Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Kiai Manarul Hidayat: Muktamar Itu Program Besar, Tidak Boleh Tergesa-gesa

Kiai Manarul Hidayat: Muktamar Itu Program Besar, Tidak Boleh Tergesa-gesa
Pengasuh Pesantren Al-Mahbubiyah Jakarta, KH Manarul Hidayat. (Foto: Istimewa)
Pengasuh Pesantren Al-Mahbubiyah Jakarta, KH Manarul Hidayat. (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online
Pengasuh Pesantren Al-Mahbubiyah Jakarta, KH Manarul Hidayat, berpendapat bahwa Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar di Provinsi Lampung agar dilaksanakan pada tahun 2022. Karena muktamar merupakan program besar, maka tidak boleh diadakan dengan tergesa-gesa. 


“(Muktamar) ini program besar untuk lima tahun ke depan. Jadi, harus dibicarakan serius, matang, dan tidak boleh tergesa-gesa. Saya sering katakan dalam mimbar-mimbar saat ceramah, kalau NU bagus insyaallah NKRI juga bagus,” kata Kiai Manarul kepada NU Online, Rabu (22/9/2021) malam.


Ditegaskan, NU merupakan satu-satunya ormas keagamaan di Indonesia yang memiliki doktrin ‘NKRI harga mati’. Kiai Manarul menegaskan bahwa persiapan muktamar harus memastikan situasi sudah benar-benar aman dari Covid-19 agar seluruh kegiatan bisa dilaksanakan dengan lancar. 


“Kalau pendapat saya, (muktamar) sebaiknya diundur tahun 2022. Supaya lebih matang lagi persiapan baik konsep atau pun pelaksanaannya. Jadi, kalau umpamanya Desember, lah besok sudah Oktober, terus November. Ormas sebesar kita persiapan dua bulan itu berat. Menurut saya, muktamar sebaiknya diundur 2022. Desember kan tinggal besok,” tegasnya. 


Ia juga mengakui bahwa situasi Covid-19 saat ini sudah mulai melandai. Akan tetapi, virus itu belum sepenuhnya hilang. Meski begitu, Kiai Manarul mengingatkan soal karakter muktamar yang disebutnya sebagai reuni besar para kiai sepuh sehingga dikhawatirkan bakal timbul kerumunan. 


“Tapi, walau bagaimana pun yang namanya NU kalau ada muktamar, kiainya datang satu kan pengikutnya datang 10. Saya saja minimal 15 (orang pengikut). Apa bisa nanganin yang begini? Jadi, gitu pertimbangan saya,” katanya.


“Jadi, karakter muktamar merupakan reuni besar. Bukan hanya para ulama dan pengurus formal, santri-santri juga akan ikut sama kiainya. Itu juga harus kita pikirkan. Tapi kalau 2022 insyaallah sudah aman,” imbuh Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu. 


Muktamar daring 
Selain itu, Kiai Manarul juga tidak sepakat jika muktamar diadakan secara daring. Sebab, di dalam forum itu akan membahas berbagai persoalan penting dan bakal banyak kendala kalau muktamar tidak dilakukan secara tatap muka. 


“Kalau saya sih nggak sependapat pakai daring. NU nggak punya tradisi begitu. Sabar dulu, yang penting program jalan. Jadi sekali lagi, kalau muktamar melalui daring saya nggak setuju. Debatnya nggak seru,” ungkap kiai jebolan Buntet Pesantren Cirebon itu. 


Usulan-usulan mengenai pelaksanaan Muktamar ke-34 akan dikemukakan di dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, pada 25-26 September 2021. 


Kiai Manarul lantas mewanti-wanti kepada peserta Munas-Konbes NU agar mampu menjalankan musyawarah dengan tertib dan kondusif. Segala macam perdebatan dan usulan, harus bisa diselesaikan secara baik sehingga tidak menimbulkan citra buruk ke pihak luar. 


“Kita kan muridnya Mbah Hasyim Asy’ari. Beliau nggak ngajarin begitu. NU itu rumah besar sehingga kalau ribut di dalam rumah saja. Jangan sampai ada suara ke tetangga, nggak boleh. Kalau ribut di dalam saja karena kan kita keluarga,” harap Kiai Manarul.


Selain itu, Kiai Manarul berharap agar peserta Munas-Konbes NU dapat bersikap dewasa dalam menyelesaikan persoalan dengan kesadaran hanya untuk berkhidmat kepada organisasi yang menjadi wadah para ulama berkumpul. 


“Tunjukkan bahwa kita betul-betul membela NU. Ingat, NU itu sekarang jadi harapan negar, bahkan dunia. Dunia ini keheranan sama Indonesia karena mayoritas Islam kok orangnya santun-santun kepada nonmuslim. Nah, itu karena NU-nya besar. Bagaimana jadinya kalau kita (pengurus) NU-nya pada ribut? Begitu,” ujar Kiai Manarul.


“Lalu NU sebagai ormas yang tawassuth, tawazun, mengedepankan musyawarah mufakat lalu ribut, kemudan siapa yang jadi teladan di Indonesia ini? Sekarang NU ini jadi teladan betul buat ormas-ormas yang lain,” tambahnya.


Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Musthofa Asrori


Terkait

Nasional Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya