Warta

Pemimpin Arab Masih Berkutat dalam Perselisihan

Selasa, 12 Oktober 2010 | 02:40 WIB

Jakarta, NU Online
Harapan akan terbentuknya persatuan di dunia Islam tampaknya masih jauh panggang dari api. Dalam pertemuan Liga Arab di Sirt, Libya, para pemimpin Arab masih belum menemukan titik temu atas isu-isu penting di kawasan tersebut.

Sebagaimana dilaporkan oleh Al-Jazeera, ada tiga agenda utama dalam pertemuan tersebut, yaitu masa depan perundingan Palestina-Israel, reformasi Liga Arab serta kemungkinan dilibatkannya Iran dan Turki dalam per<>temuan-pertemuan Liga Arab.

Terkait perundingan Palestina-Israel, Komite Tindaklanjut mengeluarkan pernyataan dukungan terhadap Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, untuk tidak menggelar perundingan dengan pemerintah sayap kanan Israel pimpinan Benyamen Netanyahu. Namun hal itu tidak disetujui oleh sejumlah negara. Beberapa negara menyarankan dicarinya alternatif lain, namun itu pun tidak cukup jelas bentuknya.

Sejumlah negara juga bersilang pendapat terkait isu keamanan dan perdamaian. Syria, Libya dan Yaman menggap isu perdamaian tidak begitu relevan untuk saat ini dan menekankan pentingnya dunia Arab mengambil posisi yang lebih kuat dalam dunia finansial (Barat). Sementara Saudi Arabia, Yordania dan Mesir kembali mengukuhkan pendapatnya bahwa satu-satunya solusi untuk melahirkan dukungan international atas perdamaian di Timur Tengah adalah dengan melibatkan Amerika.

Namun yang paling memicu silang pendapat adalah usulan Sekretaris Jendral Liga Arab, Amir Musa, agar Liga Arab mengundang pemain-pemain kunci di kawasan untuk terlibat dalam pertemuan-pertemuan Liga Arab, khususnya Iran dan Turki. Sontak sejumlah negara, terutama Arab Saudi dan Mesir, tidak menyetujuinya. Banyak negara Arab masih memandang Iran bukan sebagai teman melainkan sebagai musuh.

Selain sikap politiknya yang anti-Amerika serta pernyataan-pernyataan pedasnya terhadap sesama negara Arab, Iran tidak begitu diinginkan kehadirannya di forum-forum Liga Arab karena posisinya yang beraliran Syiah. Arab Saudi dan Mesir sering menuduh Iran berusaha mengembangkan aliran Syiah di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.

Padahal di Indonesia, NU yang Sunni terbiasa bekerjasama dengan Iran yang Syi'i, demi terciptanya ukhuwah islamiyah diantara masyarakat muslim dunia. (vic)


Terkait