Cerpen

Tiba-tiba Aku dan Kamu

Ahad, 20 Oktober 2019 | 15:15 WIB

Tiba-tiba Aku dan Kamu

ilustrasi: fineartamerica.com

Oleh Abdullah Alawi
 
Aku berjalan-jalan, ke mana saja mengikuti keinginanku. Bukan sedang menikmati hari, atau pemandangan, mencari angin, atau sedang mencari sesuatu atau seseorang. Tidak. Aku berjalan-jalan karena memang aku ingin berjalan-jalan. Dan itu kebiasaanku. Berjalan-jalan ke mana? Sudah kubilang aku tidak punya tujuan. Aku hanya ingin berjalan-jalan saja. Cukup! Dan jika aku menemukan sesuatu, bukan salahku. Itu kebetulan saja. Dan jika tidak menemukan sesuatu, itu juga bukan salahku. Niatku cuma berjalan-jalan, tak bermaksud mencari atau menemukan.

Tiba–tiba di suatu tempat yang tak terduga sebelumnya, aku berjumpa denganmu. Tiba tiba kamu tersenyum. Senyum yang itu. kemudian Kamu menatapku. Tatapan yang itu. Bola mata yang itu. Kelopak mata yang itu. Aku juga tersenyum. Bola mata menatap bola mata. Aku diam. Kamu diam. Aku dan kamu seperti patung. Tiba-tiba saja aku berkata seperti ini, “Aku mencintaimu.” Kata-kata yang tak terduga sebelumnya. Lidahku seperti ada yang menggerakkan. Aku tak bisa menguasai mulutku. Aku ingin menarik kata-kataku karena itu kata-kata yang bukan kehendakku, tapi terlanjur keluar...

Kamu  tersenyum. Senyum yang itu. Yang belum kukenal sebelumnya.  Dan mata itu, mata yang baru kutemui selama ini. Kemudian kamu berkata, “Aku juga mencintaimu,” kata yang juga tak terduga sebelumnya.
 
Aku tidak tahu apakah kata-kata yang meluncur dari mulutmu adalah kata-kata yang dikehendaki atau kata-kata yang meluncur begitu saja seperti kata-kataku tadi.

Aku hampir tidak bisa mengenali perasaanku waktu itu, ketika mendengar perkataanmu. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kukatakan dan harus aku lakukan saat itu. Kamu pun mungkin seperti itu. Aku hanya diam. Kamu hanya diam. Aku dan kamu saling tidak tahu. Beberapa saat  aku dan kamu hanyalah patung. Aku tidak kerasan dengan suasana seperti ini. Mungkin kamu juga seperti itu. Maka aku pergi ke arah kemauanku. Dan kamu juga pergi ke arah kemauanmu. Aku dan kamu pergi ke arah kemauan masing-masing. Tanpa menoleh arah kepergian masing-masing.

Dalam beberapa hari ini aku tidak berjalan-jalan karena memang aku tidak ingin berjalan-jalan. Aku masih kaget dengan pertemuan itu.  Aku tidak tahu kenapa harus berjumpa denganmu. Sipakah namamu? Di mana tempatmu. Dan kenapa tiba-tiba aku mengatakan, “Aku mencintaimu” dan kenapa kamu mesti menjawab, “Aku juga mencintaimu.” Sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Sesuatu yang tidak kupahami sepenuhnya. Tapi kenapa pula itu menjadi pikiranku. 

Ketika aku berjala-jalan lagi pada suatu hari dengan niat sama, tidak untuk mencari dan menemukan, tiba-tiba aku bertemu lagi denganmu di tempat yang tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Tiba-tiba saja. Tapi kali ini aku mengatakan seperti ini, “Aku membencimu.” Kamu  hanya tersenyum. Senyum yang masíh seperti itu. Seperti kemarin. Yang tiba-tiba saja aku menyadari aku suka. Aku menekan perasaan yang tiba-tiba menyergap ini. Kamu menatapku dengan bola mata yang itu. Tatapan yang itu. Aku tak berkutik.  Ada semacam perasaan takjub yang tiba-tiba menyelinap. 

Tapi kenapa aku “Mengatakan aku membencimu.” Aku tak bisa menguasai lidah dan mulutku. Kata-kata yang berhambur adalah kata-kata yang tak kukehendaki. Tapi sebelum aku memikirkan lebih jauh apa yang terjadi dengan diriku dan apa yang kukatakan, tak kuduga kamu berkata seperti ini, “Aku juga mencintaimu.” Aku tertegun sebentar mendengar jawabanmu yang masih tetap seperti kemarin ketika aku mengatakan mencintaimu. Kamu masih tersenyum. Tapi cepat-cepat aku dan mungkin juga kamu tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan. Kemudian aku pergi. Aku tak tahan dengan suasana seperti itu. Kami pergi ke arah kemauan masing-masing. Aku tidak tahu ke mana arahnya. Dan kamu tak tahu arahku. Dalam pikiranku tiba-tiba menyelinap pertanyaan-pertanyaan tentang pertemuanku denganmu. Tapi aku membuangnya jauh-jauh. 

