Home Nasional Khutbah Warta Daerah Fragmen Ubudiyah Internasional Keislaman Sirah Nabawiyah Risalah Redaksi English Tafsir Opini Hikmah Nikah/Keluarga Video Obituari Tokoh Hikmah Arsip

Pesantren Motivasi Indonesia Jadi Tempat Pengungsi Warga Terdampak Banjir Bekasi

Pesantren Motivasi Indonesia Jadi Tempat Pengungsi Warga Terdampak Banjir Bekasi
Warga terdampak banjir mengungsi di Pesantren Motivasi Indonesia Bekasi, Jawa Barat. (Foto: dok Pesanten Motivasi Indonesia)
Warga terdampak banjir mengungsi di Pesantren Motivasi Indonesia Bekasi, Jawa Barat. (Foto: dok Pesanten Motivasi Indonesia)

Jakarta, NU Online
Pesantren Motivasi Indonesia, Setu, Bekasi menjadi salah satu tempat pengungsian bagi warga terdampak banjir di Bekasi. Total pengungsi di sana terdapat 38 jiwa dan 23 di antaranya adalah orang dewasa. Sisanya, anak kecil dan bayi. 

 

Salah seorang guru di Pesantren Motivasi Indonesia, Muhammad Shofiyulloh menuturkan bahwa seluruh pengungsi berasal dari perumahan Mustika Grande dan perkampungan sekitarnya. Para pengungsi itu tiba di pesantren sejak Sabtu (20/2) kemarin. 

 

“Jadi (pengungsi) yang ke sini hanya dari (Perumahan) Grande dan warga perkampungan sekitarnya yang kena (banjir) juga. Mereka datang sejak kemarin siang, karena air mulai naik pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Jadi mereka di sini sudah dua hari satu malam,” ungkap Shofi, saat dihubungi NU Online, Ahad (21/2) siang.

 

Pesantren Motivasi Indonesia memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh para pengungsi. Santri-santri dikerahkan untuk melayani masyarakat yang rumahnya terendam banjir hingga seukuran leher orang dewasa. Aula utama pesantren dijadikan sebagai tempat sementara bagi korban banjir.

 

“Kita sediakan makan, biskuit, susu untuk bayi, dan jajan untuk anak-anak. Terus mie instan, kopi, energen. Dispenser, kompor, dan wadah untuk makan-minum juga disediakan. Mereka tidur di aula utama, pakai matras, dan mereka kebanyakan bawa selimut sendiri,” jelas pria yang akrab disapa Kang Opi ini.

 

Di aula tersebut, dibuat sekat pemisah antara laki-laki dan perempuan. Sekat itu merupakan hijab atau satir yang ada di masjid pesantren. Tak hanya itu, pihak pesantren pun membagikan masker dan hand sanitizer kepada para pengungsi.

 

“Tapi ada beberapa yang nggak bawa apa-apa, nggak bawa kasur juga. Akhirnya dipinjamkan kasur santri yang kemarin dijemur dan belum sempat dibawa ke atas. Kasur dipinjamkan terutama yang punya anak-anak kecil,” bebernya.

 

Ia menyampaikan pula sambutan yang dilakukan oleh Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia KH Nurul Huda Haem (Enha) saat menerima para warga terdampak banjir mengungsi di sana. Kiai Enha justru berpesan kepada santri untuk menjalani hidup prihatin. Karena itu, para santri diminta untuk terus melayani dan memberikan fasilitas ternyaman kepada warga pengungsi.

 

“Harusnya kita lebih prihatin. Karena mereka dengan nggak tidur di rumah saja, itu sudah satu penderitaan tersendiri. Maka kita harus fasilitasi dengan sebaik mungkin dan segala perlengkapan difasilitasi,” kata Kiai Enha, disampaikan Kang Opi.

 

Pengungsi didominasi oleh kalangan perempuan alias ibu-ibu. Karena itu Ny Hj Nunung Umi Kalsum, pagi tadi, memimpin kegiatan doa bersama. Sementara anak-anak pengungsi diajak main oleh para santri perempuan.

 

“Jadi agenda pertama itu baru kita buka semalam. Perkenalan dan ucapan selamat datang di Pesantren Motivasi Indonesia. Dikasih motivasi juga supaya para pengungsi itu tetap semangat dan bersyukur. Pagi tadi juga ada acara doa bersama sama Bunda Nunung dan anak-anaknya diajak main sama mbak-mbak santri,” jelas Opi.

 

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa santri dan guru Pesantren Motivasi Indonesia bertugas untuk menyisir daerah-daerah sekitar, kemudian melakukan evakuasi atau membagikan makanan siap saji. Karena itu, akhirnya diputuskan untuk membuat perahu darurat yang terbuat dari pohon pisang dan papan di atasnya. 

 

Perahu darurat itu merupakan inisiatif para santri, setelah sekian lama menghubungi Tim SAR dan Polsek Setu yang tidak ada jawaban. Sebab, perahu karet sudah terpakai semua untuk mengevakuasi korban banjir di wilayah Bekasi yang lain.  

 

“Akhirnya inisiatif menebang pohon pisang untuk bikin perahu. Nah itu untuk membawa logistik sekaligus mengevakuasi anak-anak yang memang menjadi murid di PMI dari rumahnya. Jadi untuk evakuasi sekaligus anter logistik. Ada papan di atas gedebog pisang. Muat satu orang dan ditarik,” ungkap alumnus Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur ini.

 

Selain itu, dapur umum Pesantren Motivasi Indonesia juga terus bekerja. Kemarin, menyediakan sekitar 600 nasi bungkus untuk dibagikan kepada para pengungsi dan warga sekitar yang tidak mengungsi. Hari ini disalurkan 300 nasi bungkus, sehingga target rencananya akan mencapai lebih dari 1000 nasi bungkus.

 

“Kita kasih ke perumahan-perumahan sekitar yang tidak mengungsi. Sama orang-orang kan ngurusin banjir sampai lupa makan. Tadi pagi ngecek banjir sekaligus ngecek wilayah yang sekiranya butuh bantuan,” ungkapnya.

 

Berdasarkan data Pemkab Bekasi menunjukkan bahwa pada Sabtu kemarin, terdapat 17 kecamatan dan 40 desa/kelurahan banjir. Sementara itu, banjir menggenang di 82 titik dan lebih dari sebelas ribu keluarga terdampak banjir.

 

Pewarta: Aru Lego Triono
Editor: Kendi Setiawan


Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya