HAUL KE-10 GUS DUR

Gus Dur Rangkul Semua Orang, Gus Ulil: Itu Semangat Aswaja

Gus Dur Rangkul Semua Orang, Gus Ulil: Itu Semangat Aswaja
Gus Ulil saat tampil pada Haul ke-10 Gus Dur di Bekasi, Sabtu (25/1) (Foto: NU Online/Aru Elgete)
Gus Ulil saat tampil pada Haul ke-10 Gus Dur di Bekasi, Sabtu (25/1) (Foto: NU Online/Aru Elgete)
Bekasi, NU Online
Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah sosok yang memiliki semangat merangkul semua kelompok. Sebuah semangat yang mendasari akidah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Hal tersebut diungkapkan intelektual muda Nahdlatul Ulama Ulil Abshar Abdalla dalam peringatan Haul ke-10 Gus Dur, di Pesantren Motivasi Indonesia, Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Sabtu (25/1).

"Gus Dur merangkul semua kelompok. Kecuali yang tidak mau dirangkul. Semua kelompok yang mau dirangkul, Gus Dur merangkulnya," kata Gus Ulil, begitu menantu KH Ahmad Mustofa Bisri itu akrab disapa.

Ia mengaku, menyaksikan langsung bagaimana kondisi kantor PBNU di era Gus Dur pada 1984-1999. Di sana, seringkali didatangi oleh berbagai kelompok. Termasuk golongan Kristen yang disesat-sesatkan oleh kelompok Kristen yang lain.

Baca juga: Gus Ulil: Ada 'Reinkarnasi' Gus Dur di Bekasi

"Tapi Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan, siapa pun diterima. Orang Papua, Timor-Timur, Dayak, Ahmadiyah, dan semua orang dari berbagai latar belakang datang ke kantor PBNU di Jakarta ketika itu," jelas Gus Ulil.

Dulu, menurutnya, kondisi kantor PBNU di Jakarta sangat memprihatinkan. Hanya ada dua lantai yang sangat berbeda dengan gedung PBNU yang saat ini berada di Jalan Kramat Raya itu.

"Walaupun kantor PBNU jelek sekali seperti itu, tapi semangatnya luar biasa. Pada saat Gus Dur memimpin NU, NU menjadi payung semua kelompok," jelas Gus Ulil.

Semangat Gus Dur yang mampu merangkul semua kelompok itu merupakan semangat Aswaja. Gus Ulil kemudian menjelaskan tentang makna Aswaja.
 
"Sebagaimana yang telah banyak diketahui, Ahlussunnah wal Jamaah terdiri dari istilah, yakni sunnah dan jamaah. Sunnah artinya adalah kelompok yang mengikuti laku-lampah Kanjeng Nabi. Sementara al-jamaah adalah kelompok yang membuka diri kepada semua orang," jelas Gus Ulil.

Baca juga: Hadiri Haul, Nyai Sinta Nuriyah Sumringah Disambut Tradisi Palang Pintu

Menurutnya, istilah al-jamaah itu berarti adalah kelompok yang tidak mendiskriminasi siapa pun. Al-jamaah adalah istilah lain dari gotong-royong. Semangatnta adalah kolektivitas. Maka, al-jamaah itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada semangat merangkul semua orang.

"Jadi Gus Dur itu merangkul semua orang dari berbagai kelompok. Gus Dur menerjemahkan Ahlussunnah wal Jamaah dengan merangkul dan menerima semua orang. Itulah sebabnya, Gus Dur menerima semua kelompok dengan tangan yang terbuka," pungkas Gus Ulil.

Selain Ulil Abshar Abdalla, hadir pula para tokoh lintas iman se-Bekasi Raya. Beberapa diantaranya adalah Tokoh Katolik Bekasi Romo Antonius Suhardi Antara Pr dan Romo Ambrosius Pantola Svd, Mubalihg Ahmadiyah Wilayah Jawa Barat 01 Maulana Ma'mun Ahmad Sahib, serta tokoh Gereja Kristen Pasundan Pendeta Suluh Sutia dan Pendeta Harry Kurniawan.

Acara Haul ke-10 Gus Dur di Bekasi ini dihadiri langsung oleh Nyai Hj Sinta Abdurrahman Wahid yang kedatangannya disambut oleh kebudayaan khas Betawi, yakni palang pintu. Kemudian acara ini dimeriahkan dengan penampilan shalawat perkusi dan musikalisasi puisi yang dibawakan oleh santri Pesantren Motivasi Indonesia.

Kontributor: Aru Elgete
Editor: Musthofa Asrori
 
BNI Mobile