Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Ketika Puji-pujian di Masjid-Mushala Datangkan Hidayah

Ketika Puji-pujian di Masjid-Mushala Datangkan Hidayah
Budaya puji-pujian setelah adzan di perkotaan tidak boleh tergerus oleh modernisasi zaman.  (Foto: NU Online/Mahbib)
Budaya puji-pujian setelah adzan di perkotaan tidak boleh tergerus oleh modernisasi zaman.  (Foto: NU Online/Mahbib)

Pringsewu, NU Online
Hidayah bisa datang pada seseorang kapan saja, di mana saja, tanpa mengenal waktu dan tempat. Tak perlu banyak dalil, hidayah bisa datang dari hal-hal kecil yang tak terpikirkan dan tidak dinyana sebelumnya. Di antaranya melalui syair-syair yang sering dilantunkan di masjid dan mushala yang biasa dikenal dengan puji-pujian.


"Puji-pujian di masjid itu jadi vitamin yang mendatangkan kesejukan. Kalau tak ada puji-pujiannya, masjid mushala jadi kering," kata KH Sujadi Mustasyar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu, Senin (4/1).


Tradisi yang baik ini menurutnya harus terus dilestarikan dan diperkuat bukan saja di masjid dan mushala yang berada perdesaan, namun terlebih di daerah perkotaan. Budaya puji-pujian setelah adzan di perkotaan tidak boleh tergerus oleh modernisasi zaman. 


"Masjid boleh modern tapi budaya yang baik jangan ditinggalkan," ajak kiai yang juga Bupati Pringsewu ini saat menyampaikan kajian tafsir Al-Qur’an secara virtual.


Menurutnya banyak sekali syair-syair yang menyentuh hati dan memiliki makna mendalam dari puji-pujian. Apalagi tambahnya, syair-syair berupa shalawat baik bahasa Arab maupun bahasa lain yang ditulis oleh para ulama dan dilantunkan oleh para sesepuh di tiap-tiap daerahnya.


"Sering kita dengan sayup-sayup dari kejauhan puji-pujian yang rasanya membuat hati syahdu dan ingin menangis," ungkapnya.


Budaya luhur inilah yang juga digunakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu dalam ‘usaha langit’ menghadapi Covid-19 yang sampai saat ini belum juga mereda. Selain imbauan melaksanakan qunut nazilah, NU Pringsewu juga mengajak warganya melantunkan Shalawat Thibbil Qulub dan syair Li Khamsatun’ di masjid dan mushala.


Shalawat Nabi yang sering menjadi materi puji-pujian ini memiliki berbagai keutamaan. Dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Abu Hurairah ra disebutkan, "Bacalah shalawat untukku, sebab bacaan shalawat itu membersihkan kekotoranmu (dosa-dosamu) dan mintalah kepada Allah untukku wasilah. Apakah wasilah itu ya Rasulullah? Jawabnya: Satu derajat yang tertinggi dalam surga yang tidak akan dicapai kecuali oleh seorang, dan saya berharap semoga sayalah orangnya."


Dikutip dari artikel di NU Online berjudul Ajaran Tasawuf dalam Puji-pujian Menjelang Shalat Fardlu orang mengenal puji-pujian disebarkan oleh kalangan pesantren dan para walisongo untuk menyebarkan agama Islam. Dakwah ini merupakan pendekatan persuasif yang bersifat kemasyarakatan sesuai dengan adat dan budaya masyarakat waktu itu.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya