Senin, 20 Mei 2013
Language :
Find us on:
Terbaru
Rabu, 01/08/2007 02:47
DATUK H ABDURRAHMAN BIN DATUK HAJI MAHMUD
Beliau lahir pada tahun 1907 di Loloan Barat dengan nama Muhammad Qasim dalam keluarga Ulama Bugis-Melayu Loloan. Ketika kecil Abdurrahman belajar agama dari kedua orang tuanya, namun menginjak usia 10 tahun beliau dikirim ke daerah Pengastulan untuk mengaji Al-Qur'an kepada Tuan Guru Abdul Hamid hingga berusia 18 tahun. Pada tahun 1925 Datuk Haji Mahmud mengirimkan Muhammad Qasim remaja ke Jazirah Arabia, tepatnya ke kota Suci Mekkah yang waktu itu memang menjadi tempat tujuan belajar bagi masyarakat Islam Nusantara. Di kota Mekkah beliau bermukim di kediaman Syeikh Isa Palembang yang sudah menjadi penduduk tetap kota Mekkah dan belajar berbagai disiplin ilmu agama dari sejumlah ulama besar yang mengajar di sana. Diantara guru-guru beliau adalah Syeikh Alwi Al-Maliki, Syeikh Umar, Syeikh Hamdan al-Maghrabi serta seorang ulama besar ilmu hadits asal Palestina.
Ahad, 01/07/2007 15:45
BUYA KH ABDUL GANI LATIF
Ketika tentara Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, Sekolah Tinggi Islam ditutup. Masyarakat diarak untuk mengikuti kerja rodi (paksa). Seperti pemuda-pemuda lain, Buya Abdul Gani Latif mengikuti latihan militer di Kandang Empat Pariaman untuk kepentingan Jepang. Tahun 1946, Buya dengan pangkat Letnan Dua ditugaskan sebagai staf Resimen VI. Karir sebagai orang militer tidak berlanjut. Namun tahun 1950 Buya Gani meninggalkan tugas militer, beralih sebagai guru agama. Lahir tahun 1920 di desa Siteba Nanggalo (sekarang kawasan perumahan dan pasar) Kota Padang. Sebagai orang Minangkabau, Buya Gani (begitu akrab dipanggil), menyandar gelar pusako Malin Mudo, sekaligus kepala waris dalam k
Jumat, 01/06/2007 16:15
RACHMAT MULYOMISENO
Waktu itu pemerintah Hindia Belanda membuat formasi sosial yang diskriminatif. Orang-orang kulit putih Eropa sebagai kelas satu, sementara kelas duanya adalah Timur asing yakni Cina, Arab dan India, mereka mendapat kedudukan istimewa dari Belanda baik secara politik terutama secara ekonomi. Sementara kelas proletarnya adalah yang disebut Inlander (pribumi) yang secara ekonomi dan politik dipinggirkan, mereka menjadi miskin, karena diisap bahkan diperbudak. Paradigma itu yang kemudian dibalik oleh Bung Karno. Langkah itu bukan diskriminatif tetapi sebagai penerjemahan dari sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Tidak sedikit tokoh yang menentang gagasan revolusioner itu termasuk tokoh Lekra Pramoedya Ananta Toer yang katanya pro rakyat, tetapi kali ini atas nama non diskriminasi membela pemilik modal untuk menjarah desa. Aktor yang ditampilkan Bung Karno dalam menggerakkan kebijakan yang nasionalistis dan populis itu adalah tokoh dari Partai NU yang dikukuhkan sebagai Menteri Perdagangan yaitu Drs H Rachmat Mulyomiseno. Dikeluarkanlah peraturan pemerintah (PP) No.10 tahun 1959. Dengan penuh antusias, Rahmat menjalankan Peraturan pemerintah tersebut melarang warga negara asing (Cina, Keling, Arab, Jepang, dll.) untuk menetap di desa-desa dan kecamatan-kecamatan. Mereka hanya dibolehkan bertempat tinggal di ibukota  kabupaten. Dengan cara ini para warga negara asing (WNA) hanya boleh berusaha di kota kabupaten, sementara desa dan kecamatan terbebas dari mereka. Peraturan tersebut jelas diterapkan untuk melindungi usaha pribumi. Kalau pengusaha Timur Asing yang selama ini mendapat hak istimewa dari Belanda dibiarkan, akan melindas usaha pribumi, karena mereka kuat dari segi modal, fasilitas, dan jaringan.
