Halaqoh
Muktamar NU di Makassar Miliki Peran Strategis
Rabu, 25/11/2009 11:19
Pada masa reformasi ini, kontribusi Nahlatul Ulama (NU) dalam mengembangkan Islam moderat dinilai cukup berhasil. Gerakan yang paling nyata dari Islam moderat NU adalah dengan mempertahankan bentuk negara, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun di sisi lain, NU dinilai belum berhasil mengelola organisasi sebagai sarana pemberdayaan umat. Bagaimana seharusnya NU ke depan? Peran-peran apa yang sebaiknya dimainkan NU pada masa mendatang? Berikut wawancara dengan M. Nasihin Hasan, Ketua PP Lakpesdam periode 2004-2009.
Bagaimana Anda melihat NU saat ini?
Di usia yang sudah memasuki kepala delapan, NU dihadapkan pada persoalan dan tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar organisasi. Tantangan ini semakin kompleks seiring dinamika yang terjadi di dalam organisasi dan perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi sampai saat ini.
Bisa dicontohkan persoalan dan tantangan itu?
Lemahnya sistem kaderisasi dan manajemen organisasi, serta kurangnya merawat jamaah menjadi prioritas dalam perbaikan NU ke depan. Persoalan yang datang dari luar, misalnya menguatnya Islam transnasional yang sudah terang-terangan menggerogoti amaliah ibadah warga NU dan merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagaimana sebaiknya NU ke depan?
NU sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki mandat jangka panjang dalam perbaikan umat menuju kehidupan yang berkeadaban. Perwujudan dari konsepsi ini menghendaki NU serius memperbaiki jam’iyyah dalam kultur dan struktur organisasi dan memperbaiki jamaah dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Dengan kata lain, NU ke depan tidak lagi terus menerus didorong untuk memainkan peran politik kekuasaan yang menonjol dibanding peran diniyah ijtima’iyah sehingga kerja-kerja sosial keumatan relatif tidak berjalan maksimal.
Apa pendapat Anda tentang Muktamar NU ke-32 tahun depan?
Muktamar di Makassar merupakan momentum strategis guna memecahkan beberapa persoalan krusial menyangkut perkembangan dan pemberdayaan jam’iyah ini ke depan. Untuk itulah, muktamar kali ini dapat menjadi langkah strategis dalam menyusun program NU ke depan sebagi blue print atau cetak biru program jangka panjang NU.
Di mana peran Lakpesdam?
Lakpesdam sebagai salah satu lembaga NU mulai dari tingkat PB, PW, sampai PC mempunyai peran strategis dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia NU, terutama yang berhubungan dengan pendampingan kerja-kerja sosial kemasyarakatan sesuai dengan Khittah Nahdliyah 1926. Muktamar ke-32 yang akan datang bagi Lakpesdam menjadi sangat penting terkait dengan pemberdayaan jamaah dan jam’iyah lima tahun kedepan.
Apa yang sedang dipersiapkan Lakpesdam untuk muktamar ke-32?
Lakpesdam sedang melakukan survey kinerja kelembagaan NU dan kebutuhan pengembangan SDM NU. Dalam waktu dekat kita akan mengetahui secara real sejauh mana kinerja kelembagaan NU dari mulai PB, PW, PC dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan pengembangan SDM NU. (*)
Namun di sisi lain, NU dinilai belum berhasil mengelola organisasi sebagai sarana pemberdayaan umat. Bagaimana seharusnya NU ke depan? Peran-peran apa yang sebaiknya dimainkan NU pada masa mendatang? Berikut wawancara dengan M. Nasihin Hasan, Ketua PP Lakpesdam periode 2004-2009.
Bagaimana Anda melihat NU saat ini?
Di usia yang sudah memasuki kepala delapan, NU dihadapkan pada persoalan dan tantangan, baik yang datang dari dalam maupun dari luar organisasi. Tantangan ini semakin kompleks seiring dinamika yang terjadi di dalam organisasi dan perubahan sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi sampai saat ini.
Bisa dicontohkan persoalan dan tantangan itu?
