Cerpen

Si Pemalu Menang Pemilu

Ahad, 11 Februari 2024 | 14:00 WIB

Si Pemalu Menang Pemilu

Ilustrasi (Freepik)

Cerita Pendek Dimas Djayadinekat
Menjelang pesta pemilihan, hingar bingar dapat dirasakan oleh siapa pun. Selebaran, poster, spanduk beragam ukuran, stiker, bendera partai bertebaran di mana-mana. Mata pun merasakan kesemarakan, meski banyak pula yang mengabaikan foto serta slogan dari para tokoh (atau yang menokohkan dirinya) di dalam alat kampanye itu.

 

Dari sekian banyak perangkat kampanye yang juga masuk ke gang-gang kecil bahkan sampai ke depan pintu rumah, tidak ada nama anak muda dari Gang Panci, Abdul Hayat alias Yayat. Siapakah dia?

 

Di sekitar Gang Panci sampai ke seantero kelurahan, nama Yayat sebagai tokoh pemuda Karang Taruna sangat dikenal. Bukan karena keterampilannya berbicara, tapi karena peran aktifnya dalam turun tangan berkegiatan sosial.


Bahkan Si Yayat ini dikenal sebagai pemuda pemalu yang beruntung. Santri santun yang rendah hati dan jujur. Itu pula brand image dirinya di sekitar Gang Panci hingga kelurahan. Dibilang beruntung karena ia baru setahun ini menikahi gadis cantik putri seorang lurah.


Jamila nama si gadis, nama yang cocok antara paras dan artinya, cantik fisik dan juga pribadinya. Mereka pun mendadak jadi idola di Gang Panci yang warganya tahu betul kehidupan keluarga baru dengan sang nahkoda bahtera rumah tangga nan pemalu itu.


Yayat tak pernah banyak omong, namun setiap berbicara, isi perkataannya 'full quotes'. Pokoknya paslah untuk status di media sosial, bagi para netizen di Gang Panci dan sekitarnya. Panutan pokoknya, sehingga datanglah tawaran dari seorang petinggi partai di daerahnya yang sedang mencari calon legislatif untuk memenuhi kuota peserta pemuda.

 

Yayat sempat gamang, apalagi ketika Jamila pun mempertanyakan kesiapan serta kesungguhan suami pemalunya itu.

 

"Mas, kamu yakin bakal menerima tawaran itu? Jadi caleg itu berat lho. Lagipula, kamu kan nggak punya duit. Lha wong untuk makan aja kita pas-pasan banget toh?"Jamilah tampak khawatir.

 

"Yakin nggak yakin juga sih," kata Yayat ragu.

 

"Lha gimana toh? Kalau kamu nggak yakin, mending ditolak. Jangan suka ngasih harapan. Jangan suka PHP. Belum jadi caleg aja kamu sudah PHP-in orang," nasihat Jamila.


"Kalau menurut kamu, apa aku pantas?" tanya Yayat.


"Nggak usah aja lah. Kamu malah nggak yakin gitu. Kalau jadi pimpinan nggak yakin, terus menerima kepemimpinan tapi nggak tahu apa yang harus dilakukan, bisa diamuk massa nanti kamu."

 

Yayat bertanya seperti itu kepada Jamila bukan tanpa alasan. Istrinya itu adalah istri yang S IP alias Sarjana Ilmu Politik. Itulah makanya ia dibilang beruntung, dapat istri cantik, pintar, shalehah dan anak mantan lurah. Meski Yayat juga bukan orang bodoh, namun ia seorang santri yang kini masih harus menyelesaikan gelar Sarjana Agama. Itu pun berkat dukungan istri dan bapak mertuanya.


Sempat terlintas di benak Yayat, jangan-jangan ia ditawari adalah karena istri dan bapak mertuanya yang boleh dibilang lebih tinggi derajatnya daripada dirinya itu.


"Aku ini nanya ke kamu, karena kamu kan sarjana politik. Kamu pasti lebih tahu tentang politik daripada aku."

 

"Mas, sehebat apa pun aku dan tim kamu kelak, yang bakal jadi wakil rakyat dan pemimpin itu kan kamu. Jadi bekal utama kepemimpinannya ya harus ada di kamu dulu. Jangan sampai kamu dikritik karena lemah dan tidak berwawasan. Ini bukan karena aku malu, tapi itu bakal jadi pertanggung jawaban kamu di mata Allah. Di sisi itu, aku rasa kamu sebagai santri lebih paham," kata Jamila memberikan jawaban panjang dan penuh makna.


"Berat juga ya."

 

"Itulah. Dan aku nggak mau, kamu seperti yang aku tahu dari berita-berita, sekadar menerima tawaran karena melihat ada peluang besar untuk mengubah kehidupan, kamu lantas ambil. Ini urusannya nyawa dan akhirat lho mas. Kamu jadi wakil rakyat, di komisi apa pun, jika ada hal yang menyeleweng dari harapan mereka, terus mereka mati karena kamu dengan beragam alasan, itu jadi tanggunganmu di akhirat. Bisa jadi kamu bakal dituntut nanti di pengadilan akhirat. Mau?”

 

"Waduh, aku ini cuma nanya, kok malah dapat ceramah."

 

"Salah sendiri kamu nanya aku masalah beginian. Aku kan belajar," ujar Jamila sambil tersenyum melihat kepolosan suaminya yang rendah hati itu.

 

Di dalam hatinya, Jamila yakin jika pun harus menerima tawaran petinggi partai itu, Yayat pasti sanggup. Ia yakin akan kepribadian suaminya yang penuh tanggung jawab dan jujur itu. Sebagai teman hidupnya, meski belum lama, ia sangat tahu luar dalam Yayat seperti apa. Namun, Jamila tak ingin memujinya secara berlebihan agar Yayat tak besar kepala dan lupa diri.

 

Yayat diberi waktu tiga hari untuk berpikir oleh si petinggi partai di wilayahnya itu. Dan selama tiga hari itu pula beban pikirannya bertambah berat. Selain diskusi dengan istrinya, bermohon petunjuk Allah, ia pun coba meminta nasihat sang mertua.


“Kalau menurut bapak, ini dari sudut pandang politik pemerintahan ya, melihat pengalaman dan kepribadianmu, rasanya kamu cukup layak dibandingkan beberapa nama di spanduk yang bapak cukup kenal orangnya," ucap bapak mertuanya positif.

 

"Tapi saya nggak pintar ngomong, Pak."

 

"Pintar ngomong kayak apa dulu nih? Kamu kan kader Karang Taruna dan sudah biasa berorganisasi di mana-mana. Kalau untuk sekadar kata sambutan saja, masa kamu nggak bisa?”


"Kalau nanti saya keliling ke daerah pemilihan gimana?"

 

“Simpel sih Yat. Kalau kamu nggak yakin, jangan. Tapi kalau aku, Mila, dan mungkin teman-temannu juga yakin, masa kamu malah minder?"

 

"Tapi saya nggak punya uang."

 

"Nah ini. Inilah yang kadang juga bapak pikirkan. Sistem politik kita ini boros. Mereka yang punya kemampuan tapi nggak punya uang sudah pasti bisa tergeser dengan mereka yang kaya tapi bodoh."

 

"Sampai segitunya kah Pak?"

 

"Iya. Banyak hal yang nggak dipikirkan, sampai ke masalah kebersihan. Padahal agama kita mengajarkan bahwa kebersihan adalah sebagian daripada iman."

 

"Kebersihan?"

 

"Iya. Sederhana saja, mereka para caleg ataupun capres, timsesnya sembarangan saja pasang atribut partainya di sembarang tempat. Sesudah terpasang, siapa yang membersihkannya coba? Anak buah bapak, satpol PP dan mereka yang sama sekali nggak terkait dengan timses."