Selasa, 01/05/2007 08:51
H NUDDIN LUBIS
Politik memang tidak ada sekolahannya, karena sekolahannya di lapangan. Kalau pun terpaksa belajar politik di sekolah paling banter hanya akan menjadi ilmuwan politik atau sekadar pengamat politik, tidak dengan sendirinya menjadi politisi. Bagi seorang politisi, politik itu bukan sesuatu yang dipikirkan dan dilihat saja, tetapi sesuatu yang duterjuni, digumuli sebagai panggilan hidup. Dari situ banyak muncul tokoh politik yang matang dan berkeperibdian seperti Nuddin Luibis, dengan pengalaman lapangannya mampu memimpin partai dari tingkat lokal hingga nasional. Tokoh yang dikenal sangat vokal dan teguh pendirian itu lahir di desa Roburan Mandailing Natal (Madina), 25 November 1919. Namun jangan heran kalau politisi yang sangat kondang pada zamannya itu hanya tamatan Madrasah Aliyah di pesantren Mustofawiyah Purba Baru Tapanuli Selatan. Dengan semangat belajar yang tekun serta talenta kepemimpinannya yang tinggi ia berhasil  mendongkrak karirnya sebagai politisi yang matang dan dihargai kawan maupun lawan, karena itu posisi sebagai ketua partai dan wakil ketua DPR/MPR cukup lama dipercayakan kepadanya. Dengan posisinya itu banayak persoalan nasional yang diselesaikan. 
Ahad, 01/04/2007 10:22
AHMAD AL-HADI
Lahir pada tahun 1899 dari pasangan Kyai Dahlan Falak dan Nyai Ummu Kulsum Semarang dengan nama Ahmad. Semasa nyantri di Jamsaren, Kyai Idris Jamsaren memberikan julukan "al-Hadi" kepadanya sehingga ia pun dikenal dengan nama Ahmad al-Hadi. Disamping belajar kepada Kyai Idris, Ahmad muda juga pernah menuntut ilmu kepada sejumlah ulama besar tanah Jawa seperti Kyai Umar Sarang, Kyai Abdullah Termas, Kyai Khalil Bangkalan, Tuan Syeikh Jembrana [Bali] dan Kyai Hasyim Asy`ari. Ahmad al-Hadi juga pernah beberapa tahun menuntut ilmu di kota Mekkah sebelum akhirnya pulang ke Indonesia setelah Hijaz mengalami kekacauan besar akibat meletusnya revolusi Wahabi. <
Kamis, 01/03/2007 14:01
TAUFIQUL HAKIM
Siapa sih yang tidak ingin bisa memahami tulisan-tulisan berbahasa Arab secara baik dan benar? Tidak ada yang bisa meragu, kitab suci Al-Qur’an dan teks-teks hadits Nabi serta sebagian besar khasanah keislaman disuguhkan dengan bahasa dan tulisan Arab. Ada yang berlebihan bahkan menyebut bahasa Arab sebagai bahasa surga. Akan tetapi melihat huruf-huruf yang kelihatan ruwet dalam kitab-kitab kuning atau kitab gundul itu orang menjadi ngeri. Yang menakutkan lagi, jika orang ingin bisa berbahasa Arab harus mengeram berlama-lama di pesantren, sampai tua dan tidak sempat menikah. Orang harus belajar ilmu nahwu, memutar-mutar harakat sampai ngelu; harus belajar ilmu sharaf yang menegangkan saraf, satu kata dibolak-balik menjadi puluhan kata, puluhan makna. Banyak yang ketakutan bahwa bahasa Arab adalah bahasa tersulit di dunia.
