Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Gerhana Matahari Perlu Ditafakuri Guna Menyingkap Kebesaran Allah

Gerhana Matahari Perlu Ditafakuri Guna Menyingkap Kebesaran Allah
Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Kiai M Noor Harisudin saat menyampaikan khutbah shalat gerhana Matahari di Masjid Raudlotul Muchlisin, Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Wakil Ketua PW Lembaga Dakwah NU Jawa Timur, Kiai M Noor Harisudin saat menyampaikan khutbah shalat gerhana Matahari di Masjid Raudlotul Muchlisin, Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online

Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Jawa Timur, Kiai M Noor Harisudin menekankan pentingnya manusia bertafakur dan berdzikir kepada Allah SWT saat melihat fenomena alam seperti gerhana bulan dan matahari.

 

Bertafakur akan membuat orang semakin mengagungkan asma Allah dan kebesaran-Nya. Katanya, bertafakur, yakni berpikir secara sungguh-sungguh tentang Allah dan ciptaan-Nya akan menjauhkan orang dari sifat sombong. Sebab bagaimana mungkin manusia bisa sombong wong kebesaran dan kekuasaan Allah tanpa batas. Sementara manusia hanyalah ciptaan-Nya yang penuh dengan keterbatasan, meskipun misalnya, ia diposisikan sebagai orang terhebat.

 

“Oleh karena itu, marilah kita bertafakur, lebih-lebih dalam melihat fenomena alam,” ujarnya saat menyampaikan khutbah shalat gerhana matahari di Masjid Raudlotul Muchlisin, Jember, Jawa Timur, Kamis (26/12).

 

Guru besar IAIN Jember itu lalu mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ali Imron ayat 190-191 yang artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

 

Menguatkan itu, Kiai Haris –sapaan akrabnya- juga menyitir perkataan Ibnu Athilah al-Iskandari dalam kitab al-Hikam yang berbunyi amaraka fi hadzhid daari bin nadlri fi mukawanaatihi wa sayaksyifu laka fi tilkad daari 'an kamaali dzaatihi. Artinya, Allah memerintahkan kamu bertafakur tentang ciptaan-Nya di dunia dan akan menyingkap kesempurnaan dzat-Nya besok di akhirat.

 

“Bertafakur dapat membuka mata kita untuk menyingkap kebesaran Allah,” jelasnya.

 

Di bagian lain, Pengasuh Pesantren Darul Hikam Mangli Jember itu juga mendorong umat Islam untuk meningktan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, kepedulian terhadap peristiwa gerhana matahari dengan shalat dan bertafakur, sesungguhnya adalah kepedulian terhadap Ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan ilmu pengetahun dan teknologi, bisa diungkap apa, mengapa dan untuk apa gerhana matahari diciptakan.

 

“Kita mungkin perlu belajar pada Barat untuk terus berdebat tentang ilmu dan teknologi. Sementara, kita mesti mengurangi bahkan meniadakan debat yang tidak perlu tentang agama, karena sejatinya agama untuk dipraktikkan, bukan untuk diperdebatkan seperti dawuh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin Juz I,” pungkasnya.

 

Pewarta: Aryudi AR

Editor: Ibnu Nawawi


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya