Ahad, 19 Mei 2013
Language :
Find us on:
Nasional 
SETENGAH ABAD LESBUMI
Gus Mus: Dimana Pemerintah Saat Film Nasional Terpuruk?
Selasa, 17/04/2012 07:17

Tags:

Space Iklan
300 x 80 Pixel

Jakarta, NU Online
“Ketika masyarakat mengadukan keluhan-keluhannya, dimanakah posisi pemerintah?” ungkap Kiai A. Musthofa Bisri, wakil rais aam PBNU saat menjadi pengantar dalam acara Majelis Musyawarah Nasional Film Indonesia di Lt. 8 Gedung PBNU, Kamis (12/4).

Majelis Musyawarah Film Indonesia digagas oleh NU Online dan Lesbumi. Mereka mengundang segala pihak yang terkait dengan dunia perfilman di Indonesia. Para sineas, pengamat film, aktor, persatuan artis film Indonesia, dan perwakilan pemerintah dalam perfilman, turut serta pada acara penting ini.

Segenap insan film dan pihak terkait hadir untuk mengkaji persoalan yang terjadi di dunia film Indonesia. Sejumlah isu segera mengemuka. Persoalan mutu, keberpihakan pemerintah, unsur nilai dan pendidikan dalam film, dunia industri film, 

Alex Komang, Wakil Ketua Lesbumi mengemukakan persoalan kontestasi tayang film Indonesia di bioskop. Baginya, film Indonesia kini banyak sekali yang bagus. Hanya saja, film-film nasional yang berkualitas ini memerlukan outlet untuk bisa dinikmati oleh masyarakat film Indonesia.

Porsi film Indonesia yang tak seimbang dengan penayangan film-film asing, membawa dampak yang serius bagi industri film Indonesia. Kesempatan tayang film-film Indonesia yang tak kalah kualitasnya dengan film asing, semakin kecil. Tak ayal, para penggarap film di tanah air, banyak yang mengalami kesulitan untuk itu.

Alternatif sementara adalah pemutaran film di luar gedung-gedung bioskop. Komunitas film Lintang Sanga misalnya, memutar film-film Indonesia di gedung atau aula di perkampungan. Mereka bahkan pernah memutar film di gedung NU Jawa Tengah kala gedung-gedung pertunjukan tak mengizinkan penayangan film yang kontroversial.

Keadaan demikian, tidak boleh berlangsung terus. Mau sampai kapan film Indonesia tertatih-tatih? Pemerintah dan segala pihak terkait mesti mengambil sikap serius demi perkembangan film nasional.

Kalau masyarakat sudah mengadukan keluhan-keluhan semacam ini, saya selalu mencari-cari pemerintah. Jangankan “Posisi Film Nasional di Indonesia” (tema diskusi Majelis Musyawarah Film Indonesia), saya sendiri mempertanyakan posisi Indonesia di Indonesia? sindir Gus Mus disambut tawa para peserta diskusi.



Redaktur: Mukafi Niam
Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel

Android

Blackberry

iPhone
Buletin Jumat
Senin, 27/02/2012 13:00
Secara bahasa Dzikir dapat dimaknai dengan mengingat Allah swt. Makna ini terkesan sangat abstrak sekali, lalu bagaimanakah dzikir itu sebenarnya?...
Polling
NU harus mengembangkan sektor dunia usaha untuk mendorong kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan. Menurut anda, siapa yang harus bergerak
NU sebagai organisasi yang membentuk badan usaha dan menjalankannya
Orang NU saja yang berbisnis, dan mendistribusikan sebagian keuntungannya untuk organisasi
Tidak tahu
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefMei 2013Next
MngSenSelRabKamJumSab
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 
Space Iklan
305 x 120 Pixel
>>> Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email: redaksi@nu.or.id. >>>