Nasional RISET BALITBANG KEMENAG

Ma'had Aly dan Tantangan Mengembangkannya

Ahad, 14 Juli 2019 | 02:00 WIB

Ma'had Aly dan Tantangan Mengembangkannya

Kegiatan Ma'had Aly Lirboyo (Foto: twipu.com/mahadalylirboyo)

Di tengah-tengah kuatnya arus masyarakat untuk memilih perguruan tinggi umum, mengembangkan pendidikan Mahad Aly tentu bukalnah hal yang mudah. Apalagi kebanyakan masyarakat masih mengutamakan perguruan tinggi umum sebagai pilihan untuk melanjutkan pendidikan tingginya, karena alasan kualitas dan lulusan yang dianggap mampu mengisi sektor penting dalam kehidupan.
 
Hal yang demikian ini maka Ma'had Aly sebagai perguruan tinggi pesantren juga harus mampu dan memiliki peran untuk mencetak lulusan yang mempunyai daya saing dan memiliki kompetensi terutama dalam mengahadapi persaingan global. Dengan mempunyai kemampuan ini diharapkan masyarakat akan mampu melirik dan memilih Ma'had Aly sebagai pilihan pendidikan tinggi bagi anak-anaknya.

Agar mampu menjawab tantangan global, Mahad Aly juga perlu mengadaptasi dan merelevansi berbagai perkembangan kebutuhan pendidikan setiap lapisan masyarakat, sehingga pentingnya keberadaan lembaga pendidikan tinggi ini dapat dirasakan oleh seluruh segmen masyarakat.

Tantangan pendidikan Ma'had Aly, selain harus mengokomodasi kebutuhan pendidikan masyarakat, juga harus mampu menjaga nilai-nilai dan tradisi pesantran yang tumbuh dan berkembang seiring hadirnya pesantren itu sendiri, terutama tercermin pada disiplin keilmuan yang diajarkan.
 
Artinya, tantangan real pendidikan Ma'had Aly adalah harus menjawab dan mengakomodasi kebutuhan masyarakat yang lebih luas, dengan tidak serta merta mengasingkan diri dari karakteristiknya yang lebih subtantif sebagai lembaga pendidikan tinggi pesantren dan tidak meninggalkan nilai-nilai dan tradisi pesantren yang menjadi kekhasannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Pendidikan Dasar (Penda) Balitbang Diklat Kemenag RI pada tahun 2018 tentang pengembangan Ma'had Aly yang dilaksanakan di 25 Mahad Aly di Indonesia memberi kesimpulan tentang beberapa tantangan dalam pengembangan Ma'had Aly di Indonesia. Tantangan-tantangan itu adalah, pertama, sebagian besar Ma'had Aly masih mencari dan merumuskan format pengelolaan pendidikan, baik secara akademik maupun kelembagaan; sebagian besar pengelolaan Ma'had Aly belum memiliki pemahaman yang memadai tentang standarisasi penggelolaan pendidikan tinggi; hampir seluruh komponen kependidikan Ma'had Aly belum memenuhi standar pendidikan sebagaimana diamanatkan di dalam regulasi tentang standar Ma'had Aly.

Berikutnya, pada beberapa Ma'had Aly, kemampuan mengkaji kitab kuning tidak dijadikan sebagai syarat tes masuk. Pengelola lebih mengutamakan jumlah pendaftar sebanyak-banyaknya, sehingga mahasantri teridentifikasi tidak memiliki kemampuan yang memadai dalam penguasaan kitab kuning.

Kemudian,  pada beberapa Ma'had Aly, persentase antara mata kuliah bidang kekhususan dengan mata kuliah pada umumnya relatif seimbang. Padahal semestinya mata kuliah bidang kekhususan lebih banyak daripada mata kuliah umum.

Selain itu, pengadaan tenaga pengajar yang memiliki kapasitas keilmuan sesuai dengan pilihan progan studi, belum sepenuhnya bisa dilaksanakan.
 
Untuk menjawab tantangan ini maka pengelola Ma'had Aly harus memiliki langkah-langkah jitu agar Ma'had Aly kedepan bisa tampil lebih baik dan bisa menjawab apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Terutama, Ma'had Aly harus berbenah diri secara interen. Hal untuk memperbaiki kualitas Ma'had Aly dari dalam lembaga itu sendiri.
 
Langkah-langkah yang bisa dilakukan seperti rekruitmen calon mahasantri Ma'had Aly perlu dilakukan lebih selektif agar tujuan Ma'had Aly bisa tercapai, akreditasi Ma'had Aly, moratorium pembukaan Ma'had Aly serta peningkatan kapasitas dosen Ma'had Aly dengan memberikan beasiswa S2 dan S3, dan juga perlu peningkatan budaya akademik melalui penelitian dan pengelolaan jurnal.

Dengan melakukan langkah ini diharapkan Ma'had Aly lebih mampu bersaing dengan perguruan tinggi umumnya lainnya dan mampu menjawab tantangan untuk terus menghasilkan lulusan yang menguasai ilmu-ilmu keislaman (mutafaqqih fiddin).
 
Penulis: Ahmad khalwani
Editor: Kendi Setiawan