Menyusul wafatnya Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur, sejumlah tokoh dan publik Lebanon menyempatkan diri untuk mendatangi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beirut, Lebanon, guna memberikan ucapan bela sungkawa. KBRI Beirut memang membuka buku duka cita sejak hari wafatya Gus Dur, namun warga Lebanon baru berdatangan ke KBRI usai libur panjang Natal dan tahun baru.
Tercatat pengisi pertama buku duka cita adalah delegasi dari Tajammu’ Ulama Lubnan atau Liga Ulama Lebanon, sebuah organisasi yang menyatukan seluruh ulama dari sekte Syiah dan Sunni Lebanon. Dalam testimoninya, mereka mengungkapakan duka yang mendalam atas wafatnya seorang tokoh dan pemimpin umat Islam dari negeri terbesar berpenduduk muslim sedunia.<>
Selanjutnya delegasi dari Global University of Beirut dan sejumlah Duta Besar asing di Beirut memberikan ungkapan duka citanya termasuk diantaranya Dubes Spanyol, China, Philipina, Chile, mesir dan Iran yang bertugas di Lebanon. Beberapa masayikh/ulama Lebanon menyempatkan membacakan surat alfatiha untuk Almarhum usai menulis duka cita.
KBRI Beirut sendiri telah menyelenggarakan Shalat Ghaib dan pembacaan tahlil yang diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia di Lebanon yang terdiri dari keluarga besar staff KBRI, mahasiswa, para pekerja informal hingga pasukan TNI yang tengah bertugas di Lebanon Selatan (Pasukan Garuda). Bertindak selaku Imam shalat ghaib adalah Seikh Tarrek Lahham MA, dosen fakultas syariah Global University-Beirut.
Acara yang dilaksanakan sebelum perpindahan tahun baru itu juga diisi dengan pembacaan biografi Gus Dur oleh ketua Pengurus Cabang istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Lebanon, M. Zainal Aziz, dilanjutkan penayangan film tentang prosesi pemakaman di Jombang dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Seikh Dr Abdurrahman Ammas, seorang ulama Sunni Lebanon. (nam)