Opini

'Tilik' dan Kearifan Pedesaan

Ahad, 23 Agustus 2020 | 06:00 WIB

'Tilik' dan Kearifan Pedesaan

Tangkapan layar salah satu adegan dalam film "Tilik" saat ibu-ibu menaiki truk dan berurusan dengan polisi.

Publik Indonesia baru-baru ini diramaikan dengan perbincangan sebuah film pendek yang tayang di kanal Youtube. Film itu berjudul “Tilik”. “Tilik” diproduksi oleh Ravacana Films bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DIY. Film ini sebenarnya bukan film baru. “Tilik” diproduksi tahun 2018. Sebelum ramai jadi perbincangan seantero negeri, “Tilik” sudah menorehkan prestasi tersendiri, di antaranya sebagai Film Pendek Terpilih Piala Maya 2018, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, dan Official Selection Word Cinema Amsterdam 2019.

 

“Tilik” mengandung cerita yang sederhana. Para ibu warga desa bersama-sama menaiki truk untuk menjenguk Bu Lurah di rumah sakit. Sepanjang perjalanan, mereka asyik bergosip ria seputar kehidupan Dian, kembang desa di tempat mereka. Berbagai macam asumsi dan tuduhan mereka alamatkan pada Dian, mulai dari bekerja secara tidak baik hingga hobi menggoda suami orang. Ritual ghibah terasa asyik dan luwes dilakukan oleh tokoh Bu Tedjo. Sementara antitesisnya, tokoh Yu Ning, terus-menerus meminta Bu Tedjo untuk tidak percaya terhadap kabar tentang Dian yang belum tentu benar. Saling timpal antara Bu Tedjo dan Yu Ning sempat menemui titik klimaks saat keduanya perang mulut dengan seru.

 

Sejak diluncurkan pada tanggal 17 Agustus, selang empat hari film ini sudah lebih dari 4 juta kali ditonton masyarakat. Perbincangan tentang “Tilik” ramai bergaung di berbagai sosial media. Beberapa friendlist saya ada yang membuat ilustrasi fan art untuk mengapresiasi tokoh Bu Tedjo yang berhasil diperankan dengan baik. Yang terkini, nukilan gambar dari “Tilik” juga dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk dijadikan sticker whatsapp. Qoute dari Bu Tedjo ramai digunakan di sana-sini, “Dadi wong ki mbok sing solutip”. Artinya, jadi orang itu harus solutif!

 

Kritik dan apresiasi juga ramai bersliweran. Ada yang bilang, “Tilik” dianggap membangun streotipe kurang baik terhadap jilbab dan perempuan. Ada juga yang berpendapat “Tilik” tidak berhasil menyampaikan gagasan antihoaks. Sementara, ada yang bilang film ini adalah bentuk ironi kehidupan yang bisa diterjemahkan sendiri-sendiri oleh penonton. Ada juga yang berpendapat, sineas “Tilik” berusaha memotret apa yang sebenarnya terjadi di latar tempat “Tilik” bercerita, warga desa dari Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Jadi, gagasan ala masyarakat urban dianggap kurang pas bila diimplementasikan terhadap kultur warga di wilayah pedesaan agraris seperti Mbantul.

 

Saya sendiri menikmati berbagai kritik dan apresiasi yang ramai di sosmed. Saya anggap ini adalah bentuk keniscayaan di setiap produk budaya yang dinikmati orang banyak. Dan, di antara berbagai pro dan kontra terhadap “Tilik”, saya kok menyetujui satu hal. “Tilik” membuat penonton seolah bercermin. Sebagai makhluk sosial, para netizen di negara +62 ini pastinya tidak lepas dari perbuatan ghibah dan ngegosip. Itulah kenapa banyak sekali yang merasa relate terhadap tokoh Bu Tedjo, seakan melihat sebagian dari dirinya pada sosok ini. Bu Tedjo adalah kita! :D

 

Kearifan Warga Desa

Orang boleh memperbincangkan “Tilik” secara ndakik-ndakik dengan perspektif setinggi langit. Namun, saya sendiri lebih tertarik dengan kearifan masyarakat pedesaan yang ditampilkan di sana. Premis ceritanya langsung mengena. Warga desa beramai-ramai mengunjungi Bu Lurah ke rumah sakit. Kultur sama rasa ala warga desa langsung terasa di sini. Banyak yang percaya bahwa orang desa itu kompak. Kalau ada warga yang kena musibah, warga lain bakal turun tangan buat membantu meringankan beban. Ada yang membantu pakai amplop isi uang, ada yang dalam bentuk pangan, atau sekadar datang dan urun tenaga.

 

Saya langsung klop saat scene pertama muncul. Ibu-ibu rela berdiri di bak truk untuk mengunjungi tetangga mereka yang tengah sakit. Kejadian ibu-ibu naik truk ini unik dan wong ndeso banget. Saya langsung teringat pemandangan serupa yang sampai sekarang masih saya temui di daerah Pantura tempat saya berasal. Adalah penampakan yang lumrah ketika kita melihat ibu-ibu desa berdesakan di bak pick up buat menghadiri majlis pengajian. Terkadang ada yang kompak pakai seragam. Ada yang bawa bekal seadanya. Ada juga yang sambil membawa payung biar tidak kepanasan.

 

Ibu-ibu di “Tilik” rela naik truk karena ingin segera menjenguk Bu Lurah. Ketika truk mogok di tengah jalan, ibu-ibu sekuat tenaga mendorong truk. Adegan yang lucu, dan membuat saya membayangkan kembali sosok ibu-ibu di desa. Mereka ini kaum strong sebenarnya. Pagi menyiapkan makan buat keluarga. Terus ke pasar buat belanja. Ada yang ke sawah atau ke tambak buat bekerja. Siang atau sore baru pulang. Malam ikut jamaah ke masjid. Di hari tertentu jalan ramai-ramai ke pengajian. Yah, secara sederhana begitulah gambaran di daerah saya.

 

Begitu sampai di rumah sakit, ibu-ibu di “Tilik” menyerahkan uang hasil sumbangan kepada putra Bu Lurah. Dari kostum yang mereka kenakan, saya menyimpulkan ibu-ibu di atas truk tadi tidak semuanya orang kaya. Tapi, mereka kompak buat menyumbang ke Bu Lurah yang tengah sakit. Entah berapa uang yang masing-masing disumbangkan, yang jelas saya melihat nilai kekompakan dan kebersamaan saat tokoh Yu Ning mewakili teman-temannya menyerahkan uang yang terkumpul kepada putra Bu Lurah.

 

Orang boleh merasa terkoneksi dengan “Tilik” karena aksi nyinyir yang dilakukan Bu Tedjo. Sebuah aksi yang sebenarnya tidak hanya dilakukan warga desa, namun manusia di mana pun dia berada. Namun, “Tilik” membungkus aksi yang relatable tadi dengan latar suasana yang khas dan kuat. Desa adalah tempat yang menyimpan berbagai kearifan. Dalam “Tilik”, kearifan terpancar dari semangat kebersamaan yang dimiliki tokoh-tokoh ibu-ibu. Dari kompak pergi menjenguk, rela bersusah di atas truk, gotong royong mendorong truk yang mogok, sampai urun menyumbang ke keluarga Bu Lurah. Nilai kebersamaan ala wong ndeso itu bagi saya penting adanya, di saat arus globalisasi kini terus mendera lewat dunia maya.

 

 

Muhammad Daniel Fahmi Rizal, komikus dan Alumni Pesantren Ciganjur. Kini tinggal di tepi Pantai Utara Jawa