Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Wasilah Manakib Nurul Burhani Hajat Terkabul

Wasilah Manakib Nurul Burhani Hajat Terkabul
Pengajian bakda Subuh, Senin (12/8).​​​​​​ di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat.
Pengajian bakda Subuh, Senin (12/8).​​​​​​ di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat.
Kota Banjar, NU Online
Setiap orang dapat berdoa dapat menggunakan wasilah yang berbeda-beda. Salah satunya dengan membaca Manakib Nurul Burhani. Tujuannya, agar semua hajat keinginan dikabulkan oleh Allah Swt.

Hal tersebut diungkapkan oleh Nyai Ishomah Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat dalam pengajian bakda Subuh, Senin (12/8).

Pembacaan rutinan Manakib Nurul Burhani dilakukan setiap tanggal 11 Hijriah di setiap bulannya. Kitab manakib yang berjudul lengkap An-Nur Burhani merupakan karya Syekh Muslih Abdurrohman Al Maroqi dengan wasilah Syekh Abdul Qadir Al Jailani.

Umi Is, sapaan akrabnya mengimbau kepada santri putri untuk patuh dan takdzim terhadap guru guru yang telah mengajarkan kepada kita. 
 
"Kita itu orang biasa, bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa. Kalau kita berdoa, alangkah baiknya dengan wasilah para kekasih Allah yaitu Syekh Abdul Al Jailani," paparnya sebelum memulai pengajian. 

Ia juga mengatakan bahwa Syekh Abdul Qadir merupakan wali Allah yang paling dekat dengan kita dan paling tinggi derajatnya. 
 
"Semoga dengan wasilah ini kita mendapat berkah," harapnya disambut "Amin" oleh ratusan santri.  

Selain itu, Umi Is berpesan agar selalu berteman dengan orang orang shaleh dan orang-orang baik. Ia mengumpamakan jika berteman dengan penjual ikan asin maka akan terkena bau ikan asin tersebut. Berbeda lagi jika berteman dengan penjual minyak wangi, akan ikut tercium wanginya.
 
Di Pesantren Al Azhar Citangkolo, sebagian besar santri putri mengaji langsung kitab tersebut  kepada Umi Is. Setelah khatam dan benar membacanya, akan diijazahi oleh Kiai Muslih Abdurrohman, guru Umi Is ketika nyantri di Pesantren Futuhiyah Mranggen, Demak, Jawa Tengah. (Siti Aisyah/Kendi Setiawan)


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya