Nasional

Rahasia Khilma Anis Sukses Jual Buku Hati Suhita hingga 90 Ribu Eksemplar

Ahad, 28 Mei 2023 | 09:30 WIB

Rahasia Khilma Anis Sukses Jual Buku Hati Suhita hingga 90 Ribu Eksemplar

Khilma Anis penulis novel Hati Suhita. (Foto: instagram @khilma_anis)

Jakarta, NU Online 
Novel Hati Suhita karya Khilma Anis menyita perhatian masyarakat. Khususnya dunia pesantren. Berawal dari cerita bersambung di Facebook, novel itu mendapat sambutan positif dari banyak pembaca. Hati Suhita dibukukan menjadi sebuah novel pada 2019 dan berhasil memecahkan rekor penjualan puluhan ribu eksemplar.


Uniknya, buku ini diterbitkan secara minor dan tidak dijualbelikan di toko-toko besar. Kepada NU Online, Sabtu (27/5/2023), Khilma Anis mengungkap kesuksesan menerbitkan novel Hati Suhita yang kini penjualan lebih dari 90.000 eksemplar.


Mulanya, ia tengah menulis lanjutan dari novel berjudul Wigati karena kehabisan ide beralih menulis cerita lain berjudul Hati Suhita. Kemudian ia posting di beranda Facebook.


Ning Khilma, sapaan akrabnya, tak menyangka cerita bersambung (cerbung) itu mendapat perhatian banyak pembaca. Atas permintaan pembaca ia melanjutkan Hati Suhita hingga 13 bab.


Rencananya, ia akan melanjutkan menulis hingga 15 bab. Namun, terpaksa dihentikan lantaran cerbung yang dia buat susah payah, diplagiasi. Khilma dan suami memutuskan membukukan cerbung jadi sebuah novel.


“Saya butuh waktu tujuh bulan merampungkan cerita Hati Suhita menjadi 33 bab, utuh. Itu pun ngos-ngosan mestinya dari 13 bab kalau aji mumpung jadi 15 bab saja sudah cukup untuk dibukukan,” ungkapnya.


Alasan memilih Penerbit Indie
Usai merampungkan 33 bab, Khilma mencari Penerbit Indie di Yogyakarta. Ia memilih penerbit indie juga bukan tanpa alasan. Pertama, ia memegang prinsip Gus Jigang ajaran Sunan Kudus. Gus artinya bagus atau baik. Ji artinya ngaji dalam bentuk lain menulis. Sementara Gang tidak serta merta dimaknai berdagang.


“Ini adalah sebuah filosofi wujud kemandirian. Artinya, tidak bergantung kepada orang lain dan merdeka. Makanya, saya terbitkan indie,” ungkap Ning Khilma.


Kedua, ia ingin memberdayakan perempuan-perempuan yang menjadi mitra kerjanya agar mandiri secara mental dan ekonomi. Ada 200 lebih agen Hati Suhita yang tersebar di Jawa, luar Jawa, dan luar negeri. Kesemuanya adalah perempuan alumni pesantren, ibu rumah tangga, dan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri, khususnya perempuan.


“Saya pikir semakin banyak mitra semakin banyak doa. Jadi. saya enggak pernah merasa itu capaian saya sendiri. Saya selalu koar-koar pokoknya perempuan harus mandiri, tidak bergantung pada siapa pun. Mandiri bukan soal nominal, tapi mental. Itu yang selalu saya ajarkan,” ujar perempuan asal Jember, Jawa Timur, ini.


Ketiga, keuntungan yang didapat dari menerbitkan secara minor adalah laba yang dihasilkan untuk para agen. Royaltinya lebih dari yang dikasih penerbit mayor kepada penulisnya. Dari hasil penjualan buku, para agen dapat merenovasi rumah, membiayai pendidikan anaknya, serta pergi umroh.


Keempat, agar leluasa. Ia mengaku menyukai kemerdekaan termasuk merdeka dalam menentukan cover, editor, jumlah per halaman dan mengatur jadwal peluncuran buku. Mengingat dirinya dan suami memiliki kewajiban mengajar santri di pesantren.


“Kalau diterbitkan indie, jadwal kami yang ngatur. Mulai percetakan, distribusi dan pemasaran,” tutur Ning Khilma.


Libatkan 200 agen
Novel Hati Suhita dipasarkan melalui media sosial oleh 200 agen yang tersebar di seluruh Indonesia. Dari awal sampai kemudian muncul hasta karya berupa jilbab, mukena, tas, gelang, dan sebagainya digawangi oleh teman-teman agen Suhita. Suatu kali, Ning Khilma mendapat tawaran untuk memasukkan novelnya di toko-toko ternama, namun ia menolak.


“Setiap kali diminta masuk ke toko buku besar, kami selalu jawab, ’Ngapunten sanget, Suhita hanya dijual agen’. Bukan apa-apa, biar seragam harganya. Harga yang menentukan kami termasuk jika ada diskon. Jadi aturannya terpusat dari saya dan suami,” ujarnya.


Ning Khilma menuturkan setiap minggu mengirim 10.000 eksemplar. Tiap agen meminta stok buku 200 eksemplar yang disalurkan ke reseller dan dropshipper. Uniknya semua buku langsung laris.


Ada dua percetakan yang ia minta untuk menerbitkan karyanya karena permintaan semakin membludak. Dirinya juga dibantu para santri untuk pengemasan dan pengiriman buku.


“Kami sungguh-sungguh, walau dicetak indie, kami jaga betul quality control. Mulai dari pengiriman, resi, dan agen yang menjual alumni pesantren dan dalam dunia perdagangan sudah profesional. Jadi tidak ada kendala, mereka bisa distribusikan dengan baik nyaris tak ada masalah,” ungkapnya.


Ia mengatakan, sudah lima tahun novel Hati Suhita tidak pernah menurunkan harga jual. Harga masih tetap sejak pertama diluncurkan yakni 99 ribu. Meskipun grafiknya semakin meningkat apalagi saat film Hati Suhita tayang  sampai sekarang permintaan novel Hati Suhita terus bertambah.


“Ini nanti mau ganti cover seperti filmnya,” terang Ning Khilma.


Pelajari budaya
Ia memberikan syarat khusus kepada para agen agar mempelajari budaya dengan terus membaca ulasan novel, mengetahui proses filmnya agar dapat mengedukasi masyarakat. Prinsipnya agen Suhita adalah agen kebudayaan sebab penulisnya punya konsen menulis pesantren, dunia batin perempuan Jawa, wayang, dan lainnya.


“Mungkin itu jadi salah satu daya tarik karena di dunia modern saya hadir membawa sesuatu yang klasik tapi suasananya megah,” ucapnya.


Novel Hati Suhita berkisah tentang budaya perjodohan yang umum terjadi di pesantren. Menariknya, kisah cinta yang tertulis di dalamnya membuat novel Hati Suhita ini menjadi best seller hingga diangkat ke layar kaca.


Novel Hati Suhita ditulis oleh Khilma Anis, seorang perempuan yang tumbuh besar di lingkungan pesantren. Latar itu pula yang digunakannya dalam menuliskan kisah perjuangan Alina Suhita dalam novel Hati Suhita.


Ia menjelaskan sebelum angan-angan para pembaca bisa tertuang nyata menjadi sebuah film, Suhita sudah berjaya bersama pembacanya di Facebook. Ketika novel belum lahir, mereka setiap hari menanti kabar kelanjutan. Suhita punya ruh sendiri sebelum terbit jadi buku.


“Karena permintaan orang sebanyak itu, tiap hari berinteraksi dengan saya akhirnya Suhita menjadi sangat dekat,” pungkas Ning Khilma.


Kontributor: Suci Amaliyah
Editor: Musthofa Asrori