Lama aku dan kamu tidak bertemu lagi meski aku tak menghentikan jalan-jalanku. Aku dan kamu tidak tahu keberadaan dan kabar masing-masing. Mana mungkin bisa tahu karena aku dan kamu tidak kenal dan tidak tahu keberadaan masing-masing. Aku dan kamu bertemu karena kebetulan yang tak terduga tanpa kita berusaha untuk berkenalan. Kata-kataku dan mungkin juga kata-katamu adalah kata-kata yang keluar tiba-tiba saja saat aku dan kamu terjebak dalam pertemuan. Aku dan mungkin juga kamu tidak menguasai sepenuhnya diri sendiri saat pertemuan itu.

Tapi pada suatu hari aku bertemu lagi denganmu. Aku ingin mengatakan sesuatu. Tapi apa yang harus kukatakan. Aku ingin melakukan sesuatu. Tapi apa yang harus kulakukan. Apakah aku harus mengatakan, “Aku mencintaimu,’’ atau mengatakan, “Aku membencimu.” Pada pertemuan sebelumnya kamu tetap menjawab sama. Padahal kalimat yang aku ucapkan berbeda. Aku dalam keragu-raguan. Tapi lama-kelamaan aku berkata juga, “Aku mencintaimu.” Kamu hanya tersenyum. Senyum yang itu. Senyum ketika aku bertemu pertama kali. Dan kemudian kamu berkata, “Aku juga membencimu.” Aku tertegun sebentar. Jawaban yang tak terduga sebelumnya. Kamu masih tersenyum. Kemudian kamu pergi cepat-cepat ke arah kemauanmu. Sedangkan aku masih tertegun. Tapi aku juga cepat-cepat pergi ke arah kemauanku sendiri. Aku masih memikirkan kata-kataku. 

Pada suatu hari aku berjalan-jalan. Dalam perjalanan selalu terdapat kemungkinan-kemungkinan. Kebetulan-kebetulan. Dan kebetulan itu adalah aku bertemu lagi denganmu. Di tempat yang juga tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda pada pertemuan sebelumnya. Aku tidak tersenyum. Kamu tersenyum. Senyum yang itu. Senyum ketika aku pertama kali berjumpa denganmu. Kamu menatapku. Tatapan mata yang itu. Bola matamu. Mata yang itu. Aku tidak berkata apa-apa. Tapi kamu berkata seperti ini, “Aku mencintaimu dan membencimu.” Aku cuma tertegun. Kamu masih tersenyum. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan kukatakan. Aku berjuang mengucap sesuatu. Tapi lidahku kelu. Aku berjuang melakukan sesuatu. Tapi tubuhku kaku. Keringat dingin membasahi tubuhku. Kamu masih tersenyum. Aku tersiksa. Kemudian aku cepat-cepat pergi ke arah kamauanku. Kamu masih tersenyum. Tapi kamu pun pergi cepat-cepat ke arah kemauaanmu sendiri. Selama perjalanan aku masih memikirkan perkataanmu. Mencintai dan membeci sekaligus, apakah mungkin? Apakah dua kata berebeda ini berarti sama? Kenapa aku terjebak dalam suasana seperti ini? 
Sempat aku berpikir untuk tidak berjala-jalan. Pertemuan-pertemuan denganmu yang tak bisa kuhindari sangat mengangguku. Padahal jalan-jalan adalah kebiasaan yang tak bisa terpisahkan dari kehidupanku. Aku adalah jalan-jalan itu sendiri. Beberapa hari aku diam. Tapi aku tersiksa. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan ritualku, berjala-jalan kembali. Pertemuan denganmu adalah konsekuensi.

Pada suatu hari aku berjummpa lagi denganmu di tempat yang tak terduga sebelumnya. Tempat yang berbeda dengan waktu perjumpaan sebelumnya. Selalu begitu. Aku tertegun. Kamu tersenyum. Aku sekarang menunggu kamu berkata saja karena kemarin pun dia bicara tanpa aku bicara lebih dahulu. Kata-kata yang tak kuduga sebelumnya pula. Tapi kamu tak berkata juga. Kamu hanya tersenyum. Lama aku menunggu. Kamu pun mungkin merasa seperti itu. Kemudian aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dan aku katakan. Aku masih tertegun. Kemudian aku cepat pergi ke arah kemauanku sebelum aku dan kamu sempat mengucap sesuatu. Dan kamu pun pergi ke arah kemauanmu.

Kemudian aku tidak berjumpa lagi dengamu di tempat mana pun. Aku tak tahu kabar dan keberadaannmu. Aku tidak tahu apakah kamu tersenyum. Senyum yang itu. Dengan tatapan yang itu. Bola mata yang itu. Kelopak mata yang itu. Tiba-tiba aku ingin berjumpa denganmu. Tapi aku tidak tahu apakah kamu ingin berjumpa denganku. Kalau berjumpa denganmu apa yang harus aku katakan dan aku lakukan. Atau aku harus menunggu kamu berkata. Aku tidak tahu. Kemudian aku cepat-cepat membuang keinginanku untuk berjumpa denganmu.

Sukabumi, Januari 2004

Penulis adalah penikmat sastra