Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Khutbah Idul Adha: Meningkatkan Kedermawanan di Tengah Pandemi

Khutbah Idul Adha: Meningkatkan Kedermawanan di Tengah Pandemi
Meningkatkan Kedermawanan di Tengah Pandemi
Meningkatkan Kedermawanan di Tengah Pandemi

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لآإِلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، وَِللهِ الْحَمْدُ. اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِتَعْظِيْمِ شَعَاءِرِهِ، لِأَنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ، لَهُ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدَهُ وَرَسُوْلُهُ، حَسَنُ الْخُلُقِ وَالْمَحْبُوْبِ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ نَالُوْا غُفْرَانَ الذُّنُوْبِ

أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهاَ النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ 

 

Ma’âsyiral Muslimîn Rahîmakumullâh
Di tengah masa pandemi Covid 19 yang begitu panjang, himpitan ekonomi semakin terasa. Kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga semakin mendesak, bahkan hingga berdampak konflik keluarga dan kriminalitas. Untuk itu dibutuhkan uluran tangan, sikap gotong royong, membantu kesulitan orang lain dan meningkatkan sikap kedermawanan di tengah masyarakat.

 

Alhamdulillah, kini Indonesia kembali dikukuhkan sebagai negara 10 besar paling dermawan di dunia dengan skor 69% mengungguli beberapa negara di bawahnya yaitu Nigeria (52%), Australia (49%), dan Selandia Baru (47%). Ini sebagaimana yang dilaporkan Charities Aid Foundations (CAF) dalam A Global Pandemic Special Report 2021. Ternyata kesulitan ekonomi yang menerpa Indonesia akibat pandemi Covid 19 tidak menyebabkan turunnya tingkat kedermawanan masyarakat. Hal lain yang membahagiakan bahwa ternyata angka tertinggi sumber kedermawanan itu berasal dari zakat, infak, sedekah dan wakaf (ZISWAF). Allâhu Akbar (3x), walillâhil hamd.

 

Ma’âsyiral Muslimîn Rahîmakumullâh
Pada dasarnya manusia berpotensi kikir (QS An-Nisa’: 128). Namun pada sisi lain manusia juga berpotensi menjadi dermawan. Yakni dermawan dalam artian ikhlas memberi, menolong atau rela berkorban di jalan Allah. Baik dengan harta, bahkan dengan jiwa dan raganya. Baik berupa bantuan infak dan sedekah maupun bantuan tenaga dan pikiran dalam memecahkan permasalahan.

 

Dermawan (sakhâ’) merupakan sikap tengah antara boros dan kikir. Jika kikir adalah menahan harta pada situasi yang semestinya harus memberi, maka boros adalah mengeluarkan harta dalam situasi yang semestinya harus ditahan. Sementara dermawan adalah memberikan harta dengan senang hati dalam kondisi memang wajib memberi, sesuai kepantasan tanpa mengharap imbalan apapun. Baik imbalan berupa pujian, balasan, kedudukan, ataupun sekedar ucapan terima kasih. 

 

Secara psikologis, bagi kaum dermawan, Allah menjamin tidak akan diterpa kekhawatiran dan kesedihan dalam hidupnya. Sebagaimana firman-Nya:

 

اَلَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (البقرة: 274)

 

Artinya, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS al-Baqarah: 274)

 

Selain orang dermawan tidak akan mengalami kekhawatiran dan kesedihan, juga dikabarkan Rasulullah saw, setiap pagi orang dermawan didoakan oleh dua malaikat yang turun ke bumi, sebagaimana sabdanya:

 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اَللهم أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ: اَللهم أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (متفق عليه)

 

Artinya, “Tiada hari dimana para hamba masuk waktu pagi hari melainkan ada dua malaikat yang turun kepadanya, kemudian salah satunya berdoa: ‘Ya Allah, berilah (rejeki) pengganti kepada orang yang berinfak’; sedangkan yang lain berdoa: ‘Ya Allah, timpakanlah kehancuran kepada orang yang kikir.” (Muttafaq ‘alaih)

 

Betapa indahnya menjadi orang dermawan, di dalam dirinya tertanam rasa kasih sayang, kemurahan hati dan kerelaan berbagi. Orang dermawan tidak akan takut miskin, dan bahkan yakin Allah akan memberikan balasan berlipat ganda baik di dunia maupun di akhirat nanti. Allâhu Akbar (3x), walillâhil hamd.

 

Ma’âsyiral Muslimîn Rahîmakumullâh
Pada pelaksanaan Idul Qurban tahun ini, seyogyanya kita jadikan momentum untuk meningkatkan sikap kedermawanan di antara kita. Selain menjadi cara ampuh untuk mengurangi beban orang lain di tengah pandemi, juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan kepada sesama. Pada prakteknya, tepatnya sebelum melakukan penyembelihan hewan kurban, ada doa yang dianjurkan untuk dibaca terlebih dahulu. Doa tersebut menjadi harapan agar Allah menerima ibadah kurban kita:


اَللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ

Artinya, "Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari-Mu, dan dengan ini aku bertaqarrub kepada-Mu. Karenanya wahai Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah taqarrub-ku." 

 

Senada dengan uraian tersebut, Allah memerintahkan para pekurban agar membagikan sebagian dagingnya kepada orang-orang fakir.

 

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ  (الحج: 28)

 

Artinya, “Maka makanlah sebagian darinya (daging kurban) dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang fakir. (QS al-Hajj: 28)

 

Maka tegaslah, bahwa salah satu hikmah kurban adalah mengajarkan kita untuk berbagi dan belajar bersikap dermawan kepada orang lain. Dari berbagi daging, para pekurban belajar mengasah kedermawanan untuk berbagi dalam bentuk lain. Baik berbagi dalam bentuk kebutuhan jasmani (materi), maupun kebutuhan ruhani (spiritual). Ini sesuai gambaran dari Rasulullah saw dalam sabdanya:

 

اَلسَّخِيُّ قَرِيْبٌ مِنَ اللهِ، قَرِيْبٌ مِنَ النَّاسِ، قَرِيْبٌ مِنَ الْجَنَّةِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّارِ. وَالْبَخِيْلُ بَعِيْدٌ مِنَ اللهِ، بَعِيْدٌ مِنَ النَّاسِ، بَعِيْدٌ مِنَ الْجَنَّةِ، قَرِيْبٌ مِنَ النَّارِ. وَالْجَاهِلُ السَّخِيُّ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ عَابِدٍ بِخَيْلٍ. (رواه الترمذي)

 

Artinya, “Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia, dekat dengan surga, dan jauh dari neraka. Orang kikir jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka. Sementar orang bodoh yang dermawan lebih disukai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir.” (HR at-Tirmidzi)

 

Dalam hadits tersebut Rasulullah saw menjelaskan, orang dermawan tidak hanya dekat kepada Allah dan manusia, lebih dari itu, ia juga dekat dengan surga dan jauh dari api neraka. Sebaliknya, orangkikir jauh dari Allah dan manusia, namun mendekatkan dirinya ke api neraka. Begitu buruknya orang kikir, orang bodoh yang dermawan lebih disukai oleh Allah daripada orang ahli ibadah tapi kikir. Allâhu Akbar (3x), walillâhil hamd.

 

Ma’âsyiral Muslimîn Rahîmakumullâh
Harta yang disumbangkan oleh kaum dermawan tidak akan berkurang sedikit pun, apalagi membuatnya menjadi miskin. Justru Allah akan menggantinya dengan pahala berlipatganda dan mengucurkan keberkahan pada harta dan keluarganya. Orang dermawan akan dilapangkan rejekinya oleh Allah, dicintai Allah dan manusia. Sungguh indah dan istimewa pribadi orang-orang dermawan, karena banyak jaminan keberuntungan yang akan didapatkannya.

 

Inilah spirit ibadah kurban, menempa umat Islam menjadi pribadi-pribadi yang dermawan. Selain menjadi bukti kepatuhan kepada Allah dan Rasul-Nya, juga dapat menjadi amalan ampuh dalam menghadapi masa pandemi, yakni dengan meningkatkan kedermawanan di antara kita. 

 

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، فَاستَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

 


Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَلِلهِ الْحَمْدُ 

 

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ، وَحَثَّنَا عَلَى الصَّلَاحِ، وَبَيَّنَ لَنَا سُبُلَ الْفَلَاحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ 

 

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ. إِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا. اَللهم صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللهم عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ 

 

اَللهم اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اَللهم أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ. اَللهم لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا دَيْنًا إِلَّا قَضَيْتَهُ، وَلَا مَرِيْضًا إِلَّا شَفَيْتَهُ، وَلَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا إِلَّا قَضَيْتَهَا وَيَسَّرْتَهَا لَنَا يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ، وَيَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللهم ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَا خَآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ 

 

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 


Rakimin Al-Jawiy, S.Pd.I, M.Si, Dosen Psikologi Islam UIN Jakarta dan UNUSIA Jakarta


Terkait

Khutbah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya