Daerah

Degradasi Karakter, Ini Penyebabnya

Ahad, 28 Juli 2019 | 09:15 WIB

Degradasi Karakter, Ini Penyebabnya

Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Pengembangan Pendidikan Karakter Abad 21 di Era Zonasi di auditorium Al-Farabi, Gedung FKIP Universitas Jember

Jember, NU Online

Tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan karakter merupakan ‘materi’ yang cukup penting dalam memupuk jiwa kasalehan pelajar. Dalam beberapa tahun terakhir ini pendidikan karakter kerapkali disuarakan oleh berbagai kalangan menyusul kurang berhasilnya materi tersebut dalam membentuk pribadi yang santun. Terbukti tidak sedikit pelajar yang terlibat dalam beragam tindak kejahatan seperti pencurian, pembegalan, pemerkosaan, tawuran dan sebagainya.

 

“Pendidikan karakter, yang dalam perspektif Islam bisa dimaknai dengan pendidikan akhlaq, tentu sangat penting diterapkan. Tidak boleh putus, karena ini menyangkut masa depan bangsa,” tukas Ketua PCNU Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin saat memberikan sambutan dalam Seminar Nasional Pengembangan Pendidikan Karakter Abad 21 di Era Zonasi di auditorium Al-Farabi, Gedung FKIP Universitas Jember, Sabtu (27/7).

 

Menurut Gus Aab, sapaan akrabnya, saat ini karakter anak bangsa menghadapi persoalan yang cukup serius. Bahkan ditengarai terjadi degradasi karakter di kalangan remaja dan pelajar. Sehingga diharapkan pendidikan karakter tidak hanya riuh di ruang kelas, forum diskusi dan sebagainya, tapi juga masuk dalam atmosfer jiwa manusia (pelajar).

 

“Ini bukan cuma tanggung jawab guru tapi juga tanggungjawab kita semua,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, setidaknya ada dua hal yang menyebabkan terjadinya degradasi karakter. Pertama, integrasi ekonomi yang mengarah pada free market (pasar bebas). Dalam sistem ini tidak hanya terjadi mobilisasi barang, tapi juga manusia. Maksudnya, barang-barang yang masuk ke pasar (Indonesia) diikuti oleh tenaga (orang) yang secara teknis terkait dengan pemasaran dan tetek bengeknya barang tersebut.

 

“Di situlah masalahnya. Sebab, biasanya orang-orang itu mempunyai budaya yang berbeda dengan kita. Karena sudah berbaur dengan lingkungan, maka masyarakatpun ikut perpengaruh budaya yang mereka bawa,” lanjutnya.

 

Kedua, demokrasi yang kebablasan. Dalam pandangan Gus Aab, demokrasi memang tuntutan sekaligus kebutuhan bangsa yang berdaulat. Sebab demokrasi menjadi referensi banyak hal, mulai dari stabilitas politik hingga rotasi ekonomi. Dengan kata lain, jika suatu negara demokrasinya bagus, maka negara tersebut akan sejahtera, aman, dan damai.

 

“Tapi demokrasi yang kebablasan, demokrasi yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, itu tidak cuma mengancam keutuhan bangsa, tapi juga menghancurkan karakter anak bangsa. Contoh yang paling nyata, ada kampanye hitam, hoaks ditebar, itu di mana akhlaknya,” pungkasnya. (Aryudi AR)