Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Koin NU-Sa Peduli, Cara MWCNU Salem Himpun Dana Sosial

Koin NU-Sa Peduli, Cara MWCNU Salem Himpun Dana Sosial

Brebes, NU Online

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Salem Kabupaten Brebes menggelar Launching Koin NU-Sa Peduli. Peluncuran program ini dilakukan berbarengan dengan pengajian peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-95 NU di Alun-Alun Salem, Ahad (8/4).

“Alhamdulillah, ibarat satu kerlingan mata menatap, terkumpul dana NU-Sa Peduli,” tutur Ketua MWCNU Salem KH Cholid Nawawi yang pada kegiatan tersebut langsung terkumpul donasi sebesar Rp24 juta.

NU-Sa Peduli, lanjutnya, diperuntukkan bagi kepentingan kegiatan ke-NU-an dan kegiatan sosial lainnya. Namun dalam waktu dekat ini, setidaknya membantu pembangunan gedung NU Salem yang saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Kiai Cholid menceritakan, sebagaimana sifat dasar dari Nahdliyin Salem yang gemar bergotong royong, maka pada hal-hal yang harus dipikul bersama, tanpa basi basi saling mengulurkan tangan. 

Dengan Koin NU-Sa ini, kata Kiai Cholid, diharapkan mampu membangkitkan spirit ber-NU dan kesadaran membangun kemandirian perekonomian. Ia berharap ke depan mampu memiliki  ambulans dan kebutuhan lain yang bersifat penting untuk Nahdliyin.

Ketua panitia Harlah NU Salem, Rusdi menceritakan, selain peluncuran koin NU-Sa, peringatan harlah juga dimeriahkan dengan pawai ta'aruf dan pesta kembang api. Acara akbar ini berjalan sukses berkat sumbangan dari warga NU dan para simpatisan.

“Dengan prinsip dari, oleh dan untuk NU terwujudlah kehidupan demokrasi di NU,” ujar Rusdi.

Pengajian harlah tersebut diisi penceramah KH Saefudin Tsabit dari Ciamis, Jawa Barat yang antara lain mengingatkan agar warga NU harus menjadi orang yang rendah hati namun tegas, bukan keras.

Warga NU lanjutnya tidak boleh melawan tradisi atau budaya, namun harus menyempurnakan budaya atau tradisi.

"Yang salah disikapi dengan cara yang baik atau ma’ruf. Karena NU merangkul bukan memukul, NU juga ramah bukan marah,” tandasnya. (Wasdiun/Muhammad Faizin)



Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya