Daerah

Ribuan Santri Mamba'ul Ma'rif Jombang Gelar Shalat Ghaib untuk Mbah Moen 

Sel, 6 Agustus 2019 | 11:45 WIB

Ribuan Santri Mamba'ul Ma'rif Jombang Gelar Shalat Ghaib untuk Mbah Moen 

Ribuan santri Mambaul Ma'arif Jombang gelar shalat ghaib untuk Mbah Moen

Jombang, NU Online
Menindaklanjuti dari perintah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk melakukan shalat gaib dan doa bersama atas wafatnya Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair, ribuan santri putra-putri Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur melakukan shalat ghaib dan doa bersama di masjid utama pesantren, Selasa (6/8).
 
Kegiatan tersebut di pimpin oleh Pengasuh Asrama Sunan Ampel Putra  Pesantren Mamba'ul Ma'arif KH Imam Haramain Asy'ari. Ribuan santri berbaris rapi dan khusyuk memanjatkan doa untuk kiai kharismatik tersebut. Untuk santri Putra mengambil posisi tengah masjid serta bagian selatan masjid. Sedangkan santri putri menempati bagian utara masjid.
 
"Shalat ghaib ini sebagai ungkapan duka kita atas wafatnya Kiai Maimoen. Tadi yang mimpin shalat dan doa yaitu Abi (ayah saya)," kata salah satu Pengurus Pesantren Mamba'ul Ma'rif Agus Ahmad Atho'illah kepada NU Online.
 
Suasana shalat ghaib dan doa bersama ini semakin terharu saat beberapa santri tampak meneteskan air matanya saat berdoa. Suara cegukan dari beberapa santri membuat suasana doa semakin khusyuk dan fokus.
 
"Kita keluarga besar Pesantren Mamba'ul Ma'arif dan santri juga ikut merasa kesedihan yang luar biasa atas wafatnya suri tauladan kita bersama, guru sekaligus tokoh idola para santri," ungkap dzuriyah KH Bisri Syansuri ini.
 
Pria yang biasa disapa Gus Ayik ini menceritakan, Kiai Maimoen sering hadir ke Pesantren Mamba'ul Ma'rif, terutama saat haul KH Bisri Syansuri, pendiri pesantren yang juga tokoh besar Nahdlatul Ulama.
 
"Shalat ghaib ini juga dihadiri segenap masyayikh pesantren, pengurus, dan dewan guru Pesantren Mamba'ul Ma'rif. Semua tumpah ruah dan berbaur menjadi satu," katanya.
 
Wafatnya Kiai Maimun merupakan kerugian besar bagi Indonesia. Karena sangat sulit dicari pengganti sosok yang memiliki keilmuan sepadan dengan Kiai Maimoen. Terutama tentang wawasan kebangsaan, kedalaman ilmu fikih, dan tata krama Kiai Maimoen yang susah ditiru orang lain.
 
"Wafatnya orang alim adalah musibah bagi alam seisinya. Orang alim wafat membawa sekalian ilmunya. Ini cara Allah mencabut ilmu dari dunia. Mungkin perannya dalam digantikan dalam organisasi, tapi sosok, ilmu dan karakter sangat sulit ada yang sama dengan Kiai Maimoen," tandas Gus Ayik. (Syarif Abdurahman