Nasional

PBNU: Kunci Kemajuan Pesantren dan NU Lewat Pendidikan

Ahad, 25 Agustus 2019 | 13:30 WIB

PBNU: Kunci Kemajuan Pesantren dan NU Lewat Pendidikan

Ketua PBNU, HM Nuh (kanan) di Pesantren Tebuireng, Jombang

Jombang, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Pendidikan Prof Muhammad Nuh menjelaskan kunci kemajuan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) terletak pada bidang pendidikan.
 
"Jadi jika NU mau maju, maka hal yang harus diutamakan adalah pendidikan yang artinya itu adalah totalitas," katanya.
 
Hal itu disampaikan pada acara refleksi 120 tahun perjalanan dinamika pendidikan pesantren di lantai tiga Aula Yusuf Hasyim Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
 
Menurut hemat Nuh, dengan mencerdaskan generasi muda NU, maka secara langsung juga mencerdaskan kehidupan umat Islam dan bangsa Indonesia. Dan dengan modal jutaan anggotanya di Indonesia, NU harus menjadikan pendidikan sebagai perhatian utama. 
 
Namun pendidikan yang ia maksud adalah pendidikan yang berkelanjutan dan sesuai zaman sekarang. Di mana kemajuan teknologi dan model pembelajaran modern sudah mewarnai pendidikan dunia.
 
"NU itu sudah memasuki masa menanam, masa tumbuh, dan masa stagnan. Dan sejujurnya NU saat ini dalam keadaan stagnan," tegas mantan Menteri Pendidikan RI ini.
 
Baginya, tantangan NU kedepan adalah memadukan pendidikan karakter dan sains di era revolusi industri 4.0. Menurutnya, jika NU mau maju maka harus melihat ke depan dan salah satu kunci untuk mengangkat masyarakat adalah dengan pendidikan serta adanya kepemimpinan yang benar-benar memiliki jiwa pemimpin.
 
"Indonesia akan menghadapi demografi devident beberapa tahun ke depan, di mana masa usia produktif benar-benar tinggi. saat itulah peran pemuda NU yang paham sain dan agama sangat penting untuk kebangkitan Indonesia," ujarnya.
 
Prof Nuh kemudian mengambil contoh kehidupan di era Nabi Muhammad, di mana nabi sangat memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Bahkan dalam banyak kegiatan, nabi melibatkan generasi muda yang cerdas. Seperti Sayidina Ali, Abdullah bin Umar, dan Abdullah bin Abas. 
 
"Dari sini terlihat nabi mempersiapkan generasi penerusnya yang hebat dalam ilmu agama dan cakap dalam politik. Siapakah sahabat nabi?, ternyata sahabat nabi mayoritas adalah anak-anak muda," bebernya.
 
Selanjutnya, Nuh juga mengomentari banyak pemuda yang hidup dalam keterbatasan tapi berhasil meraih prestasi. Pemuda model begini harus menjadi model dalam mencari ilmu. Karena berhasil mendobrak keterbatasan.
 
"Saat kaum dhuafa sudah bangkit, saat itulah Indonesia akan bangkit," tandasnya.
 
Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Muiz