Wapres Jusuf Kalla mengaku dirinya memang lahir dan besar dari keluarga NU karena ayahnya H Kalla merupakan pendiri NU di Sulawesi Selatan. Suasana hidup yang religius dan kedekatan dengan para ulama sudah dijalaninya sejak usia muda.
“Saya lahir dan besar dekat dengan masjid karena bapak saya tidak mau membeli rumah kalau tidak dekat dengan masjid,” katanya dalam pertemuan dengan para petinggi PBNU di gedung PBNU, Rabu (6/5).<>
Kedekatannya dengan pengurus NU bisa dijalaninya saat para tokoh NU yang datang dari berbagai daerah, termasuk elit partai NU dari Jakarta jika melakukan kunjungan ke Makassar menginap di rumah ayahnya. Jusuf Kalla muda yang bertugas untuk melayani tamu-tamunya. Salah satu tokoh yang pernah dilayani adalah Subhan ZE, salah satu ketua NU tahun 70-an yang memiliki gaya hidup eksentrik.
Karena sudah akrab dengan tradisi NU, tak heran, kini ia dengan mudah bisa berkunjung ke berbagai pesantren dan bertemu para kiai dengan akrab. Baru-baru ini, ia berkunjung ke pesantren Buntet dalam rangka haul pendiri pesantren tersebut.
KH Hasyim Muzadi yang juga hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan, pemimpin Indonesia yang akan datang harus bisa menjaga keberlangsungan syiar Islam di Indonesia. Ia merasa terdapat kemunduran dalam dakwah Islam di Indonesia, salah satunya adalah semakin sepinya kegiatan di masjid Istiqlal yang merupakan masjid nasional.
Salah satu alasannya mengapa ia ikut dalam Pilpres 2004 adalah untuk menjaga Islam di Indonesia yang menghadapi tantangan liberalisme dan fundamentalisme. “Kita harapkan capres yang sekarang bisa “dititipi” agama,” tandasnya. (mkf)