Berita Terkait
- Selalu Berhati-hati untuk Lepas dari Sabotase
- Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia
- Sekelumit Misteri setelah Terpilih jadi Presiden
- Ternyata 80 Persen Pendapatan Gus Dur untuk Umat
- Gus Dur Islamkan Tradisi Ziarah Kelompok Abangan
- Santri yang Menguji Kewalian Gus Dur
- Kado Istimewa Gus Dur untuk Istri Penjual Duren
- Barokah Salam Tempel Gus Dur
Tags:
300 x 80 Pixel
Jakarta, NU Online
Gus Dur dan Mbah Liem, dikenal sebagai sahabat karib. Kedua kiai besar ini dinilai sebagian orang sebagai kekasih Allah atau para wali. Salah satu hal yang sering mereka lakukan bersama adalah menziarahi makam orang-orang suci.
Sudah bukan rahasia jika dalam berbagai ziarah, Gus Dur sering terlihat seolah-olah sedang berbicara dengan almarhum yang dimakamkan di lokasi tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan, apa memang benar, komunikasi dengan orang yang sudah meninggal bisa dilakukan.
H Mustofa Zuhad Mughni, salah satu ketua PBNU era Gus Dur suatu ketika menanyakan hal ini secara langsung kepada Gus Dur, apa benar orang yang sudah mati bisa diajak komunikasi dan kalau memang bisa bagaimana caranya?
Tentu saja, jawaban sekedar cerita saja belum tentu membuat seseorang percaya. Memberi pengalaman langsung merupakan jawaban yang tak bisa dibantah lagi.
Oleh Gus Dur, ia pun dititipkan kepada sahabatnya, Mbah Liem yang sudah dianggapnya ahli agar tahu bagaimana caranya bisa berkomunikasi dengan arwah.
Kesempatan pun tiba ketika Mbah Liem berkunjung ke Jakarta, Mustofa Zuhad pun diajak Mbah Liem pergi berziarah ke makam pangeran Jayakarta di kawasan Jatinegara di tengah malam buta yang sangat sepi.
Begitu sampai di makam, ia mengikuti tahlil yang dibaca oleh Mbah Liem dan berbagai bacaan dzikir lain yang dibaca dengan suara keras. Suasana malam yang dingin ini semakin mistis ditengah kuburan yang sepi ini. Ia pun terus mengikuti bacaan dzikir sampai seolah-olah kehilangan kesadaran atau mengalami trance.
Ditengah suasana seperti itu, tiba-tiba saja ia merasa punggungnya dipukul oleh Mbah Liem dengan keras sambil berteriak “Goblok kamu!”
Ia pun terkaget-kaget dan kembali pada kesadaran, dan menyadari bahwa keinginannya mengetahui dunia arwah telah gagal. Setelah tenang, ia pun menanyakan kenapa tidak bisa masuk dunia alam kubur.
“Menurut Mbah Liem, ini ibarat radio, frekuensi gelombangnya tidak cocok sehingga tidak nyambung,”
Entah mengapa, ia tidak lagi diajak ziarah lagi oleh Mbah Liem untuk mengobati rasa penasarannya. “Tapi pengalaman dengan Mbah Liem ini tak kan terlupakan,” katanya.
Dua ulama besar yang bersahabat karib ini, Gus Dur dan Mbah Liem, telah kembali ke haribaan Allah. Jasa-jasa mereka tak kan terlupakan oleh umat, terutama warga NU.
Penulis: Mukafi Niam
MEMOHON PENGGANTI
Ya ALLAH... aku hambamu memohon, agar engkau mengganti/ciptakan yang lebih banyak hamba yang suci-suci(Seperti mbah Liem ) yg telah engkau panggil. amin....
rindu mbah liem
kangen mbah liem...
doa tuk mbah liem
Semoga husnul khotimah, dan berkumpul dengan para kekasih Alloh amien....
Mbah Liem
Saya sebagai santri beliau Mbah Liem (alm.) dan keluarga besar Ponpes. Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten mengucapkan banyak terimakasih khususnya kepada keluarga PESANTREN PETA Jakarta dan semua yg telah mendoakan beliau, meskipun telah wafat semoga ajaran beliau tetap hidup.
Innalillahi wainna ilaihi raajiuun
Turut berduka cita atas wafatnya KH.Imam puro dalam usia 91 tahun,, semoga beliau amal ibadahnya diterima allah swt, dari kami keluarga PONDOK PETA Jakarta Halaqoh Sunter dan Jabodetabek
625 x 100 Pixel
305 x 100 Pixel
305 x 120 Pixel



Print
Download
Send






Pref

