Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

KH Ali Maksum Bapak Kedua Bagi Gus Mus

KH Ali Maksum Bapak Kedua Bagi Gus Mus
Yogyakarta, NU Online
KH Musthofa  Bisri (Gus Mus), menyebut KH Ali Maksum sebagai bapak kedua setelah ayahandanya; KH Bisri Mustofa. Ada banyak pelajaran dan uswah yang beliau dapatkan dari sosok KH Ali.

Menurut Gus Mus, tidak ada Kiai yang disapa dengan sapaan Pak. Kiai Ali disebut Pak Ali oleh para santrinya, tua dan muda.<>

“Iki ngopo? Iku mergo Kiai Ali iku mBapaki”(ini kenapa? Itu karena Kiai Ali kebapakan),” tutur Gus Mus. sehingga hampir semua santri dalam kenangan Gus Mus pasti merasa sebagai santri kinasihe (kesayangannya) KH Ali Maksum.

Gus Mus berkisah kedekatan santri dan Kiai Ali. Diantaranya, dulu KH Ali Maksum memiliki mikrofon yang timbal-balik (biasa untuk memanggil para santri dan suara santri bisa didengarkan oleh KH. Ali Maksum).

Suatu ketika ada santri yang “sengaja” mengeluh di depan mikrofon tidak memiliki uang agar di dengar Kiai Ali, sang Santri pun dipanggil dan dipinjami uang.

Cerita lainnya, KH Ali Maksum dalam penuturan Gus Mus memiliki berbagai aset, ia mengumumkan kepada para santri: “Sopo seng nyolong gonku, neng ora konangan, halal”, (siapa yang mengambil barangku, tapi tidak ketahuan, halal).

Lebih lanjut Gus Mus menggambarkan sosok KH Ali dengan sederhana, “Kiai Ali iku ngerti wong, gelem ngerungokke wong, ngewongke wong” (Kiai Ali itu mau mengerti orang, mau mendengarkan orang, dan memanusiakan manusia). “Cerminan sosok Kiai yang sulit ditemui pada saat ini”, demikian tutur Gus Mus.
Gus Mus dalam mauidhohnya juga menegaskan bahwa kearifan yang jarang ditemui dalam umat Islam sekarang ini.

Gus Mus menyerukan bahwa sudah seharusnya umat Islam meneladani sosok semisal KH Ali dan para ulama salafus shalih penerus para Nabi. KH Ali mengajarkan kesederhanaan, kecintaan kepada ilmu yang luar biasa dan kearifan yang mendalam. Sebelum acara ditutup, usai memberikan mauidhoh, Gus Mus juga dimohon memimpin do’a penutup haul.

Begitu rangkaian acara berakhir dengan lancar, ratusan santri, para mutakharrij dan masyarakat menyalami para ulama dan para tamu undangan yang hadir dengan takzim.

Berakhirnya pengajian malam itu menandai berakhirnya rangkaian acara dalam rangka haul KH Ali Maksum ke-22. Sebelumnya diselenggarakan pembacaan sholawat, majlis sema’an, temu kangen dan silaturrahim pengasuh dan para alumni serta khataman Qur’an-tahlil untuk KH Ali Maksum dan masyayikh di makam Dongkelan.

Acara haul yang rutin diadakan setiap tahun ini tidak lain merupakan upaya untuk mengenang kiprah dan perjuangan KH Ali Maksum mendidik umat. Ada banyak keteladanan yang telah diajarkan sosok KH Ali Maksum yang mesti direnungkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. (hmd)         

Warta Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya