Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Buka Munas-Konbes 2021, Kiai Ma’ruf Bersyukur NU Masih Tetap Utuh

Buka Munas-Konbes 2021, Kiai Ma’ruf Bersyukur NU Masih Tetap Utuh
Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2021. (Foto: Humas Wapres)
Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2021. (Foto: Humas Wapres)

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma’ruf Amin secara resmi membuka gelaran Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2021, di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Sabtu (25/9).


“Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Munas-Konbes NU 2021 secara resmi saya nyatakan dibuka. Mudah-mudahan munas dan konbes ini dapat menghasilkan berbagai kesepakatan yang memberi manfaat, baik bagi NU khususnya juga untuk kemaslahatan bangsa dan negara,” kata Kiai Ma’ruf melalui konferensi video. 


Ia mengajak para peserta Munas-Konbes NU 2021 untuk bersyukur karena hingga kini, NU masih tetap utuh. Sebab, banyak organisasi lain yang menurut Kiai Ma’ruf tidak mampu mempertahankan keutuhannya. 


“Banyak organisasi lain yang terpecah menjadi dua, bahkan lebih. Keutuhan ini tentu berkat dari perilaku dan sikap para tokoh NU, para ulama yang lebih mementingkan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan pribadinya. Maslahat NU jauh lebih besar. Ini merupakan inayah (pertolongan), himayah rabbaniyah, perlindungan Allah yang kita syukuri,” terang Kiai Ma’ruf.


Dikatakan, selama lebih dari 90 tahun, NU telah berjuang memberikan berbagai langkah untuk memberikan manfaat, bukan saja kepada organisasi tetapi juga kepada bangsa dan negara. Menurutnya, NU sudah berhasil menanamkan sikap Islam yang rahmatan lil alamin. 


“Sikap Islam yang menjadi mainstream dari kehidupan keagamaan di Indonesia. Ini juga upaya yang patut kita syukuri. Partisipasi NU dengan semangat hubbul wathan minal iman dan semangat tasamuh (toleransi) yang dikembangkan juga berperan besar demi menjaga keutuhan bangsa dan negara. Ini diakui oleh banyak pihak,” katanya.
 

Kiai Ma’ruf menegaskan, kini sudah saatnya NU mengambil peran. Secara nasional, NU dianggap memiliki kontribusi besar dalam menciptakan kerukunan dan perdamaian. Hal ini menarik banyak pihak yang mengharapkan peran NU di tingkat global. Sebab NU memiliki prinsip ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), di samping ukhuwah islamiyah dan wathaniyah. 


“Prinsip-prinsip ini sekarang diperlukan ketika dunia masih banyak terjadi konflik di mana-mana dan belum bisa teratasi, baik melalui jalur-jalur diplomasi politik. Juga pendekatan moralitas dan kemanusiaan mungkin juga bisa diperankan oleh NU di masa yang akan datang,” tegas cicit Syekh Nawawi Al-Bantani itu. 


Ia lantas meminta NU untuk melakukan konsolidasi dan menguatkan organisasi, serta membersatukan seluruh potensi supaya benar-benar utuh lahir batin. Kiai Ma’ruf mewanti-wanti agar NU jangan sampai ‘tahsabuhum jamian wa qulubuhum syatta’, terlihat satu tetapi sesungguhnya terpecah.


“Saya harapkan kita, NU tetap konsisten pada khittah NU. Khittah ini saya maksud khittah NU yaitu khittahnya para ulama, khittah ulama berarti khittah nabawiyah. In uridu illal islah mastatha’tu. Saya tidak menghendaki apapun kecuali perbaikan,” terang Kiai Ma’ruf.


Mengutip ungkapan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, ia menyampaikan bahwa NU merupakan jam'iyatu islahin yakni organisasi perbaikan, baik yang menyangkut persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan seperti ekonomi, sosial, budaya, dan politik. 


“Munas merupakan salah satu forum penting di dalam rangka kita membuat garis-garis perbaikan. Kita harus menuangkan dalam bentuk langkah yang harus menopang tercapainya khittah Nahdliyyah. Jangan sampai antara langkah dan khittah tidak sejalan. Jadi, tugas kita adalah melakukan harakah islahiyah (gerakan perbaikan),” pungkasnya.


Untuk diketahui, acara ini digelar dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Munas-Konbes NU 2021 ini hanya dihadiri internal syuriyah dan tanfidziyah PBNU dan tiga orang perwakilan dari PWNU se-Indonesia, serta para pimpinan lembaga dan badan otonom NU.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Syakir NF


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya