Home Warta Fragmen Quran New Keislaman English Opini Tokoh Hikmah Download Kesehatan Lainnya Nasional Esai Khutbah Ubudiyah Cerpen Daerah Seni Budaya Internasional Sirah Nabawiyah Tafsir Risalah Redaksi Hikmah Nikah/Keluarga Obituari Ramadhan Pustaka Humor

Perdebatan Emosional Cermin Kemunduran Islam di Indonesia

Perdebatan Emosional Cermin Kemunduran Islam di Indonesia
Sayang sekali agama dalam perkembangan pascareformasi ini semakin dibawa ke dalam perdebatan emosional dan bukan masalah intelektual.
Sayang sekali agama dalam perkembangan pascareformasi ini semakin dibawa ke dalam perdebatan emosional dan bukan masalah intelektual.

Malang, NU Online
Di media sosial kerap marak perdebatan tentang bid'ah atau tidak suatu amalan. Perbincangan itu bukan hanya menguras emosi para pelaku debat tapi juga kadang memicu saling komentar negatif kepada lawan bicara. 


Luqman Ahsanul Karom, pengajar di Pondok Pesantren PPAI An-Nahdliyyah Kepuharjo Karangploso Malang, Jawa Timur, menilai fenomena tersebut merupakan cermin kemunduran perkembangan Islam di Indonesia, khususnya ketika perdebatan tersebut dilakukan oleh para akademisi.


Ketua Pergunu Kecamatan Karangploso ini dalam hal ini mengingatkan tentang diskusi wacana keislaman yang berkembang di Indonesia sejak tahun 1970-an sampai dengan 1990-an.


"Kita melihat, kalangan intelektual muslim di UIN dan IAIN dulu seperti Nurcholis Madjid, Gus Dur, dan sebagainya sudah mendiskusikan masalah-masalah besar," katanya saat ditemui NU Online di kediamannya.


"Mereka sudah membincangkan bagaimana membentuk masyarakat madani, pribumisasi Islam, dan semacamnya. Bukan lagi masalah-masalah bid'ah. Ini sudah selesai sudah lama," tambahnya.


Ustadz yang juga alumni Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) ini menyayangkan bahwa agama dalam perkembangan pascareformasi ini semakin dibawa ke dalam perdebatan emosional dan bukan masalah intelektual. Dampaknya, agama menjadi identik dengan emosi dan kemarahan.


"Sayangnya sekarang ini agama dibawa ke dalam ranah emosional. Jadi agama identik dengan pelampiasan emosi saja," kata pria yang juga aktif di kepengurusan GP Ansor ini.


Menurutnya, di pesantren memang berkembang juga tradisi debat. Tapi, diskusi masih dalam ranah intelektual. Adu pendapat boleh sengit, tapi argumentasi tetap harus dikedepankan dan setelahnya peserta diskusi akur kembali. 


"Maka, tugas kita sebagai orang pesantren harus meningkatkan kedewasaan masyarakat dalam beragama," pungkasnya.


Kontributor: R. Ahmad Nur Kholis
Editor: Mahbib



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Daerah Lainnya

Terpopuler Daerah

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×