Kamis, 04/01/2007 19:00
Kiai Hasan Basri Said
GELAR akademis yang sekarang ini dikejar-kejar banyak orang sekolahan ternyata tidak penting bagi Kiai Hasan Basri Said (71), salah seorang kiai yang hingga kini tetap setia mengamati pergerakan benda-benda langit; menggeluti disiplin keilmuan paling unik di pesantren, ilmu falak. Bagi Kiai Hasan Basri, model pendidikan yang berorientasi pada gelar itu tidak akan memberikan kebanggaan apa-apa. Ilmu yang berorientasi pada gelar dan kelulusan tidak akan bisa dinikmati sebagai ilmu itu sendiri karena pastinya tidak akan ada inovasi; tidak ada penemuan baru. Lihat bagaimana orang sekolahan hanya berputar-putar pada pakem dan target materi yang sudah baku. Lalu lihat bagaimana para sarjana yang hanya bersibuk dengan urusan teknis: bagaimana ilmunya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan penghidupan, mencari dan memperbanyak uang. Bukankan seharusnya sebuah ilmu itu mandiri dan tidak goyak oleh apapun jua, apalagi sekedar uang. Biarkan ilmu itu terus berkembang untuk mencapai suatu peradaban yang setinggi-tingginya.
Kamis, 31/08/2006 12:00
H. Mashudi:
Berkesenian di bawah suatu lembaga politik tentu tidak mudah, apalagi jika partai politik tersebut berlandasan keagamaan. Tetapi itulah persoalan yang dihadapi Mashudi ketika aktif di Lesbumi. Kesulitan itu makin bertambah ketika para seniman itu diharuskan mengembangkan apresiasi di lingkngan jamaah yang terdiri dari masyarakat biasa. Pekerjaan itu sangat sulit, tetapi justeru di tengah kesulitan itu nilai estetika ditemukan, sehingga kesenian yang dihasilkan jauh lebih kompleks  dan dalam, ketika dibutuhkan sublimasi dan abstraksi. Kesenian tidak hanya membutuhkan keindahan tetapi juga mebutuhkan kiat mengatasi berbagai rintangan, agama, ideologi dan selera massa, sehingga menjadi seni yang bisa dinikmati dan diterima masyarakat. Mashudi yang telah mencapai 76 tahun adalah salah seorang tokoh Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) yang saat ini masih hidup. Tokoh yang lahir di Ngawi Jawa Timur 1932 itu adalah anak dari H Abdullah Sarvin. Memperoleh pendidikan dasar hingga sekolah menengah di kotanya, Ngawi. Walaupun di kota itu dikenal dengan sangat kuat kelompok abangannya, tetapi Masyhudi hidup di Kauman (kominitas santri). Dari lingkungan itu ia belajar agama dari keluarganya dan para kiai setempat yang dikenalnya.
Sabtu, 17/06/2006 17:43
KH Muchith Muzadi
Mukadimah Walaupun NU secara salah kaprah disebut sebagai organisasi tradisional yang selalu diasosiasikan sebagai organisasi yang tidak pernah berubah dan konservatif dalam pemikiran, namun dalam beberapa dekade belakangan ini kalangan NU mewarnai kancah pembaruan pemikiran Islam lebih menonjol ketimbang organisasi yang menamakan diri sebagai pembaru. Pergulatannya dengan khazanah keilmuan klasik itu yang membuat mereka intensif melakukan kajian Islam, sebagai upaya mencari relevansi. Di situlah pembaruan tradisi dimulai untuk mencari perspektif pemikiran baru yang lebih relevan dengan kondisi zaman.
Sabtu, 17/06/2006 17:43
Dr. K.H. A. SAHAL MAHFUDH
Kiai Sahal merupakan tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren. Pesantren sebagai bentuk lembaga pendidikan tertua di Indonesia dengan segala subkultur dan kekhasannya, telah membentuk pribadi dan karakter Kiai Sahal. Meskipun oleh sebagian kalangan pesantren sering dikritik sebagai identik dengan kekolotan, keterbelakangan, tradisionalisme, jumud, dan seterusnya, ternyata dari sana muncul kader-kader bangsa dengan integritas moral yang tinggi, memiliki basis tradisi yang bail;, dan mampu beradaptasi dengan modernitas. Pesantren dengan segala kelebihan dan kekurangannya ternyata mempunyai kontribusi yang tidak sedikit dalam mewariskan nilai-nilai dan kearifan hidup. Bahkan, kekayaan tradisi keilmuan pesantren yang ditransformasikan secara benar, dipandang sementara kalangan sebagai modal untuk menghadapi dinamika hidup dan modernitas. Membaca riwayat hidupnya, kita akan segera dapat menyimpulkan bahwa seluruh kehidupan dan aktifitas Kiai Sahal selalu terkait dengan dunia pesantren. Pesantren adalah tempat mencari ilmu sekaligus tempat pengabdiannya. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan ilmu fikih tidak pernah diragukan. Dia bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, tapi juga aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi terhadap problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Kiai Sahal bukan tipe seorang kiai yang terus berada di "singgasana" dan acuh dengan perkembangan sosial ekonomi masyarakat. Rintisan pengembangan ekonomi masyarakat (petani) di sekitar pesantrennya, bukan saja telah menyatukan pesantren dan masyarakat, tapi juga menunjukkan kepedulian yang tinggi dalam
Sabtu, 17/06/2006 17:43
KIAI MUNASIR ALI
Ketika memberikan sambutan pada Muktamar NU ke 29 di Cipasung 1994 Kiai Munasir mengatakan bahwa dirinya betul-betul orang yang tak tahu diri, sebab di usia yang ke 70 tahun  masih berambisi menjadi Ketua panitia Muktamar, yang semestinya itu bagian anak muda. Karena ambisi saya itu maka proses regenerasi tersumbat. Padahal sudah selayaknya orang setua saya ini mengundurkan diri dari jabatan apapun dan menyerahkan pada yang muda karena lebih enerjik  dan lebih berpengalaman, sementara saya ini sudah ketinggalan jaman. Sambutan Ketua panitia itu mendapat sambutan gemuruh dari hadirin, sebab hadirin tahu bahwa Kiai Munasir sedang menyindir Presiden Soeharto yang hadir dalam Muktamar itu. Yang dengan kekuasaannya yang tak terbatas berusaha mengintervensi NU  dengan mendongkel kepemimpinan Abdurrahman Wahid, serta menawarkan tokoh yang dijadikan bonekanya. Tentu saja prakarsa itu ditentang keras oleh mayoritas NU, bukan karena Gus Durnya tetapi demi kemandiriannya sebagaimana diamanatkan oleh khittah.
Sabtu, 17/06/2006 17:43
Subchan ZE
Krisis yang datang selalu menguji kualitas masyarakat dan individu, ketika krisis terjadi keadaan nyaris tak terkendali, semua mengalami disorganisasi dan disorientasi. Hanya individu dan masyarakat yang benar-benar dewasa dan matang yang tidak terseret dalam krisis sebab mereka relatif bisa mengendalikan diri, tidak terjerumus dalam sikap anarki atau melakukan amuk massa yang beringas. Orang yang teruji dalam krisis akan muncul sebagai tokoh, ia akan dijadikan panutan, karena memiliki orientasi yang jelas, pemikiran yang cerdas, serta integritas moral yang kuat. Dari pimpinan seperti itu diharapkan akan bisa menerobos dari kungkungan krisis yang dialami selama ini. Dengan adanya pengujian berat semacam itu tidak mungkin pemimpin karbitan bisa bertahan dan tidak mungkin kader cangkokan bisa menjadi panutan. Tipe semacam itu telah menjadi korban utama krisis, sehingga kehadirannya hanya menjadi sampah, untuk mengatasi krisis butuh pemimpin yang matang dan memiliki integritas yang jelas.
Sabtu, 17/06/2006 17:43
Kiai Haji Achmad Syahri
Ketika Nahdlatul Ulama menjadi partai politik (1954-1984), ada satu nama penting yang tidak dapat dipisahkan dengan roda kegiatan sekretariat jenderal PBNU. Bahkan empat tahun sebelum NU menjadi partai politik sendiri setelah keluar dari Masyumi, tokoh ini sudah terlibat dengan kegiatan PBNU, sejak kantornya masih di Jalan Menteng Raya 24 A hingga di kantor Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat. Tokoh tersebut tidak lain adalah Kiai Haji Achmad Syahri-kini berusia 79 tahun dan tinggal di Kota Bekasi. Selama hampir 40 tahun bergumul dengan tugas-tugas seketariat jenderal, H.A.Syahri sangat kaya dengan pengalaman berharga yang tidak dimiliki pemimpin lain. Apalagi saat ini tinggal dia yang masih hidup, maka nyaris dia ibarat perpustakaan hidup tentang NU dan ke NU-an. Mereka yang ingin mendalami tentang NU, baik peneliti dalam maupun luar negeri, maka Kiai Syahrilah yang menjadi nara sumber yang sangat patut dimintai berbagai keterangan yang diperlukan.
