Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Pesantren Islam Bustanul Ulum Jember, Tangguh terhadap Covid-19

Pesantren Islam Bustanul  Ulum Jember, Tangguh terhadap Covid-19
Kapolres Jember, Aris Supriyono dan Komandan Kodim 0824, La Ode M Nurdin saat berbincang dengan pengasuh Pesantren Islam Bustanul Ulum (IBU), KH Muhammad Hafidi Cholis usai peluncuran pesantren tangguh Covid-19. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Kapolres Jember, Aris Supriyono dan Komandan Kodim 0824, La Ode M Nurdin saat berbincang dengan pengasuh Pesantren Islam Bustanul Ulum (IBU), KH Muhammad Hafidi Cholis usai peluncuran pesantren tangguh Covid-19. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Konsistensi pengasuh dan segenap pengurus Pondok Pesantren Islam Bustanul  Ulum (IBU) Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember, Jawa Timur dalam keterlibatannya memerangi Covid-19, membuat pesantren tersebut terpilih sebagai Pesantren Tangguh Semeru Covid-19. Peluncurannya dilakukan oleh Kapolres Jember, Jawa Timur, Aris Supriyono dan Komandan Kodim 0824, La Ode M Nurdin,  Senin (15/6).


Menurut Aris, pesantren tangguh merupakan pengembangan dari konsep kampung tangguh. Harapannya adalah agar pesantren IBU betul-betul tangguh dalam menghadapi Covid-19. Tidak hanya tangguh sendirian tapi juga menjadi contoh bagi masyarakat untuk mematuhi segala  item dalam protokol kesehatan.


“Role model itu kami kembangkan sebagai upaya pencegahan Covid-1, dan kami tahu pesantren merupakan tempat yang mempunyai kekuatan untuk mematuhi protokol kesehatan,” ujarnya kepada NU Online.


Di tempat yang sama, Pengasuh Pondok Pesantren IBU, KH Muhammad Hafidi Cholis menegaskan, kedispilinan keluarga besar pesantren IBU dalam mematuhi protokol kesehatan memang dilakukan sejak awal untuk menghindari penyebaran Covid-19 sedini mungkin di kalangan santri.


“Bahkan saat santri dianjurkan pulang oleh pemerintah, kami pulangkan dengan mewanti-wanti agar santri di rumah tetap mematuhi protokol kesehatan,” ucapnya.


KH Hafidi mengakui bahwa tingkat kepatuhan masyarakat desa terhadap protokol kesehatan masih rendah, sehingga perlu terus diberikan semangat atau penjelasan tentang pentingnya memakai masker, menjaga jarak, dan sebagainya demi keselamatan bersama. Karena itu, pihak pesantren tak bosan-bosannya menganjurkan kepada wali murid untuk patuh kepada protokol kesehatan.


“Selain memberi contoh, dalam berbagai kesempatan kami juga menyampaikan imbauan itu kepada masyarakat,” jelasnya.


Pondok Pesantren IBU tampaknya laik menjadi pesantren percontohan tangguh terhadap serangan Covid-18. Ini bisa dilihat dari sarana protokol kesehatan yang cukup memadai. Misalnya, di gerbang utama di sediakan dua bilik penyemprotan desinfektan. Alat penyemprot di bilik itu bekerja secara otomatis. Ia akan mengeluarkan cairan saat ada orang masuk di situ. Bilik serupa juga disiapkan di pintu tengah untuk masuk ke area sekolah. Ini disiapkan untuk ‘orang dalam’ yang ingin masuk ke area sekolah.


“Besok (hari ini, Selasa, 16/6), anak-anak (santri) sudah mulai kembali, makanya kita siapkan bilik desinfektan, tempat cuci tangan,  dan sebagainya,” jelasnya.


Sedangkan persiapan bagi siswa-siswi sekolah formal di lingkungan pesantren IBU juga tak kalah bagusnya. Hampir seratus wastafel sudah terpasang di depan kelas, kantor dan falilitas  umum lainnya.


“Kita tak boleh lengah. Kita ikuti semua saran pemerintah. Kita semua ingin Corona segera pergi, karena dampaknya cukup parah, baik bagi dunia pendidikan maupun lainnya. Ekonomi juga hancur,” ulasnya.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

 



Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya