Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Ali Masykur: Islam Ajarkan Saling Jaga di Tengah Pandemi

Ali Masykur: Islam Ajarkan Saling Jaga di Tengah Pandemi
Nyawa manusia memiliki arti penting dalam Islam. Di tengah pandemi, nilai Islam mendorong umatnya untuk saling menjaga dengan prokes.
Nyawa manusia memiliki arti penting dalam Islam. Di tengah pandemi, nilai Islam mendorong umatnya untuk saling menjaga dengan prokes.

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) H Ali Masykur Musa mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak bersikap serampangan. Dalam situasi Covid-19 ini, katanya, kita tidak diperkenankan melakukan kegiatan yang berpotensi membahayakan orang lain. 


Dia mengajak seluruh masyarakat untuk kembali mengingat lima poin dalam maqashidus syariah yakni hifzhud din (menjaga agama), hifzhun nafs (menjaga jiwa), hifzhul aql (menjaga akal), hifzhun nasl, dan hifzhul mal (menjaga harta). Menurut dia, atas dasar itu pula Islam sesungguhnya mengajarkan pemeluknya untuk selalu menjaga dan melindungi keberlangsungan hidup orang lain.


“Jadi kita harus memperhatikan hifdzhun nafs (menjaga jiwa), yaitu menjaga keberlangsungan jiwa orang lain,” katanya saat menjadi pengisi acara pada kegiatan Multaqa Ulama Jakarta, Kamis (26/11) sore.


H Ali Masykur menyebutkan, sejumlah kelompok masyarakat terutama kelompok yang selalu teriak atas nama kebebasan beragama tampaknya tidak menggunakan pola maqashidus syariah ini. Padahal, katanya, jika digali lebih dalam mengenai hal ini, kemaslahatan umum dalam maqashidus syariah harus diutamakan.


Jika kelompok masyarakat terus bersikap serampangan atas dasar kebebasan beragama sebenarnya, kata Aly Masykur, kelompok masyarakat tersebut sudah tidak bersikap adil kepada agamanya sendiri. Sementara, dalam konteks maqashidu syariah tersebut sikap adil merupakan hal yang juga diutamakan. 


“Selain soal al-musawah (kebebasan), al-hurriyah (merdeka) se-merdeka-merdekanya. Maka ada kata al-adlu (keadilan). Jika mementingkan diri sendiri dan tidak menempatkan al-adlu dia melanggar mashlahatul ammah,” ucapnya. 


Pernyataan Ketum ISNU ini merupakan imbauan kepada masyarakat terutama umat Muslim agar tidak membandel dengan terus melanggar apa yang telah diatur oleh pemerintah terkait protokol kesehatan. 


Selain itu, ISNU tidak ingin kelompok masyarakat secara sengaja mengumpulkan jamaah atas dasar kebebasan beragama. Hal ini jelas menjadi hal yang dilarang sebab keselamatan jiwa saat ini jauh lebih penting di atas segalanya. 


Berbeda dengan Ketum ISNU, pada acara itu, Pimpinan Yayasan Al-Fachriyah Tangerang Habib Jindan bin Novel bin Salim bin Jindan mengomentari kelompok pendakwah yang selalu mengumpat. Dia menegaskan bahwa provokasi, adu domba, menebarkan permusuhan, dan mengumbar kedengkian bukanlah ajaran Nabi Muhammad. 


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori

Editor: Alhafiz Kurniawan



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler Nasional

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×