Judul Buku : Meluruskan Vonis Wahabi : Bantahan terhadap Buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”
Penulis : Nur Hidayat Muhammad
Penerbit : Nasyrul ‘Ilmi Publishing
Cetakan : I, April 2012
Tebal : XIX + 300 Halaman
Peresensi : Masduri*)
Kemunculan buku “Hadis Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia” karya Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Yusuf memunculkan keresahan mendalam. Lantaran banyak hadits-hadits tersebut digunakan oleh mayoritas umat Islam Indonesia, secara khusus kaum Nahdliyyin, sebagai hujjah dalam amal ibadahnya sebab terdapat fadhilah. Sebagai wujud kehati-hatian dalam menilai suatu hadits, sebab kita semua memang tidak tahu, apakah hadits yang kita anggap dha’if atau bahkan palsu bukan dari Rasulullah, masih ada kemungkinan hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah.
Bagaimana natinya, jika hadits tersebut benar dari Rasulullah, kemudian kita dustakan. Maka jalan terbaik yang diambil oleh ulama ahlussunnah waljama’ah dengan mengamalkan hadits dh’aif sebagai kehati-hatian dengan tidak menisbatkan bahwa hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah, sebab belum tentu hadits tersebut dari Rasulullah. Kenapa hadits dha’if diamalkan, sebagai upaya menjaga kemungkinan bahwa hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah. Buakankah sebuah dusta besar jika kemudian hadits yang nyata-nyata dari Rasulullah, kemudian kita anggap sebagai hadits yang bukan dari Rasulullah. Karenanya, sebagai kehati-hatian untuk mejembatani dua kemungkinan, maka jalan terbaik dengan tetap mengamalkan, hadits dha’if tetapi tidak dinisbatkan kepada Rasulullah, kalaupun itu salah pelakunya tidak berdosa, sebab tidak menisbatkan tindakannya pada Rasulullah. Juga sebagai kehati-hatian siapa tahu hadits tersebut benar-benar dari Rasulullah.
Sebab itu, kemunculan buku ini, mencoba meluruskan salah paham yang dilakukan oleh Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Yusuf dalam bukunya “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia”. Banyak sekali kerancuan dalam buku tersebut, ringkasnya saya bagi tiga bagian kritik yang diuarikan oleh Nur Hidayat Muhammad di dalam buku ini. Pertama, dalam bukunya, Ahmad Sabiq merasa bahwa hasil ijtihadnya lebih baik dari pada ulama’ yang kapasitas keilmuannya sudah tidak diragukan lagi, serta merasa ilmu haditsnya lebih baik dari para ulama’ besar, termasuk mazhab Syafi’i. Dia juga merasa jika pendapat Salafi Wahabi paling absolut kebenarannya, yang lain tercela dan sesat.
Kedua, banyak hadits yang hanya dha’if atau sangat dha’if dinilai palsu karena mengikuti pendapat Muhammad Nashiruddin al-Albani. Bahkan Ia sering terjebak pada penilai al-Abbani, dan mengindahkan pandangan ulama’ lain yang kreadibiltas keilmuannya lebih mapan. Hadis muaquf yang populer dinisbatkan pada Rasulullah kadang diklaim hadits palsu, padahal pendapat tersebut menyalahi pendapat para ulama’ yang mengatakan bahwa menempatkan hadits mauquf dalam ketegori hadis maudhu’ merupakan kesalahan. Dalam menentukan status hadits palsu, kadang-kadang menggunakan standar karena perawinya pendusta, padahal perawi yang dicurigai pendusta tidak masuk hadits palsu, hanya hadits matruk. Banyak sekali alasan hadits yang dicetuskan sering tidak singkron.
Ketiga, tidak mengindahkan kaidah ulama’ bahwa hadits dha’if yang diamalkan dan dibuat fatwa ulama’ derajatnya semakin kuat. Pula tidak mengindahkan hadits dha’if yang derajatnya terangkat karena terdapat riwayat hadits shahih atau hasan, maka riwayat yang dha’if selalu dikesampingkan, tanpa melihat kaidah ushulul hadits yang disepakati para ulama’. Kadang pula tidak mengindahkan derajat hadtis yang terangkat derajatnya karena banyaknya syawahid.
Lebihnya jelasnya, dalam buku “Meluruskan Vonis Wahabi: Bantahan terhadap Buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Polpuler di Indonesia” pembaca akan diajak oleh Nur Hidayat Muhammad menelusuri secara detail kesalah-kesalahan yang dikakukan Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Yusuf dalam bukunya Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia, dengan bantahan ilmiah dan sumber rujukan yang jelas. Buku ini patut kita apresiasi bersama, sebagai wadah intlektual dalam meluruskan salah paham yang dilakukan kelompok tertentu, tidak seperti kelompok radikalis, yang selama ini sering melakukan cara-cara kekerasan dalam meluruskan kesalahan seseorang.
* Mahasiswa Teologi dan Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya, alumnus Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura Sumene
begitu aja ko repot
kita menanggapi perkataan wahabi ga perlu repot .kita hanya mengajukan dua pertanyaan kepada mereka [wahabi]apakah Nabi naik kendaraan bermotor atau apakah Nabi memakai celana kan jawabnya pasti tidak.
NU OK
Subhaanallah..sebagai warga nahdliyin yg tinggal di pedalaman,kami sangat berharap,ketika i'tiqad warga nahdliyin diserang seperti ini ada pembelanya.
10 Jempol Buat NU
Syukran pak yai... kami haturkan atas kepedulian terhadap kesatuan umat islam ini, mungkin sudah di takdirkan kaum wahabi sebagai pemecah belah islam. saya cuma geleng2 kepala kalonfliat salafy/wahabi ibadahnya getol, quran di hafal, hadist di telen, sholat bacaannya 1 juz tapi kenapa mulutnya bagai singa lapar yg selalu mencari mangsa. semangat KADER ASWAJA !!!
JAYA NU
alhamdulillah masih ada yang mau membagi ilmu nya untuk meluruskan pandangan2 yang salah terhadap hadits rasulullah,,
mengaku modernis tapi klasik dan statia/kerdil
Alhamdulillah.... jika Ilmuwan NU mau bicara ternyata lebih logis mendasar dan lintrik ketimbang klompok-klompok yang mengaku modernis tapi sebenarnya klasik dan setatis - bisanya cuma usil dan mengganggu perkembangan Islam di Indonesia. maju terus..... Para ILMUWAN Nahdliyyin jangan gentar dg klompok Wahabi yg pemikirannya KERDIL
Harus obyektif dan tanpa Taasyuf
Hendaaklah dalam membaca buku itu dengan hati yang bersih sehingga bisa menerima masukan bukanmalah menentang
Ga Soal
Saudara yg dirahmati Allah, Kita tidak perlu mempedulikan meraka (Wahabi) banyak yg di bid'ahkan oleh meraka itu karena meraka tidak bisa, contoh dzikir setelah Adzan, mereka membid'ahkan, bagai mana mereka bisa baca dzikir itu sedang meraka baru belajar ISLAM baca Alqur'an saya yang dibaca Latinnya, cape dechhhhh, Merka (Wahabi) bukan level kita.
to NU
nu yang sudah berumur 89 harus... bangkit....... betul betul bangkit....
NU IS THE BEST
Q bangga dengan warga Nahdliyyin atas penerbitan beberapa buku yang yang menguak sisi vatalitas kaum salafi Wahabi, ayo semangat warga nahdliyyin,tingkatkan kreatifitas kalian,jangan takut dengan Wahabi...kalian pasti menang... semangaaaaaaaaat.....
wahabi provokator sejati
I LOVE U Full NU __
625 x 100 Pixel
305 x 100 Pixel
305 x 120 Pixel



Print
Download
Send






Pref

