama, terkait perihal pengadaan vaksin yang cukup menjadi perbincangan nasional.

 

"Masalah akses terhadap vaksin dengan berbagai skema harga dan nilai penjualan sebelum akhirnya diputuskan bahwa vaksin digratiskan. Kaum dhuafa dan miskin harus diprioritaskan. Mereka yang sulit mendapatkan akses terhadap vaksin," ungkap Pembina Perhimpunan Dokter NU ini.

 
Kedua, prioritas pemberian vaksin yaitu masyarakat yang berusia 18-59 tahun dan orang sehat. Ketiga, masih soal prioritas dan tujuan vaksinasinya. Keempat, masih ada isu terkait penerimaan masyarakat terhadap upaya vaksinasi. Kelima, terkait apa yang mesti dilakukan dan bagaimana mitigasinya pasca-program vaksinasi. 


Pemaparan ini disampaikan dr Syahrizal pada webinar Forum Kesehatan Nusantara  yang diadakan Masyarakat Profesional Santri (NU Circle) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter NU, NUCareer, dan Bank Syariah Mandiri, Jumat (18/12).

 

Kegiatan bertema Vaksin Covid-19 dan Prioritas Vaksinasinya ini menghadirkan Juru Bicara Vaksin Covid-19 Kementerian Kesehatan Dr Siti Nadia Tarmizi dipandu moderator Ketua Bidang Kesehatan NUC  Prof Budi Wiweko.


Dalam kesempatan tersebut, Prof Budi Wiweko menegaskan, NU Circle akan terus melaksanakan Webinar Kesehatan dalam bingkai kegiatan Forum Kesehatan Nusantara hingga tahun 2021. Webinar ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan bisa mengedukasi masyarakat luas.  

 
"Kita ikut berkontribusi dalam mengatasi pandemi ini dengan berbagai terobosan kegiatan. Mudah-mudahan FKN ini mendapatkan dukungan baik oleh pemerintah maupun swasta," ujarnya. 


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×