Sabtu, 17/06/2006 17:43
H.Imron Rosyadi SH
Sejak awal NU merupakan organisasi social keagamaan yang bersikap pluralis, bayangkan berapa banyak kader di luar NU direkrut oleh organisasi ulama. Ini bukan hanya kekurangan sumber daya manusia, tetapi dilandasi pada sikap yang melihat semuaa elemen bangsa yang berprestasi dan bermoral sebagai warganya, karenanya bisa diajak berkiprah di NU. Namun demikian tidak berarti NU tidak memiliki kader sendiri yang memumpuni, banyak sekali diantaranya adalah Mr. Imron Rosyadi, yang menjadi salah seorang ketua dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama -PBNU- ketika organisasi ini masih menjadi partai politik (1954-1984). Perjalanan hidup Imron Rosyadi penuh liku-liku, dia adalah anak seorang pimpinan pesantren, di sanalah ia mulai belajar, kemudian mulai mengenyam pendidikan gaya Belanda, kemudian mendalami pelajaran agama di Irak, di sana ia banyak belajaar berbagai pengetahuan sejak politik, kebudayaan dan juga agama, tetapi yang ditekuninya adalah bidang hukum, dari sana ia mendapatkan gelar Meester in de Reechten (MR) yang di Indonesiakan menjadi Sarjana Hukum (SH), melalui ujian persamaan di Universitas Indonesia. Dengan pengalamannya itu ia menjadi pribadi yang tegas dan mandiri.
Sabtu, 17/06/2006 17:43
Drs. Zamroni
Di awal kebangkitan orde baru, siapa yang tidak mengenal nama Mohammad Zamroni. Nama mencuat sejak tahun 1965 hingga 15-20 tahun kemudian dalam kancah perpolitikan Indonesia. Namun,kemudian tiba-tiba dia tenggelam ditelan zaman karena memegang teguh idealisme, ia enggan larut dalam tuntutan pragmatisme politik. Sementara teman seangkatannya pada menduduki posisi penting dalam kekuasaan, karena menjadi pendukung Golkar, sementara ia tetap di Partai NU dan kemudian bergabung bersama PPP, yang saat itu menjadi partai oposisi paling potensial dalam melakukan kontrol terhadap kekuasaan. Dengan sikapnya yang konsisten itulah perjuanggannya tidak dihargai oleh rezim orde baru, berbeda dengan temannya yang menjadi penopang rezim itu bisa menikmati kekuasaan, namun dengan menggadaikan idealisme mereka, dan bersedia amenjadi aparat untuk merepresi rakyat, pembelenggu kebebasan. Sebaliknya Zamaroni menentang rezim represifitu, karenanya ia disingkirkan dari kekuasaan, seperti layaknya bukan seorang tokoh yang pernah berjasa pada republik ini. Padaahal ia seorang ketua umum PB PMII yang sekaligus menjabat sebagai ketua Kesatuan Akasi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang menumbangkan orde lama dan menegakkan orde baru.
Sabtu, 17/06/2006 17:43
KH Muhammad Dahlan
Walaupun dikenal sebagai organisasi tradisional, bukan berarti dalam NU tidak ada pembaruan, justeru tampilnya NU sendiri sebuah gerakan pembaruan di lingkungan kaum santri. Organisasi sendiri adalah fenomena modern, karena itu di dalamnya secara otomatif akan mendorong terjadinya berbagai perubahan, dan motor gerakan pembaruan yang sangat menonjol di samping KH Wahid Hasyim adalah Kiai Muhammad Dahlan. Kalau Kiai Wahid membolehkan hakim wanita, maka dalam NU Kiai Dahlan mempelopori berdirinya organisasi Wanita NU yakni Muslimat, bahkan dengan kegigihannya akhirnya bisa meyakinkan Kiai Hasyim Asyari dan Kiai Wahab Hasbullah yang akhirnya didukung seluruh Nahdliyin. Ketika menjabat Menteri Agama (1967-1971), Kiai Dahlan yang memelopori musyawarah antarumat beragama untuk menjaga kerukunan sesamanya. Ia pula yang berjasa mengangkat ribuan guru-guru agama melalui Ujian Guru Agama (UGA) paska peristiwa 1965 sebagai konsekuensi semakin disadarinya bahwa berkembangnya ajaran komunisme akibat kurangnya pelajaran agama di sekolah-sekolah. Putera Pasuruan ini pula yang memprakarsai penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Quran tingkat Nasional, sekaligus memelopori berdirinya Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran atau PTIQ.
Ubudiyah
Jumat, 17/05/2013 08:00
Masih umum kita temukan di lingkungan masyarakat awam adanya kepercayaan yang tidak sejalan dengan syariah. Terutama kepercayaan memantang (meninggalkan)...
Rabu, 08/05/2013 10:02
Fiqih mengharuskan siapapun yang mengeluarkan air sperma atau air mani baik karena mimpi basah atau karena bersetubuh dengan istri ataupun karena onani (...
Syariah
Rabu, 15/05/2013 14:00
Apakah Rasulullah saw sudah mengerjakan shalat sebelum diperintahkan (diwajibkan) ketika Isra’ miraj? Jika sudah mengerjakan shalat, bagaimana bentuk...
Selasa, 07/05/2013 12:00
Bagi sebagian orang, wudhu merupakan salah satu laku ibadah yang telah merasuk menjadi rutinitas. Setiap kali bersentuhan dengan air, seketika itu pula ia...
Hikmah
Selasa, 14/05/2013 11:02
Di atas padang pasir yang tandus seorang perempuan berusia nenek-nenek tampak sedang berjalan sendirian. Beban berat tergambar jelas di pundaknya. Sengatan...
Selasa, 07/05/2013 11:06
Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy Syaibani (Imam Hambali) suatu ketika dihampiri perempuan muda yang hendak mencurahkan isi hatinya. Perempuan ini...
Taushiyah
Rabu, 01/05/2013 14:45
KH SAID AQIL SIROJ
بِسْمِ الله، الْحَمْدُ ِلله، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا...
Jumat, 05/04/2013 06:03
PIDATO KEBUDAYAAN
"Tiadakah engkau lihat bagaimana Allah menciptakan metafora tentang 'kalimat yang baik' sebagaimana 'pohon yang baik', akarnya kuat (terhunjam) dan cabangnya...
Khotbah
Kamis, 16/05/2013 12:01
KHOTBAH JUMAT
Rasulullah saw pernah bersabda قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ثَلاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بنفْسِهِ  “Tiga perkara yang merusak yaitu, menuruti kebakhilan, mengikuti hawa nafsu dan megagumi diri sendiri”. Sesungguhnya ketiga perkara itu adalah urusan bathiniyah tetapi jika dibiarkan ketiganya dapat merusak urusan lahiriyah, mulai dari merusak tatanan keluarga, budaya hingga tataran ekonomi.
Kamis, 09/05/2013 09:00
KHOTBAH JUMAT
Rasulullah saw pernah bersabda “Walaupun engkau shalat sampai bungkuk, dan puasa sampai kurus seperti tali tampar, semua itu tidaklah diterima Allah swt tanpa wira’i”. Mengapa konsep wira’i demikian penting? Karena konsep itulah yang dapat menyelamatkan bangsa dan negeri ini dari kebangkrutan.
Space Iklan
225 x 180 Pixel
Space Iklan
625 x 100 Pixel

Android

Blackberry

iPhone
Buletin Jumat
Senin, 27/02/2012 13:00
Secara bahasa Dzikir dapat dimaknai dengan mengingat Allah swt. Makna ini terkesan sangat abstrak sekali, lalu bagaimanakah dzikir itu sebenarnya?...
Polling
NU harus mengembangkan sektor dunia usaha untuk mendorong kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan. Menurut anda, siapa yang harus bergerak
NU sebagai organisasi yang membentuk badan usaha dan menjalankannya
Orang NU saja yang berbisnis, dan mendistribusikan sebagian keuntungannya untuk organisasi
Tidak tahu
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefMei 2013Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
Space Iklan
305 x 120 Pixel
>>> Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email: redaksi@nu.or.id. >>>