Rabu, 23 April 2014
Language :
Find us on:
Warta 
Kasus Ambalat Momentum Perkuat Nasionalisme
Kamis, 17/03/2005 19:21

Jakarta, NU Online
Kasus blok Ambalat hendaknya disikapi secara arif dengan memperkuat nasionalisme yang semakin kehilangan arah. "Perang bukan solusi, bukan saja karena persoalan persenjataan yang kalah dibanding Malaysia tapi sebagai bangsa kita harus bijak agar tidak menambah penderitaan bangsa kita, dan yang perlu kita lakukan sekarang adalah memunculkan nasionalisme yang elegan agar kita sebagai bangsa memiliki martabat dan kedaulatan," demikian ungkap mantan Direktur Badan Intelijen Strategis (BAIS) Ian Santoso Perdana dalam diskusi Bulanan NU Online di Gedung PBNU, Jln. Kramat Raya 164, Kamis (17/3).

Menurutnya, hal ini terjadi disebabkan gerakan globalisasi yang ada sekarang itu meniadakan cinta tanar air, meniadakan nasionalisme, ada banyak nilai-nilai budaya  bangsa kita yang hilang akibatnya kita sebagai bangsa kehilangan jati diri. Kasus Blok Ambalant misalnya yang mencuat akhir-akhir ini bukti dari lemahnya kita sebagai bangsa ketika berhadapan dengan bangsa lain. "Kalau mau jujur, kita sebenanrnya masih dalam belenggu imperialis. Bukan fisik dan ideologi, namun ekonomi dan sosial budaya.

Ditambahkan Ian, ketika serangan budaya yang memakan banyak korban karena salah menginfiltrasikan, teriakan "gayang budaya barat yang tidak cocok dengan budaya ke-timur-an Indonesia" tak pernah diteriakkan. Padahal inilah serangan imperialis yang menggoyang nasionalis Indonesia Asli, hanya wujud imperialisnya saja yang beda. Nasioanalis Ambalat yang ditampilkan sekarang dalam bentuk aksi-aksi dan pembentukan posko "Ganyang Malaysia" di beberapa daerah,  bukan hanya salah arah, namun sangat sempit untuk menjabarkan sebuah arti kata nasioanalis. Sempitnya nasioanalis ini bukan salah masyarakat ketika penjajahan ekonomi liberalis ke penjajahan ekonomi pancasila, katanya, telah berlangsung lebih dari 3 dekade.

Perlawanan neo imperialis bukan hanya dengan menunjukkan semangat patriotistik masyarakat ketika muncul kasus Ambalat. Namun lebih dari itu, banyak neo-neo bambu runcing yang bisa digunakan untuk melawan neo imperialis ini. Mulai dari perlawanan ketergantungan ekonomi sampai perlawanan untuk mengembalikan budaya Indonesia Asli. "Yang penting dilakukan sekarang bangun dulu kekuatan di dalam, kita solid dulu di dalam baru kita maju menghadapi kekuatan apapun," kata Ian Santoso.

Dalam kesempatan yang sama, Mantan Duta Besar Syiria, Chalid Mawardi yang juga sebagai salah satu pembicara mengatakan, sejauh mungkin kita menghindari peperangan dan lebih mengedepankan jalur-jalur diplomasi yang masih terbuka. "Secara yuridis  kita masih memungkinkan menggunakan jalur hukum, karena klaim Malaysia atas Ambalat lemah. Jika merujuk hukum internasional (UNCLOS), RI mempunyai dasar yuridis yang kuat untuk mempertahankan Ambalat karena RI sebagai negara kepulauan yang dapat menarik 12 mil dari kepulauan terluar. Bahkan, dapat menarik 12 mil lagi karena diatur dalam unclose dan hukum laut PBB yakni zona ekonomi eklusif (ZEE) sejauh 200 mil," tegasnya.

Blok ini, lanjut mantan ketua GP Ansor adalah baselines dimana suatu negara mengukur kepentingan batas Teritorialnya, Landas Continen dan Zona Ekonomi Eksklusif. Indonesia sebagai Negara Kepulauan seperti halnya Philipinna diakui dalam hukum laut internasional untuk menetapkan batas sejauh 200 mil dari pulau terluarnya. "Malaysia yang notabene negara pantai biasa hanya memiliki 12 mil pengukuran batas teritorialnya, jadi klaim Ambalat sebagai wilayah Malaysia secara hukum lemah," tegas mantan ketua GP Ansor ini.

Jika kita amati dan teliti berdasarkan hukum ini, blok ambalat tersebut masih merupakan bagian integral kita dari hitungan tersebut. Bahkan sangat mungkin lebih jauh dari Ambalat. "Seperti ulasan 'The Notorious' kita dalam soal hukum internasional "Hasyim Djalal", Ambalat adalah bagian kelanjutan alamiah dari pulau Kalimantan Timur dan sulit dipercaya dalam hitungan ilmiah bahwa Ambalat tersebut adalah kelanjutan dari Sabah karena setelah Sabah kita menemukan Laut Dalam yang lebih dari 12 mil," jelas Chalid.

Ketika ditanyakan soal nasionalisme dalam kasus Ambalat, Chalid mengatakan sikap nasionalisme untuk menjaga negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati yang tidak bisa di tawar, tetapi harus dalam koridor yang tepat, agar tidak salah arah. "Sikap patriotik sebenarnya dalam kasus ini adalah jika kita peduli untuk mengubah orientasi pertahanan, mengurangi korupsi, berjihad dan mempelajari laut kita secara lebih serius, supaya bisa menjaga kepulauan kita dengan baik," tandasnya. (Cih)

 

Komentar(0 komentar)
Space Iklan
625 x 100 Pixel
Buletin Jumat
Kamis, 10/04/2014 16:06
Edisi 118: Jum'at II April 2014
Pada Edisi 118 ini, tim redaksi buletin Nahdlatul Ulama menurunkan tema tentang tawadhu. Yaitu sifat rendah diri yang sekarang makin langka di...
Space Iklan
305 x 100 Pixel
Agenda
PrefApril 2014Next
MngSenSelRabKamJumSab
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
:::: Simak berbagai info NU Online melalui twitter. Follow @nu_online :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi@nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky@nu.or.id atau telepon 021-3914014 ::: Maaf transaksi pembelian via web toko.nu.or.id belum bisa beroperasi karena ada sistem yang perlu disempurnakan ::::