 

"Memang begitu ya?"


"Coba saja kamu lihat nanti."

 

Yayat pun masih berpikir keras. Yang pasti, mertua, orang tua dan istrinya mendukung, kuncinya semua ada pada dirinya. Dan sebenarnya, apa yang mereka sampaikan kepadanya adalah benar. Yayat merasa sanggup dari sisi itu. Ia hanya gamang masalah pendanaan untuk memobilisasi saat kampanye nanti.


"Mas Yayat nggak usah khawatir tentang itu. Ada saja kok kisahnya caleg yang berhasil tanpa banyak uang atau sama sekali tak punya uang. Ini yang penting kan masalah kuota peserta pemuda dari partai kami. Kader kami kurang dan kami dengar serta teliti, Mas Yayat ini mumpuni dan punya potensi suara signifikan. Mas Yayat ini sudah punya basis massa, rasanya untuk sekadar mendulang suara 10 ribu sampai 20 ribu suara saja aman. Sisanya nanti kami bantu dengan timses partai."

 

Yayat manggut-manggut dan coba menerima semua masukan itu sebagai motivasinya sambil ia terus belajar tentang prosedural kampanye serta apa yang harus dilakukannya jika terpilih.

 

Tibalah masa pemungutan suara, masa paling menegangkan setelah ia menerima tawaran serta berkampanye.

 

Semua masukan istri, mertua dan petinggi partai itu diterima serta dilaksanakannya, termasuk saat di masa tenang, ia memilih cara berbeda untuk memimpin langsung pencabutan atribut kampanye dengan menggerakkan pemuda Karang Taruna. Padahal atributnya paling sedikit, nyaris tak terlihat bahkan, tapi ia bahu-membahu bersama satpol PP dan elemen pemerintah lainnya untuk membersihkan semua perangkat kampanye di jalan itu.


Meski deg-degan, Yayat coba untuk meniadakan beban sama sekali di pikirannya. Dan sungguh mengejutkan ketika ternyata namanya berada di peringkat atas sebagai caleg DPRD di wilayahnya.

 

Air mata Jamila mengambang di pelupuk mata, Yayat pun tak tahu harus berbuat apa untuk beberapa saat.

 

“Astagfirullah al adzhiim…innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…" ucapnya bergetar

 

Spontan ia pun mengikuti istrinya untuk sujud syukur, berterima kasih atas takdir Allah yang sampai kepadanya saat itu dan seketika terlintas di benak Yayat, pidato Sahabat Nabi Abu Bakar As Shidiq saat diangkat sebagai khalifah pertama, 

 

"Wahai manusia! Aku telah diangkat untuk mengendalikan urusanmu, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antaramu. Maka jikalau aku dapat menunaikan tugasku dengan baik, bantulah (ikutlah) aku, tetapi jika aku berlaku salah, maka luruskanlah! Orang yang kamu anggap kuat, aku pandang lemah sampai aku dapat mengambil hak dari padanya. Sedangkan orang yang kamu lihat lemah, aku pandang kuat sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya. Maka hendakklah kamu taat kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya, namun bila mana aku tiada mematuhi Allah dan Rasul-Nya, kamu tidak perlu mematuhiku. Berdirilah (untuk) shalat, semoga rahmat Allah meliputi kamu."

 

Air mata takut dan tawadhu membasahi lantai bekas Yayat serta Jamila saat bersujud kepada Allah tadi. Begitu pun semua orang yang ada di TPS, mereka yang telah memilih semakin yakin akan pilihannya.

***

 

Dimas Jayadinekat, penulis skenario freelance di TVRI dan beberapa rumah produksi; sutradara film pendek. Juga aktif menulis sebagai konten kreator di media online. Bukunya yang sudah terbit berupa buku motivasi Rahasia Nekat serta novel online Mencintai Pelakor.