Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Tak Cantumkan Pendiri NU, Kamus Sejarah Kemendikbud Tak Bisa Jadi Rujukan Pembelajaran

Tak Cantumkan Pendiri NU, Kamus Sejarah Kemendikbud Tak Bisa Jadi Rujukan Pembelajaran
Ketua Umum NU Circle, R. Gatot Prio Utomo. (Foto: dok. NU Circle)
Ketua Umum NU Circle, R. Gatot Prio Utomo. (Foto: dok. NU Circle)

Jakarta, NU Online

Ketua Umum NU Circle (Masyarakat Profesional Santri) R. Gatot Prio Utomo mengatakan bahwa Kamus Sejarah Indonesia yang diterbitkan Kemendikbud tidak bisa menjadi rujukan pembelajaran di sekolah dan madrasah.


Jika hal itu dilakukan, kata Gatot, generasi muda nantinya akan kehilangan tokoh-tokoh nasional, yang berjuang hidup dan mati, untuk merebut kemerdekaan bangsa Indonesia.


“Sejarah tidak boleh dihilangkan dengan cara-cara seperti ini. Jangan sampai kamus seperti ini disebarkan ke sekolah-sekolah dan menjadi rujukan pembelajaran. Hal ini bisa menyesatkan para siswa," ujar Gatot dilansir laman NU Circle.


Hal itu ditegaskan Gatot karena Pendiri NU, Hadhratussyekh KH Hasyim Asy'ari tidak dicantumkan dalam Kamus Sejarah Indonesia Jilid I terbitan Kemendikbud yang salinan lunaknya (softcopy) telah beredar luas.


Apalagi, dalam kamus tersebut, nama Gubernur Belanda HJ Van Mook justru dimasukkan. Diceritakan Van Mook lahir di Semarang 30 Mei 1894 dan meninggal di L’llla de Sorga, Perancis 10 Mei 1965. Tentara dan intelijen Jepang Harada Kumaichi juga dimasukkan dalam kamus. Tokoh lain yang justru ditemukan adalah tokoh komunis pertama di Asia Henk Sneevliet. 


“Melihat isinya, bisa dikatakan para pejabat Kemendikbud saat ini jauh lebih mengenal tokoh-tokoh penjajah Belanda dan Jepang daripada tokoh pejuang yang menjadi bapak umat Islam Indonesia dan imam warga NU. Ini harus diluruskan,” tegas Gatot. 


NU Circle berencana melayangkan surat resmi untuk memprotes tindakan Kemendikbud yang sangat tidak profesional ini. “Hampir semua produk dan kebijakan Mendikbud saat ini bermasalah dan membuat kegaduhan. Ini catatan penting buat mengevaluasi kinerjanya,” tandas Gatot.


Sebagai informasi, Kamus Sejarah Indonesia terdiri atas dua jilid. Jilid I Nation Formation (1900-1950) dan Jilid II Nation Building (1951-1998). Pada sampul Jilid I terpampang foto Hadhratussyekh Hasyim Asy’ari. Namun secara alfabetis, pendiri Nahdlatul Ulama itu justru tidak ditulis nama dan perannya dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.


Sebelumnya, Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah mencetak dan mengedarkannya kepada masyarakat. Hilmar juga menjelaskan bahwa naskah tersebut disusun pada tahun 2017 dan sampai sekarang belum ada rencana penyempurnaan.


“Naskah buku tersebut disusun pada tahun 2017, sebelum periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim. Selama periode kepemimpinan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, kegiatan penyempurnaan belum dilakukan dan belum ada rencana penerbitan naskah tersebut,” jelas Hilmar dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/4).


Hilmar meyakinkan masyarakat bahwa Kemendikbud selalu berefleksi pada sejarah bangsa dan tokoh-tokoh yang ikut membangun Indonesia, termasuk Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam mengambil kebijakan di bidang pendidikan dan kebudayaan. 


Bahkan, ia menyebutkan bahwa Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari juga dibangun oleh Kemendikbud. Pun Kemendikbud juga pernah menerbitkan secara khusus buku tentang kakek dari Presiden Keempat KH Abdurrahman Wahid itu.


“Museum Islam Indonesia Hasyim Asyari di Jombang didirikan oleh Kemendikbud. Bahkan, dalam rangka 109 tahun Kebangkitan Nasional, Kemendikbud menerbitkan buku KH Hasyim Asy’ari: Pengabdian Seorang Kyai Untuk Negeri,” terangnya.


Keterlibatan publik, menurutnya, menjadi faktor penting yang akan selalu dijaga oleh segenap unsur di lingkungan Kemendikbud. "Saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa tidak mungkin Kemendikbud mengesampingkan sejarah bangsa ini, apalagi para tokoh dan para penerusnya,” tandas Hilmar.


Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya