Daerah

Tentara dan Polisi Sampaikan Materi pada Diklatsar Ansor

Sabtu, 7 Juli 2018 | 12:30 WIB

Mojokerto, NU online
Pengurus Anak Cabang (PAC) Gerak Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Gondang, Mojokerto, Jawa Timur mengadakan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar). Kegiatan berlangsung di Desa Gumeng, Kecamatan Gondang mulai 6 hingga 8 Juli.

Pemateri pada kegiatan ini tidak semata dari Ansor dan Banser serta NU, juga polisi dan tentara turut memberikan wawawasan. Bahkan para kader diberikan ijazah khusus untuk menjaga tubuh dari senjata tajam.

Menurut Ketua GP Ansor Kabupaten Mojokerto, Ali Mohamad Nasih, tempat yang digunakan untuk pelatihan merupakan bekas daerah gerilyawan pejuang Kolonel Jhon Bambang Djoewono pada tahun 1948 lalu. Hal ini terbukti dengan adanya monumen tugu kemerdekaan di desa tersebut.

"Alasan panitia mengambil tempat pelatihan karena desa ini pernah diluluh lantahkan oleh Belanda saat mengejar pejuang Kolonel Jhon Bambang Djoewono,” katanya, Sabtu (7/7). Peristiwa itu terjadi 31 Desember 1948, lanjutnya. 

Memilih kegiatan di tempat tersebut bukan tanpa palasan. “Kita dari panitia berharap sikap dan karakter cinta tanah air dari para pahlawan tertanam dalam diri kader Ansor. Dulu merebutkan kemerdekaan dan sekarang tugas kita mengisi dan mempertahankan," jelasnya. 

Pria yang biasa dipanggil Gus Ali ini menambahkan, Diklat diikuti 101 pemuda dengan menerima sejumlah materi pelatihan standar. Hal yang disampaikan  meliputi ideologi NU, tradisi NU, kesigapan Banser, propoganda, halang rintang, kemiliteran dan terakhir gemblengan kebal peluru dan bacok dari kiai sepuh yang didatangkan khusus.

"Diberikan ijazah khusus untuk menjaga tubuh dari senjata tajam. Untuk pemateri atau instruktur yang mengisi yakni dari Satkorwil Ansor Jatim, TNI, Polri dan dibantu Satkorcab Mojokerto," ujarnya.

Dengan materi yang disampaikan, Gus Ali berharap lulusan dari pelatihan dapat bermanfaat bagi umat dan NU. Apalagi ke depan Ansor dihadapkan pada tahun politik. 

“Saat itu banyak orang yang tidak suka dengan NU terus menyerang nahdliyin secara membabi buta. Seperti ada yang mulai lagi menyoroti Islam Nusantara,” ungkapnya.

Menurutnya, Ansor hadir menjaga NU dari pihak luar yang akan merusak, terutama memastikan keamanan para kiai. “Selanjut, Ansor bertugas mempertahankan NKRI. Sesuai amanat para kiai dan ijtihad KH Hasyim Asy'ari yang menyebutkan mati membela tanah air adalah syahid,” ungkapnya.

Suasana masyarakat di lokasi sangat mendukung. “Karena mereka tahu niat baik Ansor untuk Indonesia, karenanya banyak yang member tempat menginap dan makanan untuk peserta,” tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Ibnu Nawawi)


Terkait