Lemahnya sistem kaderisasi dan manajemen organisasi, serta kurangnya merawat jamaah menjadi prioritas dalam perbaikan NU ke depan. Persoalan yang datang dari luar, misalnya menguatnya Islam transnasional yang sudah terang-terangan menggerogoti amaliah ibadah warga NU dan merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagaimana sebaiknya NU ke depan?
NU sebagai organisasi sosial keagamaan memiliki mandat jangka panjang dalam perbaikan umat menuju kehidupan yang berkeadaban. Perwujudan dari konsepsi ini menghendaki NU serius memperbaiki jam’iyyah dalam kultur dan struktur organisasi dan memperbaiki jamaah dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan politik. Dengan kata lain, NU ke depan tidak lagi terus menerus didorong untuk memainkan peran politik kekuasaan yang menonjol dibanding peran diniyah ijtima’iyah sehingga kerja-kerja sosial keumatan relatif tidak berjalan maksimal.
Apa pendapat Anda tentang Muktamar NU ke-32 tahun depan?
Muktamar di Makassar merupakan momentum strategis guna memecahkan beberapa persoalan krusial menyangkut perkembangan dan pemberdayaan jam’iyah ini ke depan. Untuk itulah, muktamar kali ini dapat menjadi langkah strategis dalam menyusun program NU ke depan sebagi blue print atau cetak biru program jangka panjang NU.
Di mana peran Lakpesdam?
Lakpesdam sebagai salah satu lembaga NU mulai dari tingkat PB, PW, sampai PC mempunyai peran strategis dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia NU, terutama yang berhubungan dengan pendampingan kerja-kerja sosial kemasyarakatan sesuai dengan Khittah Nahdliyah 1926. Muktamar ke-32 yang akan datang bagi Lakpesdam menjadi sangat penting terkait dengan pemberdayaan jamaah dan jam’iyah lima tahun kedepan.
Apa yang sedang dipersiapkan Lakpesdam untuk muktamar ke-32?
Lakpesdam sedang melakukan survey kinerja kelembagaan NU dan kebutuhan pengembangan SDM NU. Dalam waktu dekat kita akan mengetahui secara real sejauh mana kinerja kelembagaan NU dari mulai PB, PW, PC dalam melaksanakan tugas dan fungsinya dalam memenuhi kebutuhan pengembangan SDM NU. (*)
Komentar(1 komentar)
Senin, 30/11/2009 21:51
Nama: TAIDnu SEGERA PERGI DARI POLITIK
SANGAT SETUJU, sebenarnya NU lebih mampu membentuk kader, hanya NU gak mampu mengakomodir kadernya, shg banyak yg di pelihara untuk membesarkan ormas lain. hebatnya sejak dulu NU selalu berani dengan penguasa baik jaman penjajahan maupun set merdeka krn teguh dalam Islam. kedepan cobalah orang2 NU bukan "Nahdlatul ulama" tapi Nunut Urip "Numpang Hidup" segera sadar untuk kembali merenungi perjuangan Islam yg sesungguhnya. shg tak ada lagi Ka. Sekolah, Rektor dan jabatan lain yg seumur hidup. pensiun menunggu ditarik oleh Allah. Jangan lepaskan kader spt: sutrisno bakhir, Din samsudin, Yahya muhaimin, rosad saleh yg pernah IPNU itu toh akhirnya di ormas lain ada yg dihujat. kasihan khan. coba tata manaemen kadernya..... percayalah NKRI ttap ada jika NU dan Islam nasionalis masih ada. jangan tiru bangsa arab yg senang bersuku2, bertahan dalam otoriter raja. contohlah Sultan Yogya yg menjunjung nilai2 Islami YG diharapkan masih NU
Space Iklan
625 x 100 Pixel
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Senin, 27/02/2012 13:00
Secara bahasa Dzikir dapat dimaknai dengan mengingat Allah swt. Makna ini terkesan sangat abstrak sekali, lalu bagaimanakah dzikir itu sebenarnya?...
Polling
Space Iklan
305 x 100 Pixel
305 x 100 Pixel
Space Iklan
305 x 120 Pixel
305 x 120 Pixel



Print
Download
Send







Pref

