Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Kursus Keluarga Bahagia Bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara 

Kursus Keluarga Bahagia Bersama 20 Ulama Perempuan Nusantara 
Menikah itu mempertemukan aku dan kau menjadi kita, sehingga satu sama lain jika baik berembuk bersama, jika buruk tidak melakukannya.
Menikah itu mempertemukan aku dan kau menjadi kita, sehingga satu sama lain jika baik berembuk bersama, jika buruk tidak melakukannya.

Jakarta, NU Online 
Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) bersinergi dengan Mubadalah mengadakan Kelas Intensif Ramadhan 1442 H 20 Hari bersama 20  Ulama Perempuan Nusantara. Berbalut tema Kursus Keluarga Bahagia Kitab Manba'ussa'adah, kelas resmi dibuka Jumat (16/4) oleh Nyai Badriyah Fayumi dan KH Faqih Abdul Qodir melalui Fanpage Mubadalah.id. Kegiatan tersebut juga ditayangkan melalui Fanpage Mubadalah setiap pukul 13.00 WIB. 

 

Kitab Manba'ussa'adah sendiri berisikan pokok-pokok pemikiran para ulama perempuan yang dipimpin oleh Nyai Hj Shinta Nuriyah Wahid, yang banyak merujuk kepada prinsip-prinsip Islam rahmatan lil alamin yang disertai prinsip akhlak mulia.

 

"Prinsip-prinsip ini harus hadir sejak dalam kehidupan berkeluarga, terutama dalam konteks hubungan relasi suami istri, jadi, kitab ini merujuk pada prinsip-prinsip tersebut, lalu kemudian diterjemahkan dalam relasi suami istri," kata Kiai Faqih dalam pidato pengantarnya.

 

Diterangkan pula oleh Kang Faqih, sapaan akrabnya, bahwa risalah ini hadir sebagai jawaban atas keinginan para santri di berbagai pesantren yang menginginkan kitab berbahasa Arab yang dapat merepresentasikan relasi suami istri dalam berkeluarga.

 

"Karena membangun keluarga itu harus membangun seluruh anggota keluarga yang ada di dalamnya. Nah, kitab ini sangat baik untuk menyusun atau merencanakan berkeluarga yang anggotanya satu sama lain mempunyai sikap, prinsip, relasi yang mubadalah (kesalingan) atau musyarakah. Jadi, menikah itu mempertemukan aku dan kau menjadi kita, sehingga satu sama lain jika baik berembuk bersama, jika buruk tidak melakukannya," jelasnya.

 

Oleh karena itu, secara umum kitab ini merupakan bentuk perhatian kepada pasangan suami istri dalam menjalani kehidupan berkeluarga untuk saling menguatkan, berbahagia dan juga membahagiakan. Kang Faqih juga berharap Kajian ini menjadi sarana terpancarnya aura kebahagiaan dalam mewujudkan kehidupan berkeluarga yang berkesalingan. 

 

"Melalui berbagai pembahasan yang intinya adalah bahwa kebahagiaan itu bagian dari ibadah, karena itu kalau menikah itu harus untuk kebahagiaan, jadi, harus kita wujudkan bersama bahagia adalah ibadah dan membahagiakan juga bagian dari ibadah, karena itu, saya namakan kitab ini Manba'ussa'adah (telaga kebahagiaan)," tuturnya.

 

Di kesempatan yang sama, Nyai Badriyah menyampaikan bahwa momentum Ramadhan kali ini menjadi titik temu antara KUPI, tradisi Nusantara, dan tradisi pesantren melalui kajian selama 20 hari ke depan dengan sama-sama mengaji satu kitab, yaitu Manba'ussa'adah. 

 

"Dua puluh ulama perempuan Nusantara selama 20 hari ngaji satu kitab. Insyaallah substansinya khatam, ya meskipun mungkin tidak dibaca satu demi satu kata seperti dalam khataman kitab kuning di pesantren-pesantren pada bulan Ramadhan," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina ini. 

 

Ny Badriyah Fayumi merespons dan memaknai tradisi pesantren yang mulai beradaptasi dengan dunia digital sebagai hikmah di balik musibah pandemi Covid-19, sebagaimana kajian 20 hari bersama 20 ulama perempuan yang diadakan secara virtual juga merupakan membangun tradisi baru yang berakar kuat pada tradisi lama. 

 

"Penggunaan media online ini mempunyai manfaat bagi orang-orang pesantren untuk menyalurkan pengetahuannya, berdiskusi, untuk bersilaturahim, bahkan untuk bermuktamar pemikiran tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, dan ini suatu berkah," ungkapnya.

 

Oleh karena itu, pihaknya mengajak kepada seluruh partisipan yang ikut mengaji dan para ibu Nyai sebagai pengajar untuk bersyukur. "Bahwa kita bisa bersama-sama hadir dan menjadi bagian dari tradisi baru yang diinisiasi dan dilakukan oleh para ulama perempuan," imbuhnya. 

 

Kontributor: Syifa Arrahmah 
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya